Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Servismu Mantap, Mas Roni!

Servismu Mantap, Mas Roni!

Red Lotus | Bersambung
Jumlah kata
48.9K
Popular
2.8K
Subscribe
792
Novel / Servismu Mantap, Mas Roni!
Servismu Mantap, Mas Roni!

Servismu Mantap, Mas Roni!

Red Lotus| Bersambung
Jumlah Kata
48.9K
Popular
2.8K
Subscribe
792
Sinopsis
18+PerkotaanSupernaturalHaremSupernaturalUrban
Direndahkan lingkungan hingga diselingkuhi pacar, Roni hanyalah teknisi biasa yang menukar waktu dan tenaganya untuk gaji yang selalu habis sebelum akhir bulan. Sampai suatu malam, Roni seharusnya mati karena kecelakaan kerja. Namun saat terbangun, ada sesuatu dari dunia lain yang mengikutinya. Matanya kini berubah. Bukan sekadar mampu melihat menembus kain, tetapi juga aura, penyakit, hingga kegelapan terdalam yang tersembunyi dalam jiwa manusia. Alih-alih menjadikannya misteri untuk dipecahkan, Roni justru menggunakan kekuatan itu untuk membuka peluang. Wanita-wanita cantik dengan posisi penting satu per satu jatuh dalam pelukannya. Tetapi kekuatan besar selalu memiliki harga. Energi dalam tubuh Roni tidak stabil dan terus menumpuk seperti bom waktu. Jika tidak dilepaskan, kematian siap menjemputnya kembali. Hanya melalui pertarungan, Roni dapat menstabilkan energinya. Kini, Roni hanya perlu memilih… bertarung di jalanan kota, atau di atas ranjang.
Bab 1. Kesetrum

Roni mengendarai motornya di jalan raya yang mulai lengang, pukul tujuh malam itu.

Tubuhnya terasa pegal setelah seharian bekerja sebagai teknisi elektronik dan dia masih ambil job sampingan untuk penghasilan tambahan.

Semua itu demi bisa membiayai kekasihnya, Chika yang bekerja sebagai call center di perusahaan yang sama.

Satu tahun hubungan mereka, Roni selalu berusaha memberi tanpa perhitungan untuk wanita yang dicintainya.

Dia selalu menyisihkan uang setiap bulan, bukan hanya untuk kebutuhan pribadinya sendiri.

Roni selalu mengirimkan uang ke Chika untuk membeli paket data, kosmetik atau sekedar jajanan ringan seperti seblak kesukaannya.

Langit malam itu bergemuruh keras seperti hendak turun hujan.

Roni menarik gas motornya lebih cepat hingga matanya terasa perih karena angin yang kencang. Tubuhnya sudah lelah tapi dia harus selesaikan order ini sebelum hujan turun.

"Ada-ada aja cewek jaman sekarang, wajah sudah cantik, alis sudah bagus, masih pengen sulam alis," gerutu Roni mengingat permintaan Chika siang tadi.

"Mana harganya mahal lagi," gumam Roni sambil menggenggam erat stang motornya. "Kan mendingan ditabung tuh duitnya buat persiapan nikah. Ah sudahlah! Namanya aja cewek."

Memasuki kawasan perumahan elit, akhirnya Roni tiba di depan sebuah rumah besar. Dia menekan bel yang terpasang di balik pagar, matanya melihat seluruh area halaman hingga lantai dua.

"Ya Tuhan, semoga Engkau berkenan menitipkan rumah sebesar ini juga padaku," gumamnya sembari menunggu.

Tak kunjung mendapat respon, Roni menekan bel rumah kedua kalinya. Pintu rumah pun terbuka, disusul seorang wanita keluar dengan wajah kesal sambil mengomel.

"Sabar, Mas. Rumahnya ini panjang, aku jalan dari lantai dua sampai hampir terpeleset," keluh wanita berparas oriental dengan roll rambut yang masih terpasang.

