

Suara deru mesin bus antarkota perlahan menghilang di kejauhan, meninggalkan kepulan asap tipis di tepi jalan raya Desa Gedangan. Matahari sore terasa menyengat kulit, namun seorang pemuda dengan ransel hitam kusam di pundaknya tetap berdiri tenang. Ia menghirup udara desa dalam-dalam, menikmati aroma tanah kering dan pohon jati yang sangat ia rindukan.
"Akhirnya, aku pulang," gumam pemuda itu pelan.
Ia adalah Genta Arjuna, pemuda yang sudah bertahun-tahun merantau dan kini kembali ke gubuk sederhana milik orang tuanya. Langkah kakinya yang tegap menyusuri jalanan setapak yang masih berdebu. Namun, baru beberapa meter melangkah, keningnya mendadak berkerut tajam saat mendengar kegaduhan dari arah rumahnya.
Dari kejauhan, ia melihat kepulan debu di depan halaman rumah bapaknya. Suara teriakan kasar dan tawa sombong memecah keheningan sore itu, merusak ketenangan desa yang biasanya damai.
"Heh, Pak Tua! Cepat serahkan surat tanah ini atau kami akan meratakan gubuk ini dengan tanah!" teriak seorang pria bertato macan di lengannya dengan nada mengancam.
Pak Bambang berdiri gemetar di depan pintu, mencoba melindungi Simbok Siti yang ketakutan di belakangnya. Pagar bambu yang sudah rapuh itu tampak bergoyang karena terus-menerus ditendang oleh anak buah preman tersebut.
"Tolong, Nak. Ini satu-satunya harta yang kami punya untuk anak cucu kami nanti. Jangan ambil rumah kami," ucap Pak Bambang dengan suara serak menahan tangis.
Melihat pemandangan itu, darah Genta Arjuna mendidih seketika. Ia tidak lagi berjalan pelan, melainkan berlari dengan kecepatan yang sulit diikuti mata. Langkahnya sangat ringan, seolah-olah kakinya tidak menyentuh bumi.
"Lepaskan orang tuaku!" bentak Genta Arjuna dengan suara yang menggelegar seperti petir di siang bolong.
Para preman itu menoleh serentak dengan wajah terkejut. Si pimpinan preman tertawa meremehkan melihat sosok pemuda berpakaian kaos hitam polos di hadapannya. "Oho, ada pahlawan kesiangan rupanya. Serang dia sampai cacat!"
Dua orang anak buah preman langsung merangsek maju dengan membawa balok kayu besar. Mereka mengayunkan senjata itu dengan penuh nafsu ke arah kepala Genta.
Wuuushhh!
Genta Arjuna menghindar dengan gerakan yang sangat halus namun mematikan. Ia memutar tubuhnya sedikit, lalu melepaskan satu pukulan telapak tangan tepat ke arah dada lawan pertama.
DHEEEESSS!
Suara hantaman itu terdengar sangat padat seperti besi menghantam kayu. Preman itu terpental lima meter hingga menabrak pohon pisang sampai tumbang seketika. Belum sempat musuh kedua beraksi, Genta sudah melayangkan tendangan berputar yang sangat cepat ke arah rahang bawahnya.
JEDHAAKK!
Preman kedua itu langsung jatuh pingsan di tempat dengan mulut berdarah. Pimpinan preman yang melihat anak buahnya tumbang dalam hitungan detik mulai gemetar ketakutan. Ia baru sadar bahwa pemuda di depannya bukanlah orang sembarangan.
"Si... siapa kamu sebenarnya?!" tanya pimpinan preman itu dengan suara terbata-bata sambil mundur teratur.
Genta Arjuna melangkah maju dengan sorot mata tajam yang mengunci pergerakan lawan. Cahaya batin mulai memancar tipis dari tubuhnya, menandakan bahwa ia adalah seorang Jagoan Asli yang selama ini menyembunyikan identitasnya.
"Aku adalah Genta Arjuna, anak dari pemilik gubuk ini. Dan mulai hari ini, siapa pun yang berani mengusik ketenangan orang tuaku, harus berhadapan dengan nyawaku," ucap Genta dengan suara dingin yang menusuk tulang.
Pimpinan preman itu lari kocar-kacir meninggalkan halaman tanpa berani menoleh lagi. Suasana halaman kembali sunyi dan tenang. Pak Bambang dan Simbok Siti hanya bisa tertegun haru melihat putra mereka telah kembali sebagai pelindung keluarga yang luar biasa hebat.
