

" Ayo kita putus, Gar. "
"Kenapa Siska? Aku cinta sama kamu, aku belikan kamu apapun yang kamu, kenapa kamu tiba-tiba minta putus?! Apa salahku?! "
'Bukan aku yang diputusin, sekali lagi, bukan aku yang diputusin' Seorang pemuda 17 tahun berambut hitam pendek mengenakan kacamata minus 1 melirik pasangan berantem yang tidak jauh darinya.
Namanya Arsen, kelas 11 SMA, siswa SMA biasa penyendiri dan tanpa teman.
Dia kurus, tapi badannya tinggi 177 cm.
Dia gak pintar belajar, tapi gak goblok-goblok amat. Dia gak punya pacar, dan juga gak punya orang tua.
Dia anak yatim piatu, orang tuanya meninggal ketika ia berusia 5 tahun, saat ini, dia tinggal bersama kakak perempuannya yang sudah menikah.
"Kamu tanya kenapa aku minta putus?! Oke! Aku jawab! "
"Itu karena kamu selingkuh! Aku tahu kamu selingkuh! Kamu selingkuh sama Refan! Aku lihat kalian berdua ciuman di IG "
"Uhuk! Uhuk! "
Arsen yang baru saja minum sprit langsung terbatuk-batuk keras.
Pasangan yang sedang ribut di belakang kelas itu langsung menoleh ke Arsen, tapi Arsen sudah lebih dulu memalingkan muka sambil menyeka bibirnya dengan punggung tangan.
"Kau ngapain di sini, Arsen?! Kau nguping ya njing?! " laki-laki bernama Tegar, yang satu angkatan dengan Arsen, mendekat, dan membentak marah.
Siska mengikuti, tatapan agak jijik ketika melihat ke arah Arsen.
Arsen tersentak, tapi dia berusaha tenang sambil menekan kacamatanya.
"Gak usah nganjing-anjingin kau Gar, lagian, aku udah di sini duluan sebelum kalian datang, " balas Arsen kesal.
Tegar yang telanjur emosi langsung bergegas mendekati Arsen dengan wajah agresif, dia membungkuk, menjambak rambut Arsen, " Kau ngajak gelud ha, Arsen?! Sinilah, kutanggapi kau anjing! "
"Bajingan! Kau pikir aku mudah dibully ha?! Ayolah sini gelut kita! " Arsen yang lebih emosi pun meraih lengan Tegar, meski kekuatannya tidak terlalu besar, tapi dia berhasil melepaskan rambutnya yang dijambak.
Tanpa ragu, dia menendang dada Tegar, sampai Tegar terdorong mundur, dan mengenai Siska.
Siska terjatuh di pantat, dan menjerit, " Aw! "
Melihat pacarnya jatuh, Tegar ngamuk, dia menoleh ke Arsen, dan meraung, " Kau anjing! Sini kau! "
Arsen menyerbu lebih dulu, tinjunya yang gak seberapa langsung mengenai pipi Tegar, tapi Tegar bergegas memeluk Arsen, dan memukul-mukul punggungnya.
"Ugh! " Arsen menahan nyeri, tapi dia tahu, jika dia kalah, maka dia akan lebih mudah dibully di masa depan, dia tidak ingin kehidupan santai SMAnya suram sementara dia masih kelas 11.
Otaknya bekerja cepat, sambil menahan sakit di punggungnya, dia meraih rambut Tegar, dan menariknya sekuat tenaga.
"Ahh! " Tegar yang rambutnya ditarik langsung kesakitan, dan dengan panik mundur.
Arsen berhasil melepaskan diri, dan menatap Tegar dengan napas terburu-buru.
"Udah! Udah! Jangan berkelahi! " Siska berkata panik sambil menarik lengan Tegar.
Meski dia gak suka ngelihat Arsen, tapi tetap saja, melihat cowok-cowok berkelahi, dia sebagai cewek tetap takut.
"Mati kau nanti Arsen, awas saja kau! " Tegar mengancam dengan wajah sengit, di depan pacarnya, dia gagal mendominasi, Arsen yang dia kira mudah dibully ternyata berani melawannya, tentu saja dia tidak terima!
"Arsen, kau pergi aja sana, jangan buat suasana kami tambah jelek! " bentak Siska keras.
'Gak masuk akal brengsek! Kenapa aku yang harus pergi?! ' Arsen menatap marah ke Siska, tapi dia tahu bagaimana harus mundur.
Siska dan Tegar adalah salah satu siswa extrovert, mereka punya banyak teman dan sirkel. Berbeda dengan Arsen yang hanya punya secuil teman dan suka menyindiri.
