Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Saat hujan turun Identitas dewa perangku terbongkar

Saat hujan turun Identitas dewa perangku terbongkar

aksara hujan | Bersambung
Jumlah kata
41.6K
Popular
100
Subscribe
22
Novel / Saat hujan turun Identitas dewa perangku terbongkar
Saat hujan turun Identitas dewa perangku terbongkar

Saat hujan turun Identitas dewa perangku terbongkar

aksara hujan| Bersambung
Jumlah Kata
41.6K
Popular
100
Subscribe
22
Sinopsis
PerkotaanAksiDewaMenantuBalas Dendam
Hujan deras mengguyur Kota Awanesa saat Raka, menantu yang dianggap sampah, dipaksa menandatangani surat cerai dan dihinakan di depan seluruh konglomerat dalam pesta ulang tahun mertuanya. Tak seorang pun tahu bahwa pria yang mereka injak itu adalah Dewa Perang Aksara Hujan, penguasa seratus ribu pasukan bayangan yang ditakuti oleh sembilan negara. Malam itu, di bawah guyuran hujan, dia memutuskan untuk mengakhiri penyamarannya. Mereka yang pernah menghinanya akan membayar mahal dalam badai yang dia ciptakan sendiri.
Surat cerai di tengah badai (1)

Hujan deras mengguyur Kota Awanesa malam ini. Langit gelap gulita, hanya sesekali diterangi kilatan petir yang menyambar tanpa ampun. Air hujan membanjiri jalanan, menciptakan genangan yang memantulkan cahaya lampu kota. Angin berhembus kencang, menampar kaca-kaca gedung pencakar langit. Malam ini terasa berbeda. Seolah langit sendiri sedang berduka atas sesuatu yang akan terjadi.

Di dalam ballroom megah Hotel Bintang Langit lantai 88, suasana justru sebaliknya. Pesta ulang tahun Tuan Darma Wijaya, konglomerat nomor satu di Kota Awanesa, sedang berlangsung meriah. Musik klasik mengalun dari orkes pribadi, denting gelas kristal berisi anggur mahal terdengar di setiap sudut. Para tamu undangan yang semuanya adalah petinggi perusahaan, pejabat pemerintah, dan sosialita kelas atas tertawa lepas sambil berfoto.

Tapi semua kemeriahan itu terhenti seketika. Seluruh pasang mata kini tertuju ke tengah ruangan.

Di sana, seorang pria muda berlutut dengan setelan jas hitam yang sudah lusuh dan basah kuyup. Air hujan masih menetes dari ujung rambutnya, membentuk genangan kecil di lantai marmer Italia yang mengkilap. Namanya Raka. Selama tiga tahun terakhir, seluruh Kota Awanesa mengenalnya dengan satu sebutan: Menantu Sampah Keluarga Wijaya.

PLAK!

Sebuah kertas terlempar dan menghantam wajah Raka. Kertas itu jatuh tepat di hadapannya. Surat cerai.

"Raka, tanda tangan sekarang juga!" bentak seorang wanita cantik dengan gaun merah mahal. Dia adalah Dinda Wijaya, putri sulung Tuan Darma dan istri Raka selama tiga tahun. Wajah cantiknya kini dipenuhi kebencian yang nyata.

"Benar, Kak Dinda! Sampah kayak dia nggak level sama keluarga kita!" sahut seorang pemuda yang berdiri di samping Dinda. Dion Wijaya, adik kandung Dinda. Dia menunjuk Raka sambil tertawa terbahak-bahak. "Cuih! Lihat tuh, bajunya bau got. Pasti habis mulung ya? Kasihan banget deh."

Gelak tawa menggema di seluruh ballroom. Para tamu undangan ikut mencibir. Ada yang menutup hidung dengan sapu tangan sutra, ada yang sengaja mengambil foto untuk dijadikan bahan gosip besok pagi. Di mata mereka, Raka hanyalah aib yang menodai nama besar Keluarga Wijaya.

Raka tidak menjawab. Dia hanya menunduk, membiarkan air hujan dari tubuhnya terus menetes. Tiga tahun. Selama tiga tahun dia diam saat dihina, dipukul, disuruh mengepel lantai, bahkan tidur di gudang bersama tikus. Semua dia tahan demi menepati satu janji kepada wanita tua yang menyelamatkannya di medan perang tiga tahun lalu. Wanita tua itu adalah Nenek Wijaya, ibu dari Tuan Darma. Satu-satunya orang yang pernah baik padanya di keluarga ini.

Perlahan Raka mendongak. Mata yang selama ini terlihat kosong dan pasrah, kini menatap Dinda lekat-lekat. Sorot matanya dalam, seperti jurang tak berdasar. "Kau yakin ingin aku tanda tangan, Dinda?" Suaranya serak, hampir tenggelam oleh suara hujan di luar.

"AKU MUAK!" Dinda berteriak histeris hingga suaranya serak. "Aku muak lihat wajah miskinmu tiap hari! Tanda tangan dan enyah dari hidupku! Aku mau nikah sama Tuan Muda Fernando besok! Dia sepuluh ribu kali lebih baik dari kamu!"

