Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Kebangkitan Dewa Kanuragan

Kebangkitan Dewa Kanuragan

Red Inferno | Bersambung
Jumlah kata
25.9K
Popular
100
Subscribe
2
Novel / Kebangkitan Dewa Kanuragan
Kebangkitan Dewa Kanuragan

Kebangkitan Dewa Kanuragan

Red Inferno| Bersambung
Jumlah Kata
25.9K
Popular
100
Subscribe
2
Sinopsis
18+FantasiFantasi TimurKultivatorDewa PerangHarem
Lima ratus tahun yang lalu, Jagad Dwipantara bergetar di bawah nama Bara Nanggala—seorang Leluhur Mandraguna yang berhasil mencapai ambang Dewa. Namun, alih-alih naik ke nirwana, ia menemukan kenyataan gelap tentang para dewa dan memilih menghancurkan jiwanya sendiri ke dalam sebuah keris berkarat. ​Kini, keris itu terbangun oleh tetesan darah seorang pemuda bernama Arya. ​Arya adalah "sampah" di Padepokan Teratai Merapi. Terlahir dengan seratus dari seratus delapan Jalur Sukmanya terputus, ia disiksa, dihina, dan dibuang ke dasar jurang yang mematikan. Namun, saat Arya menghembuskan napas terakhirnya, sang legenda tertidur bangkit dan mengambil alih raganya. Dengan tubuh rongsokan yang bahkan kesulitan untuk sekadar bernapas, Bara Nanggala harus memulai segalanya dari nol. Tidak ada tenaga dalam? Ia punya pengalaman bertarung ratusan tahun. Dihina sebagai sampah? Ia akan membuat seluruh tetua padepokan berlutut dengan satu sentilan jari. Ini adalah perjalanan sang mantan dewa bela diri yang kembali menapaki jalan darah dan asmara, membelah langit Dwipantara, dan bersiap memburu para "Dewa" palsu yang dulu menipunya!
Bab 1 Darah Di Dasar Jurang

Angin malam berhembus kencang membelah kabut tebal di pelataran tepi jurang Padepokan Teratai Merapi. Udara dingin seakan menusuk pori-pori kulit hingga ke tulang bersumsum, namun hawa dingin itu tidak sebanding dengan rasa sakit yang meremukkan sekujur tubuh seorang pemuda kurus bernama Arya. Ia tersungkur tak berdaya di atas tanah berbatu.

"Ampun, Kakang Jaka. Aku mohon jangan ambil jatah beras ini. Guru Mada sedang sakit dan beliau belum makan sejak kemarin sore," rintih Arya dengan suara bergetar menahan tangis. Kedua tangannya yang penuh luka memeluk erat sebuah karung kecil berisi beras kusam, melindunginya sekuat tenaga dari hujan tendangan yang terus berjatuhan.

Tiga pemuda berbadan tegap yang mengelilinginya hanya tertawa terbahak-bahak melihat Arya meringkuk seperti cacing kepanasan. Pemimpin mereka, Jaka, meludah ke tanah dengan raut wajah penuh kebencian dan rasa jijik.

"Guru lumpuhmu itu lebih baik mati kelaparan saja di gubuknya, Sampah! Kau dan gurumu yang cacat itu hanya menghabiskan persediaan padepokan kita," bentak Jaka dengan mata melotot tajam.

Kaki kanan Jaka terangkat perlahan ke udara, mulai dilapisi selubung cahaya merah tipis pertanda aliran Prana Alam tahap dasar. Tanpa rasa belas kasihan sedikitpun, tendangan berlapis tenaga dalam itu mendarat telak di dada Arya. Terdengar bunyi tulang rusuk yang patah berderak mengerikan menembus sunyinya malam.

'Sakit sekali... Ya Dewata Agung, apakah jalan hidupku memang hanya diciptakan untuk diinjak-injak seperti ini?' batin Arya merintih putus asa. Darah segar menyembur dari mulutnya, menodai karung beras yang masih ia peluk di dadanya.

Tubuh kurus Arya terpental ke belakang akibat dorongan tenaga dalam Jaka. Tanah tempatnya berpijak ternyata adalah ujung tebing berbatu yang rapuh tergerus air hujan. Bebatuan itu longsor dengan cepat, membuat pijakan tubuh Arya hilang keseimbangan.

"Kakang Jaka! Gawat, anak itu jatuh ke dasar jurang!" teriak Sura, salah satu pesuruh Jaka, dengan nada yang sedikit panik sambil menunjuk ke arah tebing yang kini kosong.

Jaka hanya mendengus kasar, melangkah maju dengan tenang lalu melongok ke bawah tebing yang gelap gulita. Sama sekali tidak ada jejak penyesalan di wajahnya yang congkak. Ia malah merapikan ujung jubah padepokannya.

"Biar saja dia membusuk di bawah sana. Jurang ini dasarnya sangat dalam dan penuh kabut beracun. Pemuda cacat dengan ratusan jalur sukma putus seperti dia pasti langsung hancur berkeping-keping. Ayo kita kembali ke asrama, udara malam ini membuatku lapar," ucap Jaka santai seraya membalikkan badan meninggalkan lokasi.

Sementara itu di bawah sana, tubuh Arya melayang jatuh dengan kecepatan tinggi menembus kabut pekat. Angin berdesing keras bagaikan siulan malaikat maut di telinganya. Kesadarannya mulai memudar seiring dengan rasa sakit yang berangsur kebas.

'Maafkan aku, Guru Mada. Aku tidak bisa membawa beras ini pulang untuk makan malammu. Aku sungguh murid yang sangat tidak berguna...' ucap Arya dalam hati sebelum kedua matanya perlahan tertutup rapat untuk selamanya.

