Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
SAGARA : Bangkitnya Sang Dewa Petir

SAGARA : Bangkitnya Sang Dewa Petir

Orela Lyn | Bersambung
Jumlah kata
26.0K
Popular
100
Subscribe
3
Novel / SAGARA : Bangkitnya Sang Dewa Petir
SAGARA : Bangkitnya Sang Dewa Petir

SAGARA : Bangkitnya Sang Dewa Petir

Orela Lyn| Bersambung
Jumlah Kata
26.0K
Popular
100
Subscribe
3
Sinopsis
PerkotaanSupernaturalDewaKekuatan SuperKultivator
​"Dibuang sebagai bangkai, kembali sebagai kaisar badai." ​Disiksa layaknya anjing dan dibuang ke tumpukan sampah oleh keluarga angkatnya sendiri, Sagara seharusnya mati malam itu. Namun, maut justru membangkitkan warisan terlarang dalam darahnya: Inti Petir Langit. ​Kini, ia bangkit dengan kekuatan dewa yang mampu menghancurkan dunia dan meretas dimensi. ​Satu demi satu, mereka yang dulu menginjak harga dirinya harus memilih: Berlutut memohon ampun, atau hangus tak bersisa di bawah amukan petir birunya!
Anak Pungut

“Jangan diam saja, Sagara! Cepat bersihkan sepatu mahalku ini. Pastikan tidak ada noda sedikitpun di sana!”

Lengkingan suara Monik membelah keheningan ruang tengah yang luas. Perempuan itu berdiri angkuh dengan tangan kanan sibuk memainkan ponsel, sementara kaki kanannya yang terbungkus sepatu hak tinggi perak disodorkan ke arah Sagara. Tanpa pilihan, Sagara merendahkan tubuhnya. Ia menekuk lutut di atas lantai yang dingin, membiarkan paha atasnya menjadi tumpuan kaki Monik.

Sagara meraih kain lap lembap dari saku celana pendeknya yang kumal. Dengan jemari yang sedikit gemetar, ia menggosok noda tanah yang sebenarnya nyaris tak terlihat di bagian tumit sepatu tersebut.

“Maaf, Mbak Monik. Ini sepertinya ada sedikit kulit yang terkelupas, bukan terkena kotoran,” ucap Sagara pelan. Kepalanya tertunduk dalam, tidak berani sedikit pun menatap mata kakaknya yang penuh kilat kebencian.

“Jangan banyak alasan! Mana ada sepatu mahal terkelupas, bilang saja kamu malas bersihkannya. Cepat gosok yang benar sampai mengkilap. Kamu itu Cuma kacung di sini, tahu diri sedikit kenapa?” Monik menekankan ujung hak sepatunya ke paha Sagara. Ia sengaja mencari titik saraf yang nyeri hingga Sagara meringis, menahan rasa sakit yang menjalar ke seluruh kaki.

Di sofa seberang, Manda yang sedang asyik memoles kuku-kukunya dengan cat merah darah ikut menimpali. Ia tidak mengalihkan pandangan dari jemarinya sendiri, seolah keberadaan Sagara di ruangan itu tidak lebih berharga dari debu yang ia bersihkan.

“Sudahlah, Kak Mon. Jangan terlalu lama meladeni sampah itu. Nanti bau amis panti asuhannya menular ke baju mahalmu,” celetuk Manda dingin. Suaranya datar namun tajam, menusuk ulu hati Sagara lebih dalam daripada tekanan sepatu Monik.

“Benar juga kata kamu, Manda. Heh, Sagara! Awas saja kalau kamu sampai ngadu ke papa, tak kan kubiarkan kamu bisa bernapas dengan tenang selama kamu hidup. Ingat, kamu dipungut papa dari panti asuhan itu untuk dijadikan kacung bagi kami anak-anak sahnya. Sekarang naik ke atap. Kabel antena televisi di atas sepertinya lepas gara-gara angin tadi. Aku mau menonton siaran langsung malam ini, dan aku tidak mau melihat gambar yang berbintik!” Monik menarik kakinya kasar dari paha Sagara, membuat pemuda itu hampir terjungkal ke belakang.

Sagara berusaha menyeimbangkan tubuhnya sebelum kembali bersuara dengan nada memohon. “Tapi Mbak Monik, di luar sedang hujan lebat sekali. Anginnya juga kencang. Apa tidak sebaiknya menunggu hujannya reda sebentar? Licin sekali di atas, Mbak.”

Sagara menatap ke luar jendela besar yang memperlihatkan langit Jakarta yang kelam. Guyuran air dari langit tampak seperti air terjun yang tumpah, menyapu kaca jendela hingga pandangannya buram.

“Sudah berani membantah rupanya?”

Sebuah suara berat terdengar dari arah tangga. Robi turun dengan langkah kaki yang sengaja dihentak-hentakkan. Pria bertubuh kekar itu langsung menghampiri Sagara dan tanpa peringatan, sebuah tendangan keras mendarat tepat di tulang rusuk pemuda itu.

Bugh!

“Aarrgghhh!”

Sagara terkapar di lantai, mencengkeram dadanya yang terasa seolah remuk. Napasnya tercekat, paru-parunya seakan mendadak kosong dan sulit untuk menghirup oksigen. Rasa amis darah mulai memenuhi rongga mulutnya akibat bibir yang pecah menghantam lantai.

