Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Sakti Sang Pemikat

Sakti Sang Pemikat

Fithriah Arrahman | Bersambung
Jumlah kata
56.6K
Popular
771
Subscribe
204
Novel / Sakti Sang Pemikat
Sakti Sang Pemikat

Sakti Sang Pemikat

Fithriah Arrahman| Bersambung
Jumlah Kata
56.6K
Popular
771
Subscribe
204
Sinopsis
18+PerkotaanSupernaturalPria MiskinZero To HeroKonglomerat
Sakti Dermawan cuma pemuda desa biasa. Setiap hari bekerja di kebun, hidup pas-pasan, dan punya hobi mandi sambil cuci mata di sungai. Sampai suatu hari, ia menemukan batu misterius yang bercahaya di bawah air terjun. Dibawa pulang, eh, malah hilang. Belum sempat panik, tiba-tiba muncul suara aneh di kepalanya! Sejak itu, hidup Sakti berubah total. Wanita-wanita cantik mulai mendekat tanpa alasan yang jelas, bahkan yang seperti dewi pun ikut tertarik. Sakti bingung, ini berkah atau bencana? Sakti Sang Pemikat, bergenre Supernatural dibalut dengan Komedi Romantis, bukan Novel Vulgar ya. Semoga terhibur!
Bab 1

"Mandi dulu ah," gumam Sakti sambil meregangkan otot otot tubuhnya yang terasa seperti habis diperas oleh sepuluh emak-emak.

Rasa capek setelah seharian berkutat dengan cangkul, lumpur dan panas matahari yang seolah punya dendam pribadi pada Sakti.

Dengan langkah santai yang sebenarnya lebih mirip orang setengah pingsan, tapi berusaha terlihat keren.

Sakti menyusuri jalan setapak menuju sungai langganannya.

Tempat di mana segala penat bisa larut bersama arus, sekaligus tempat di mana, jujur saja, mata Sakti sering olahraga gratis melihat pemandangan yang tidak kalah menyegarkan dari air sungai itu sendiri, yaitu gadis gadis desa sedang mandi sambil bercengkerama.

Sakti ini memang hidup sebatang kara, usia dua puluh tiga tahun, tampan, kuat dan rajin.

Ya, walaupun bagian nakalnya itu kadang lebih dominan daripada akal sehatnya.

Sampai-sampai warga Desa Kemuning sudah hafal betul kalau ada kejadian absurd, kemungkinan besar ada Sakti di radius sepuluh meter dari lokasi kejadian.

Begitu sampai di sungai, matanya langsung berbinar seperti kucing yang melihat ikan asin.

“Wah, lengkap banget hari ini anggotanya,” bisik Sakti sambil cengar-cengir.

Tingkahnya itu yang kalau dilihat orang mungkin dikira habis menemukan harta karun, padahal cuma melihat kumpulan warga desa mandi di sore hari.

Di satu sisi, para bapak dan anak-anak ribut seperti lomba siapa paling berisik.

Sementara di sisi lain para wanita berusaha menjaga jarak, meski tetap saja, hukum alam pandangan nyasar tidak bisa dihindari ke arah tersebut.

Terutama kalau pelakunya Sakti yang matanya jelatan punya radar otomatis.

Tanpa basa-basi, dia langsung membuka baju.

BYUR!

Sakti cemplung ke air dengan gaya berlebihan seolah-olah sedang syuting film laga, padahal yang ada cuma cipratan air mengenai bapak-bapak di dekatnya.

“Hmmm… segarnya!” desah Sakti lebay.

Fahrul yang dari tadi sudah curiga langsung menyeletuk.

“Woi Sakti! Baru datang langsung gaya gayaan kamu, kayak artis sinetron aja!”

Sakti menjawab dengan nada santai seperti sedang berada di pantai.

“Biarin, yang penting bersih, Rul!”

Langsung dibalas oleh Fahrul, pria yang sebaya dengan Sakti. Mereka sahabat, tapi rasa keluarga.

“Bersih apaan? Mata kamu dari tadi muter muter kayak kipas angin rusak tahu nggak!”

Seketika itu juga beberapa orang tertawa dan Sakti dengan santainya menjawab lagi.

“Refleks, Bro! Ini bawaan lahir, bukan settingan!”

Bahkan seorang bapak sampai menyeletuk, “Kalau refleksnya begitu terus, nanti kamu dikira CCTV berjalan! Bisa bahaya tuh!”

Lalu bapak itu menyiram Sakti dengan air.

Sakti kabur sambil tertawa, berenang menjauh, mencari tempat yang agak sepi bukan karena tobat, tapi karena ingin rebahan di air seperti buaya darat yang lagi memikirkan masa depan.

Di bawah pancuran kecil air terjun mini, Sakti mulai menikmati ketenangan, menutup mata, sampai tiba-tiba dia buka lagi karena merasa ada yang aneh.