Benturan keras dan mematikan akhirnya terjadi. Tubuh Arya menghantam dasar jurang yang dipenuhi bebatuan cadas tajam dan berlumut tebal. Tulang-tulangnya remuk seketika, nafasnya terhenti bersamaan dengan detak jantungnya yang senyap.

Di tengah keheningan dasar jurang yang mematikan itu, darah dari luka terbuka di dahi Arya mengalir deras membasahi sela-sela batu. Darah segar tersebut terus merayap bagaikan ular merah, hingga akhirnya menyentuh sebuah benda logam tua yang tertancap kokoh di tanah.

"Darah siapakah ini... aromanya sangat amis namun dipenuhi oleh keputusasaan yang begitu pekat," terdengar sebuah suara serak dan kuno yang entah berasal dari arah mana.

Benda logam itu ternyata adalah sebuah bilah keris berkarat yang wujudnya sudah tidak karuan. Namun, begitu darah Arya meresap sepenuhnya ke dalam pori-pori logam usang tersebut, kerak karatnya perlahan berjatuhan. Sebuah pendar cahaya merah gelap mulai berdenyut perlahan bak detak jantung yang baru saja bangkit.

'Tidur yang sangat panjang dan membosankan. Apakah sudah lewat lima ratus tahun lamanya? Atau mungkin sudah seribu tahun?' suara misterius itu kembali menggema dalam relung keheningan.

Cahaya merah dari keris tua itu perlahan menjalar keluar bagaikan sulur tanaman merambat, melilit tubuh Arya yang sudah tak bernyawa. Cahaya mistis itu menerobos masuk dengan paksa melalui luka-luka terbuka di sekujur tubuh pemuda malang tersebut.

Tiba-tiba saja, kelopak mata Arya terbuka lebar. Namun, sorot matanya tidak lagi sayu, ketakutan, dan penuh air mata seperti sebelumnya. Pupil matanya kini memancarkan ketajaman seekor elang pemangsa yang siap mencabik mangsa, membelah kegelapan malam jurang.

'Bocah malang yang malang. Raga lemah dan menyedihkan inilah yang rupanya membangunkanku dari kutukan tidur abadi. Sebagai gantinya karena kau telah membangunkanku, biarkan aku meminjam tempat bernaung ini,' batin sosok agung penjaga keris yang kini mendiami tubuh tersebut.

Pemuda itu, yang kini jiwanya telah digantikan sepenuhnya oleh sang legenda Bara Nanggala, mencoba menggerakkan jari-jarinya. Rasa sakit yang luar biasa dahsyat langsung menyerang seluruh jaringan sarafnya. Ia terbatuk keras, memuntahkan segumpal sisa darah kotor dari paru-parunya ke tanah.

"Astaga naga, raga macam apa ini? Ditiup angin malam saja rasanya mau rontok tulang-tulangku!" keluh Bara dengan suara seraknya, merasa sangat terkejut sekaligus kesal dengan kelemahan mutlak dari tubuh barunya.

Ia memaksakan dirinya untuk duduk tegap, menyandarkan punggungnya yang ngilu pada batu besar di belakangnya. Matanya menatap lekat ke arah keris berkarat yang kini cahayanya sudah memudar, kembali menjadi rupa besi tua biasa yang tak bernilai.

'Seratus dari seratus delapan jalur sukma terputus total sejak lahir? Hebat sekali bocah ini bisa bertahan hidup dan bernafas sampai usia belasan tahun. Pantas saja kau mati dengan mudah hanya karena satu tendangan anak kemarin sore,' batin Bara menganalisa kondisi tubuhnya sendiri dengan rasa takjub yang bercampur miris.

Ingatan demi ingatan milik Arya mulai mengalir deras bagaikan air bah ke dalam kepala Bara. Ia melihat dengan jelas hinaan demi hinaan, pukulan demi pukulan, serta cacian yang selalu diterima Arya selama menjadi pesuruh di Padepokan Teratai Merapi.

Namun, di antara semua ingatan kelam dan menyiksa itu, muncul sebuah memori hangat tentang sosok seorang pria paruh baya pincang. Pria itu menyuapkan sesendok nasi jagung hangat kepada Arya dengan senyuman yang sangat tulus dan menenangkan. Pria itu bernama Guru Mada.

'Jadi, pria tua pincang dan lemah itu yang memungutmu dari jalanan lalu merawatmu layaknya anak kandung sendiri? Di dunia persilatan yang keras dan kejam ini, ternyata masih ada orang bodoh berhati tulus seperti dirinya?' pikir Bara seraya meraba dadanya yang mendadak terasa berdesir hangat.

Bara mencabut keris tua itu dari tanah dengan susah payah, mengandalkan sisa-sisa tenaga fisik yang nyaris habis. Ia menengadah, menatap ke arah tebing tinggi yang diselimuti kabut hitam pekat di atasnya.

"Beristirahatlah dengan tenang di alam sana, Arya. Kau sudah cukup banyak menderita di kehidupan ini," ucap Bara pelan, namun suaranya memancarkan wibawa absolut seorang leluhur mandraguna yang lama tertidur.

Ia mengusap sisa darah yang mengering di sudut bibirnya menggunakan punggung tangan. Tubuhnya memang hancur lebur, namun auranya perlahan mulai berubah menjadi sesuatu yang sangat berbahaya, sesuatu yang tidak akan pernah bisa dipahami oleh pendekar manapun di era ini.

"Mulai detik ini, aku adalah dirimu. Dan Guru Mada adalah guruku yang sah. Aku bersumpah demi langit dan bumi, tidak akan ada lagi manusia yang berani menginjak-injak nama kita di tanah Dwipantara ini," tekad Bara mengakhiri kalimatnya, menyongsong takdir barunya di dunia yang telah banyak berubah.

Lanjut membaca
Lanjut membaca