Tidak masalah jika dia menyinggung Tegar, tapi jika sampai dia membuat Siska, perempuan yang punya banyak sirkel, benci padanya, maka hari-hari gelap akan menantinya.
Tanpa daya dan penuh amarah, Arsen berbalik, dan berjalan pergi.
"Haha! Banci kau Arsen! Sinilah kalau kau berani gelut lagi! "
"Banci! Huu! Banci! " seru Tegar tertawa memprovokasi.
Arsen mengepalkan tinju, wajahnya muram, tapi langkah kakinya tidak berhenti sedikitpun.
Beberapa saat kemudian, di toilet sudut sekolah yang sepi.
"Brengsek! " Arsen menampar dinding toilet dan mengumpat marah. Walaupun dia penyendiri, dia punya harga diri dan kesombongan tinggi.
Bagaimana bisa dia mentoleri seseorang menghinanya dan membully-nya?
Padahal selama ini dia selalu rendah hati dan tidak berbicara blak-blakan, tapi tetap saja dia kena sasaran amarah tak jelas.
"Bertingkah kuat di depan cewek biar dianggap keren? Haha, labil-labil! " ejek Arsen tertawa marah!
Berbicara tentang pacar, dia tiba-tiba teringat mantan-nya, dia pernah berpacaran, namun hubungan itu hanya berlangsung dua minggu. Alasannya Arsen terlalu cemburu, dan terlalu posesif, sehingga terjadilah ungkapan putus.
"Lupakan masa lalu, Arsen, " katanya menunduk frustasi, punggungnya terasa nyeri, tapi tidak ada yang lebih kosong dari hatinya.
Entah itu di rumah atau sekolah, tidak ada yang bisa dikatakan bahagia, semuanya gelap gulita.
Arsen selesai mencuci muka.
Air masih menetes dari ujung dagunya, membasahi kerah seragam yang ia kenakan.
Ia berbalik badan dan menarik pegangan pintu toilet.
Kriuk...
Pintu terbuka perlahan. Namun, detik itu juga, langkah Arsen terhenti mendadak. Matanya membelalak, menatap lurus ke depan. Tepat di hadapannya, sebuah telapak tangan terulur, seolah-olah sedang bersiap untuk mendorong pintu dari luar.
Jarak mereka hanya tinggal beberapa sentimeter.
"Eh..."
Suara lembut namun bernada kaget itu terdengar jelas. Arsen menengadah sedikit, bertemu dengan sepasang mata yang sama-sama terlihat syok. Itu adalah seorang gadis yang tampaknya tidak menyangka pintu akan terbuka secepat itu.
Kepanikan melanda keduanya secara bersamaan. Karena jarak yang terlalu dekat dan gerakan reflek untuk mundur, keseimbangan Arsen hilang.
Bruk!
Suara benturan keras terdengar saat punggung Arsen menghantam lantai keramik yang dingin. Namun, karena momentum yang tak terduga, tubuh gadis itu ikut terbawa dan jatuh menimpa dada Arsen.
Dunia seakan berhenti berputar sejenak.
Di tengah kekacauan itu, kepala mereka tak sengaja beradu posisi. Dan hal yang paling mustahil pun terjadi, bibir mereka bersentuhan.
Lembut, hangat, dan membuat waktu seakan berhenti tepat di detik itu. Mata mereka saling bertaut, lebar, terpaku dalam kebisuan yang memalukan namun jantung berdegup kencang.
"Ding! Fluktuasi Energi Spiritual terdeteksi, Sistem Surgawi berhasil terinstal!!"
"Ding! Fungsi Login Harian berhasil terinstall! "
"Ding! Senang bertemu dengan anda, host Arsen! "
Detik itu juga, suasana romantis yang tiba-tiba itu lenyap seketika.
Gadis itu sontak mendorong dada Arsen dengan kuat hingga tubuh Arsen terlempar sedikit menjauh. Wajahnya memerah padam, bukan karena malu, melainkan karena amarah yang meluap-luap.
Plak!
Sebuah tamparan keras mendarat tepat di pipi Arsen.
Suaranya nyaring memecah keheningan.
"Kamu ini ngapain sih?! Gila ya?!" bentaknya dengan suara meninggi, matanya menatap tajam penuh kebencian.
Arsen merasakan pipinya sangat sakit, tamparan biasa tidak akan sesakit ini, tapi jujur terasa sakit!
Suara di benaknya barusan masih terngiang-ngiang, namun rasa sakit di pipinya membuatnya sadar.
"Ah... Hancur hidupku..., " ketika melihat siapa yang marah, Arsen merasa hidupnya telah hancur.