“Masih punya nyali buat protes lagi?” ejek Robi. Ia mencengkeram kerah kaos Sagara yang sudah robek di beberapa bagian, mengangkat tubuh kurus itu hingga ujung kaki Sagara menggantung tidak menyentuh lantai. “Dengarkan aku, bocah sampah sialan! Di rumah ini, kamu tidak punya hak bicara. Ingat posisimu itu Cuma anak pungut. Sekarang naik ke atap atau aku sendiri yang akan mematahkan lehermu!”

Robi melempar tubuh Sagara ke arah pintu belakang seperti membuang sekarung beras busuk. Sagara terbatuk-batuk, berusaha mengumpulkan sisa tenaganya. Ia merangkak dengan payah, merasakan nyeri yang luar biasa di setiap inci tubuhnya. Tidak ada satu pun dari ketiga saudara angkatnya yang menunjukkan rasa iba. Monik kembali pada ponselnya, Manda fokus pada kukunya, dan Robi hanya tertawa meremehkan.

Sagara berdiri dengan tubuh yang lemas, seharian ini dia belum diberi makan. Tenaganya habis untuk melakukan pekerjaan yang tak ada habisnya. Melayani tiga anak kandung orang tua angkatnya yang tak bisa dia bantah dan tolak. Demi balas budi yang mungkin akan dia bawa sampai mati.

Hujan lebat langsung menyambar tubuh Sagara saat ia membuka pintu belakang. Dinginnya air hujan terasa seperti jarum-jarum tajam yang menusuk kulitnya yang hanya terbalut kaos tipis dan celana lusuh. Dengan tangan yang menggigil hebat, ia mulai memanjat tangga besi yang licin menuju dak beton di atap rumah. Angin kencang berulang kali hampir mengempaskan tubuhnya ke bawah, namun Sagara mencengkeram besi tangga dengan kuku-kukunya yang kotor.

Setibanya di atas, pandangannya sangat terbatas. Air hujan masuk ke mata, membuatnya perih dan harus berkali-kali mengusap wajah. Sagara merangkak di atas dak yang tergenang air cukup tinggi, tangannya meraba-raba mencari tiang antena yang bergoyang hebat dihantam angin.

“Di mana kabelnya...” gumam Sagara dengan gigi yang berkeretak karena kedinginan yang menggigit tulang.

Ia menemukan ujung kabel tembaga yang terputus, menjuntai tidak keruan di dekat kotak sambungan sekering utama yang tutupnya sudah lepas akibat hantaman angin. Sagara tidak menyadari bahwa genangan air di bawah tubuhnya telah teraliri arus bocor bertegangan tinggi dari dalam kotak kabel yang terbuka dan terendam air hujan tersebut.

Sagara berhasil meraih tiang besi antena untuk menstabilkan posisinya. Namun, tepat saat jemarinya menyentuh kawat tembaga yang terbuka itu, aliran listrik bertegangan tinggi langsung melompat ke arah kulitnya yang basah kuyup.

“AAAGGGHHH!”

Jeritan Sagara tenggelam dalam deru hujan lebat. Tubuh pemuda itu kejang hebat di atas dak beton. Seluruh urat di leher dan tangannya menonjol luar biasa, sementara matanya terbelalak ngeri dengan pupil yang mengecil.

Rasa sakit yang dirasakan Sagara melampaui batas kemanusiaan. Ia merasa jiwanya seperti ditarik paksa dari raga yang kini bergetar hebat mengikuti frekuensi listrik yang mematikan. Asap tipis mulai mengepul dari kulitnya yang terkena kontak langsung, meski guyuran hujan terus menghujamnya. Sagara tersentak kuat untuk terakhir kalinya sebelum akhirnya tubuhnya terkulai diam, tidak bergerak sedikit pun di tengah genangan air yang masih mematikan.

Di dalam rumah, tiba-tiba seluruh aliran listrik padam total. Lampu kristal di ruang tengah berderak pelan sebelum akhirnya mati. Kegelapan pekat menyergap dalam sekejap, menyisakan kesunyian yang mencekam di tengah deru hujan yang menghantam atap.

“Apa itu?” Monik berteriak histeris, ponsel di tangannya terlepas dan jatuh ke lantai. Tubuhnya gemetar hebat, ia meraba-raba kegelapan dengan napas memburu.

Manda langsung berdiri tegak, napasnya tersengal-sengal. “Kak, kenapa tiba-tiba listriknya padam? Dan kenapa Saga berteriak? Apa jangan-jangan....”

Robi terpaku di tempatnya berdiri. Seringai sombongnya lenyap tanpa sisa. Tangannya yang besar meraba-raba di kegelapan, mencari pegangan pada pinggiran meja. Ketakutan menyelinap masuk ke dalam benaknya saat ia menyadari bahwa sesuatu yang buruk baru saja terjadi.

“Robi, cek ke atas! Cepat!” seru Monik dengan nada suara yang mulai meninggi karena panik.

“Sialan, kenapa jadi begini,sih!” gumam Robi dengan suara parau. Ia melangkah ragu ke arah jendela, mencoba mengintip ke balkon belakang. Keringat dingin mulai membasahi dahinya.

“Bagaimana kalau dia beneran kesetrum, Kak? Papa pasti akan marah besar!”

Lanjut membaca
Lanjut membaca