"Cari siapa?" imbuhnya lagi sambil berdiri dari balik pintu gerbang.

"Maaf ce, saya teknisi dari Hartono Jaya, mau periksa water heater. Benar dengan rumah Ibu Suzy Olivia ya?" tanya Roni sambil menganggukkan kepala sopan.

"Oalah. Udah ditungguin dari siang, Mas. Kenapa jam segini baru datang sih? Saya kan jadi nggak bisa keluar seharian ini karena nungguin kamu." keluh wanita yang memakai kaos oversize dan hotpant tersebut.

"Maaf ce, saya juga dikasih tugasnya mendadak sore ini, karena ada teknisi yang izin." Roni menjawab sopan sambil menurunkan tangga lipat dan kotak peralatan dari motornya.

Suzy menghela napas panjang, dia mengantar Roni masuk ke rumah dengan langkah cepat. Bagian dalam rumah itu terasa sangat luas, dengan lantai marmer yang dingin di kaki Roni.

"Ya Tuhan gede banget rumahnya. Kapan ya bisa punya rumah segede ini," batinnya sambil mengagumi setiap area yang dilihatnya.

Sambil membawa tangga lipat di pundak dan kotak peralatan yang cukup berat, mereka menaiki tangga ke lantai 2 tempat unit water heater berada.

Napas Roni mulai ngos-ngosan karena beban di tangannya terasa makin berat.

"Haduh, salah satu hal yang paling kubenci dari rumah mewah. Kudu naik tangga." Dahi Roni mulai berkeringat walaupun udara cukup dingin oleh pendingin ruangan, hingga matanya menangkap sesuatu yang tak biasa ia lihat.

Suzy berada tiga langkah di depan Roni dan dari posisinya, Roni dapat melihat dua benda yang bentuknya bulat sempurna di bawah pinggang Suzy.

Hotpant hitam yang dipakainya terangkat lebih tinggi saat kakinya melangkah naik, membuat Roni tak kuasa berkedip.

"Lama nggak ya mas kira-kira perbaikinya? Kalau terlalu malam saya jadi nggak bisa tidur nanti karena harus nungguin kamu," keluh Suzy.

Tak ada jawaban dari Roni.

"Mas!"

Roni tersentak, matanya kembali fokus pada anak tangga. "Kurang tahu juga ce, kan saya harus periksa dulu kerusakannya kenapa."

Suzy membuka pintu kamar mandi di lantai 2. Ruangan itu luas dengan cermin besar dan lantai keramik yang lembab di bawah kakinya.

Roni memasang tangga lipat di depan dinding tempat unit water heater terpasang.

"Ini lampu indikatornya nyala, Mas, tapi airnya nggak panas sama sekali," jelas Suzy sambil menunjuk unit tersebut. "Cepet diperiksa ya Mas."

"Iya ce, saya cek dulu." Roni menjawab dengan enggan sambil menaiki tangga lipatnya.

Setiap anak tangga dia pijak pelan, jangan sampai jatuh dan jangan sampai ada yang rusak. Kalau ada barang pecah, gajinya yang tak seberapa itu akan dipotong lagi.

"Dasar, ini gara-gara Supervisor si perawan tua itu," gerutu Roni dalam hati sambil terus naik dengan kaki gemetar.

"Kalau hanya pasang bracket oke lah bisa cepat. Dia tahu keluhannya water heater, harusnya kan diarahkan besok." Roni menghela napas mencoba berkonsentrasi.

Roni sampai di posisi yang pas, dia membuka penutup water heater dengan obeng, melihat komponen di dalamnya, kabel-kabel rapi, tidak ada yang putus. Elemen pemanas juga terlihat baik.

"Sensor airnya mungkin ya," gumamnya sambil memeriksa lebih dalam. "Hmm, iya nih kayaknya, ini sebabnya."

Tiba-tiba lampu di kamar mandi meredup. Roni berhenti sejenak, melirik ke atas.

Lampu berkedip pelan, terang lagi, redup lagi.