“Lah, itu apa?” gumamnya ketika melihat ada cahaya dari dasar sungai.

Awalnya dia kira matanya minus karena kelamaan melirik ke sana kesini, tapi setelah dipastikan, ternyata memang ada sesuatu yang berpendar.

Rasa penasarannya langsung naik level dari iseng menjadi nekat tanpa mikir.

Dan tanpa pikir panjang dia langsung menyelam seperti penyelam profesional, padahal napasnya cuma kuat beberapa detik.

Di dasar sungai, Sakti menemukan batu hitam yang bercahaya dan saat disentuh ada sensasi hangat yang menjalar.

Batu itu membuat Sakti merinding setengah takut setengah penasaran.

“Apaan ini, jangan-jangan batu power ranger versi kampung,” pikirnya absurd.

Begitu muncul ke permukaan sambil ngos-ngosan, dia langsung memasukkan batu itu ke saku, pura-pura normal waktu Fahrul teriak.

“Ngapain lama banget, kamu meditasi di dalam air ya?!”

Sakti jawab santai, “Lagi nyari inspirasi!”

Dibalas Fahrul, “Inspirasi jadi ikan goreng?”

"Iya, kalau jadi ikan nggak capek mikir biaya hidup," balas Sakti sekenanya.

Suasana kembali penuh tawa dan Sakti pun ikut bercanda seolah tidak terjadi apa-apa, padahal pikirannya sudah seperti wajan panas penuh tanda tanya mengenai batu hitam itu.

Setelah mandi Sakti terlihat terburu buru, dia malah mengabaikan gadis gadis cantik yang tengah mandi dengan mengenakan kain basahan.

Sampai di rumah, dia langsung mengunci pintu seperti mau menyembunyikan rahasia besar milik negara.

Sakti lalu mengeluarkan batu itu dan menatapnya serius, terlalu serius malah, sampai seperti orang mau mewawancarai batu.

Tapi anehnya, batu itu sekarang cuma batu biasa. Tidak bercahaya, tidak bersinar, tidak juga berubah jadi emas seperti harapannya yang terlalu tinggi.

“Loh? Kok mati lampu?” gumamnyasambil mengetuk-ngetuk batu itu, bahkan sempat ditiup seperti remote TV yang macet.

“Hidup dong, jangan PHP. Sakit tahu kalau gini,” keluhnya kesal, tapi tetap tidak ada reaksi.

Akhirnya Sakti menyerah dan masuk ke kamar untuk ganti baju. Namun saat dia keluar, meja sudah kosong.

“Loh, loh, mana batunya?!”

Seketika Sakti panik, dia mulai mencari seperti orang kehilangan dompet berisi seluruh hidupnya.

Sakti mengangkat meja, membongkar kasur, bahkan melihat ke bawah tikar seolah batu itu punya kaki dan bisa kabur sendiri.

“Ini batu apa tuyul sih?!” gerutunya.

Dia sampai lari ke luar sambil berteriak, “Fahrul?!”

Padahal jelas-jelas tidak ada siapa-siapa di sana.

Sakti kembali ke dalam, mukanya sudah tegang campur bingung.

“Aku kunci pintu, ini batu bisa hilang sendiri. Jangan-jangan batu ini punya KTP dan Kartu Keluarga?” gumam Sakti makin tidak jelas.

Lalu tiba-tiba…

“Hmmm… akhirnya bebas juga.”

Sakti langsung membeku seperti patung yang lupa cara hidup.

“Siapa itu?!” katanya, suara Sakti terdengar gemetar.

Tidak ada jawaban. Beberapa detik hening, cukup lama untuk membuatnya mulai menyesal semua dosa masa kecilnya.

Lalu suara itu muncul lagi, kini lebih jelas.

“Hehe… lucu juga manusia ini.”

Dan yang membuat lebih horor sekaligus absurd, suara itu berasal dari dalam dirinya.

Mata Sakti langsung melotot seperti habis melihat harga cabai naik tiga kali lipat.

“APAAN INI?!” teriaknya sambil mundur sampai menabrak dinding, yang ironisnya tidak membantu apa-apa selain membuat punggungnya sakit.

“Siapa kamu?!” teriak Sakti setengah takut setengah ingin pingsan biar masalah selesai.

Lalu suara itu menjawab santai, seolah-olah ini cuma obrolan biasa di warung kopi.

“Tenang saja Sakti, mulai sekarang kita akan sering bersama.”

Sakti terdiam. Otaknya tiba tiba kosong. Hatinya kacau seperti balon hijau yang baru saja meletus.

Dan satu kesimpulan yang muncul di kepalanya.

“Ya ampun, hidupku yang sudah ribet, sekarang bertambah penumpang gelap pula.”

Lanjut membaca
Lanjut membaca