Nama Fernando disebut. Tuan Muda Fernando dari Keluarga Fernando, saingan bisnis terbesar Keluarga Wijaya. Mendengar itu, Tuan Darma yang duduk di kursi utama hanya diam sambil menyesap anggurnya. Dia tidak membela Raka sama sekali. Baginya, Raka memang tidak berguna sejak Nenek Wijaya meninggal setahun lalu.

Semua orang menunggu. Mereka menunggu Raka menangis, memohon agar tidak diceraikan, atau setidaknya marah dan mengamuk. Itu yang selalu dia lakukan selama tiga tahun ini. Diam dan menahan diri.

Tapi malam ini berbeda.

Senyum tipis mengembang di bibir Raka. Bukan senyum pasrah. Bukan senyum sedih. Ini senyum dingin yang membuat suhu di dalam ballroom seolah turun sepuluh derajat. Senyum yang belum pernah dilihat oleh siapa pun di sini. Senyum seorang predator.

Di bawah tatapan ribuan pasang mata, Raka mengulurkan tangan dan mengambil pena emas yang tergeletak di atas meja. Dengan gerakan yang sangat tenang, dia menorehkan tanda tangannya di atas surat cerai itu. Satu goresan. Tegas dan tanpa ragu.

Belum selesai. Setelah tanda tangan, Raka merobek surat cerai itu tepat di tengah menjadi dua bagian. KRAK! Suara kertas yang robek terdengar sangat jelas di tengah keheningan. Lalu dia meremas kedua potongan kertas itu dengan kepalan tangannya hingga hancur menjadi gumpalan kecil.

DUAR! BLARRR!

Bersamaan dengan itu, petir raksasa menggelegar tepat di atas Hotel Bintang Langit. Kilatannya menyinari seluruh ballroom melalui dinding kaca. Lampu di dalam ballroom berkedip, lalu padam sesaat sebelum menyala kembali dengan redup.

"Bagus," Raka bergumam. Meski pelan, suaranya anehnya bergema jelas di telinga setiap orang. "Mulai detik ini, aku Raka, bukan lagi menantu sampah Keluarga Wijaya."

Dia berdiri perlahan. Air hujan dari jas-nya berhenti menetes. Entah kenapa, sosok Raka yang tadinya terlihat kuyu dan menyedihkan, kini memancarkan wibawa yang mencekam. Punggungnya tegak seperti baja. Tatapannya setajam pisau belati, menyapu seluruh orang yang tadi menertawakannya. Dion yang tadinya tertawa, tiba-tiba tercekat dan mundur satu langkah. Tenggorokannya seperti dicekik.

Raka lalu memalingkan wajahnya, menatap lurus ke arah Tuan Darma Wijaya yang duduk di singgasananya. "Tuan Darma," ucapnya. Tidak ada lagi panggilan 'Ayah Mertua'. "Aku titip pesan."

Satu. Dua. Tiga detik berlalu dalam keheningan total.

"Sampaikan pada sembilan keluarga besar yang menguasai Kota Awanesa," suara Raka kini berganti. Berat, dalam, dan dipenuhi kekuatan yang tidak terbantahkan. "Katakan pada mereka... Dewa Perang Aksara Hujan telah kembali."

SEPI.

Hening yang mencekam menyelimuti seluruh ballroom. Nama itu. Gelar itu. Dewa Perang Aksara Hujan. Nama yang tiga tahun lalu mengguncang dunia. Panglima tertinggi dari seratus ribu pasukan bayangan 'Hujan Hitam' yang ditakuti oleh sembilan negara. Seorang legenda hidup yang dikabarkan tewas dalam perang di Perbatasan Utara setelah membantai tiga divisi musuh sendirian.

Dinda pucat pasi hingga bibirnya bergetar. Surat cerai yang diremas Raka terjatuh dari tangannya. Dion jatuh terduduk di lantai, wajahnya tidak ada darah. Tuan Darma Wijaya mencengkeram pegangan kursinya begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Dia tahu. Dia sangat tahu siapa Dewa Perang Aksara Hujan. Karena tiga tahun lalu, dialah yang berlutut memohon agar Dewa Perang itu mau menjadi menantu keluarganya demi menyelamatkan Keluarga Wijaya dari kebangkrutan dan ancaman Keluarga Fernando.

Raka tidak menunggu jawaban. Dia membalikkan badan. Langkahnya tenang saat berjalan melewati kerumunan tamu yang secara otomatis memberi jalan. Tidak ada yang berani menahan. Tidak ada yang berani bersuara. Aura membunuh yang samar terpancar dari tubuhnya membuat semua orang merinding.

Pintu ballroom terbuka otomatis. Bersamaan dengan itu, hujan di luar seolah semakin menjadi. Petir menyambar bertubi-tubi, seolah memberi hormat pada kepergiannya.

Hujan malam ini bukan lagi hujan biasa. Ini adalah pertanda. Pertanda bahwa badai yang selama tiga tahun tertahan oleh sebuah janji, akhirnya dilepaskan. Dan badai itu bernama Raka.

Mulai malam ini, Kota Awanesa akan tenggelam dalam badai balas dendam yang diciptakan oleh Dewa Perang sendiri. Tidak ada yang bisa menghentikannya.

Lanjut membaca
Lanjut membaca