Gedangan hari ini menjadi saksi. Sang Jagoan telah benar-benar pulang.
Setelah para preman itu hilang dari pandangan, Genta Arjuna segera mengatur napasnya kembali. Aura dingin yang tadi menyelimuti tubuhnya perlahan memudar, berganti dengan senyum tulus yang sangat meneduhkan. Ia meletakkan ransel hitamnya di tanah, lalu berjalan mendekat ke arah kedua orang tuanya yang masih mematung di ambang pintu.
"Bapak... Simbok... Genta pulang," ucap Genta dengan suara yang sangat lembut, jauh berbeda dengan suara menggelegar saat ia menghajar preman tadi.
Simbok Siti adalah yang pertama sadar. Dengan air mata yang mengalir deras di pipinya yang sudah mulai keriput, ia langsung memeluk putra kebanggaannya itu. "Genta... ini beneran kamu, Le? Kamu sudah kembali nak?" tanya Simbok sambil membelai wajah Genta dengan tangan yang gemetar.
"Iya, Mbok. Genta tidak akan pergi lagi. Genta akan tinggal di sini menjaga Bapak dan Simbok," jawab Genta Arjuna sambil mencium punggung tangan ibunya dengan penuh takzim.
Pak Bambang ikut mendekat, tangannya yang kasar menepuk pundak Genta berkali-kali. Meskipun ia seorang pria yang kuat, matanya tidak bisa berbohong bahwa ada rasa haru yang luar biasa besar di sana. "Kamu sudah tumbuh menjadi pria yang gagah, Genta. Tapi, dari mana kamu belajar ilmu bela diri sehebat tadi? Bapak hampir tidak percaya melihat gerakanmu."
Genta hanya tersenyum tipis. Ia belum siap menceritakan rahasia besar di balik pelatihannya selama di perantauan, tentang bagaimana ia terpilih untuk mewarisi tenaga dalam dari Jalur Langit. "Hanya olahraga sedikit saat di kota, Pak. Yang penting sekarang Bapak dan Simbok aman."
Mereka kemudian masuk ke dalam gubuk sederhana itu. Di dalamnya, suasana tetap sama, hangat dan penuh kenangan. Namun, saat Genta duduk di lincak kayu, batinnya merasakan sesuatu yang tidak beres. Ia merasakan ada sisa-sisa energi hitam yang tertinggal di sudut-sudut rumahnya, sisa dari gangguan gaib yang dikirim oleh musuh-musuh bapaknya di masa lalu.
Tanpa sepengetahuan orang tuanya, Genta menggerakkan jari telunjuknya di bawah meja.
Ting!
Sebuah getaran cahaya keemasan yang sangat halus terpancar dari ujung jarinya, menyapu bersih seluruh hawa negatif di dalam rumah tersebut. Seketika, suasana gubuk yang tadinya terasa agak berat menjadi sangat ringan dan wangi.
Simbok Siti tiba-tiba merasa tubuhnya jauh lebih segar. "Lho, kok mendadak badan Simbok jadi enteng ya? Padahal tadi rasanya capek sekali," gumamnya heran.
Genta Arjuna hanya tersenyum sambil menikmati singkong rebus yang disuguhkan ibunya. Dalam hatinya, ia bersumpah. Kedatangannya kali ini bukan hanya untuk melepas rindu, tapi untuk menjadi perisai hidup bagi keluarganya. Ia tahu, preman-preman tadi hanyalah kerikil kecil. Ada kekuatan besar yang sedang mengincar tanah Gedangan, dan ia adalah satu-satunya orang yang bisa menghentikannya.
"Genta," panggil Pak Bambang tiba-tiba. "Hati-hati, Le. Orang yang menyuruh preman tadi itu orang kuat di kota. Namanya Tuan Malik. Dia tidak akan tinggal diam setelah kamu mengusir anak buahnya."
Genta Arjuna mengangguk tenang, matanya menatap tajam ke arah luar jendela. "Jangan khawatir, Pak. Selama kucuran doa Simbok masih ada di samping Genta, tidak akan ada satu pun jagoan yang bisa merobohkan rumah ini."
Malam itu, di bawah cahaya lampu minyak yang berpendar, Genta memulai babak baru hidupnya. Sang Jagoan Asli telah kembali, dan ia tidak akan membiarkan siapa pun merusak kedamaian rumahnya lagi.