"Ce, ini lampunya kenapa ya?" tanyanya sambil menatap ke bawah, Namun, Suzy sudah tak ada disana.

"Astaga, aku ditinggal?" Roni kembali fokus ke water heater, tapi  ternyata lampu terus berkedip makin cepat hingga kemudian padam total.

Gelap pekat, Roni tidak bisa melihat apa pun.

"Kok malah mati? Jangkrik!”  umpatnya pelan sambil mencoba menjaga keseimbangan.

Tangannya kirinya mencengkeram bodi water heater, berpegangan agar tidak jatuh. Tangan kanannya merogoh saku celana, mencari ponsel untuk menjadikannya senter.

Baru saja Roni hendak menarik ponselnya keluar, lampu tiba-tiba menyala kembali.

BZZZTTTT!

Sontak kejutan listrik bertegangan tinggi menyambar tangan Roni yang masih menyentuh bodi water heater.

Seluruh tubuh Roni kaku seketika, matanya melebar, mulutnya terbuka tapi tidak ada suara yang keluar.

Listrik mengalir dari tangan ke seluruh tubuhnya. Panas dan nyeri seperti ribuan jarum menusuk sekaligus.

DUARR!

Tubuhnya pun terlempar.

Roni jatuh dari tangga dengan punggung membentur keras lantai keramik dan pandangannya langsung gelap.

Di tengah gelap dan kehampaan yang dirasakan Roni, ada sebuah rasa penyesalan yang perlahan muncul.

Ditinggal kedua orang tuanya di usia belia, satu-satunya yang membuat Roni tetap berdiri adalah sosok sang adik yang tinggal bersama neneknya di kampung.

Hingga kemudian di tengah ketidaksadarannya, samar-samar Roni mendengar sesuatu yang tidak begitu jelas.

Lalu, sebuah cahaya menyilaukan muncul mengganti kegelapan pekat sebelumnya. Sosok pria dengan rambut putih yang panjang mendekati Roni.

"Maafkan aku, tapi kamu belum boleh mati," ucap pria itu.

Roni berusaha memahami ucapan tersebut, tapi tak bisa. Hingga kemudian, perlahan sosok pria itu memudar ditelan cahaya.

Tak lama suara lain muncul memanggil Roni.

"Mas! Mas!"

Roni mencoba merespon, tapi tubuhnya tidak bergerak.

"Mas! bangun, Mas! aduh gimana ini," suara itu makin keras, makin panik.

Perlahan, kelopak mata Roni mulai bergerak, cahaya lampu kuning kamar mandi menyilaukan begitu matanya terbuka sedikit.

Roni berkedip beberapa kali, mencoba fokus, wajah Suzy muncul di hadapannya. Ekspresinya panik dengan mata berkaca-kaca.

Roni mencoba menggerakkan jari-jarinya, tangan, kaki, semuanya masih bisa bergerak. Tidak ada yang patah, Hanya pusing dan sedikit nyeri di punggung.

"Ya ampun Mas, kamu kok bisa sampai jatuh sih! yang hati-hati dong Mas kalau kerja, aduh mana saya sendirian di rumah, kan pusing aku ada apa-apa," ujar Suzy bingung.

Roni masih linglung, dia bahkan tak sadar jika baru saja tersetrum hebat. "Maaf ce, saya nggak apa-apa kok."

"Lanjut besok aja gimana—" Ucapan Suzy tiba-tiba tertahan saat matanya tanpa sengaja bertatapan langsung dengan mata Roni.

Penampilan pria itu seketika berubah di matanya.

Wajah tampan, kulit bersih, sebagian helai rambut menutupi dahi dan tubuhnya terlihat begitu ... seksi.

"Ya ce? lanjut gimana?" tanya Roni menunggu lanjutan kalimat wanita yang tiba-tiba membatu di hadapannya.

"Ce!"

Suzy pun tersadar.

"Lanjut ... kan saja mas."

***

Lanjut membaca
Lanjut membaca