Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Kartu Penentu Takdir

Kartu Penentu Takdir

sangpenakluk | Tamat
Jumlah kata
67.8K
Popular
788
Subscribe
82
Novel / Kartu Penentu Takdir
Kartu Penentu Takdir

Kartu Penentu Takdir

sangpenakluk| Tamat
Jumlah Kata
67.8K
Popular
788
Subscribe
82
Sinopsis
FantasiIsekaiPertualanganKekuatan SuperZero To Hero
Di dunia Aethelgard, takdirmu tidak ditulis oleh bintang, melainkan oleh Kartu yang kau pegang. Para bangsawan di Menara Spire terlahir dengan Deck Emas yang berisi naga dan sihir suci. Sementara rakyat jelata di bawah tanah? Mereka hanya memegang kartu "Common" yang berkarat, atau lebih buruk lagi—tanpa kartu sama sekali. Kai adalah salah satu yang terbuang. Sebagai budak penambang di Sektor 4, hidupnya hanya berharga selama dia bisa mengayunkan beliung. Tanpa Deck, tanpa masa depan, dan menunggu mati di kegelapan. Namun, sebuah runtuhan tambang mengubah segalanya. Di ambang kematian, Kai menemukan sebuah kartu dari mayat petualang kuno. Kartu itu tidak memiliki gambar naga atau pedang. Kartu itu rusak. Berkedip. Sebuah "Glitch" di dalam sistem dunia yang sempurna. Itu adalah [The Wildcard]. Kartu yang bisa berubah menjadi apa saja. Detik ini bisa menjadi Pedang Dewa yang membelah langit, detik berikutnya bisa menjadi sendok kayu yang tidak berguna. Berbekal kartu yang kacau dan Deck yang ia bangun dari sampah, Kai harus mendaki Menara Spire. Dia tidak bisa mengandalkan kekuatan murni atau uang. Dia harus bertaruh dengan nyawanya, memutar roda nasib, dan berharap keberuntungan ada di pihaknya. Karena di Aethelgard, jika kau tidak menyukai takdirmu... kau harus mengocok ulang kartunya. ***
BAB 1:TANGAN MATI

Kai terbatuk kering, namun tangannya tetap bergerak. Dia mengayunkan beliung berkarat itu sekali lagi, menghantam dinding batu hitam yang keras.

Trang!

Suara logam beradu dengan batu bergema di sepanjang lorong sempit Sektor 4. Itu adalah irama keputusasaan yang tidak pernah berubah selama tiga tahun terakhir.

Kai menyeka keringat bercampur lumpur dari alisnya, lalu melirik sekilas ke arah udara kosong di depannya.

Di sana, sebuah jendela transparan melayang—sebuah antarmuka sistem yang hanya bisa dilihat oleh dirinya sendiri.

--------------------------------------------------

[Nama: Kai]

[Level: 1 (Belum Bangkit)]

[HP: 45/50 (Lelah)]

[Aether: 2/10]

[Current Deck: 0 Kartu]

--------------------------------------------------

"Kosong," gumam Kai, menatap notifikasi itu dengan tatapan mati. "Sialan."

Di dunia Aethelgard, seorang pria tanpa Deck posisinya lebih rendah daripada budak. Dia hanyalah sumber daya. Baterai bernyawa. Dan dilihat dari getaran halus yang mulai meretakkan dinding terowongan hari ini, Kai merasa masa kedaluwarsanya sebagai sumber daya sudah hampir habis.

"Hei, tikus tambang! Berhenti melamun!"

Sebuah cambukan angin menyambar punggungnya, menyengat kulitnya yang kotor. Kai meringis, bahunya menegang, tapi dia tidak berani berbalik untuk melawan.

Grom, sang mandor Orc, berdiri menjulang di belakangnya. Di tangan kanannya yang hijau dan berotot, sebuah kartu persegi panjang bersinar dengan cahaya merah redup yang mengancam.

Itu adalah kartu [Whip of Agony]. Rarity: Common.

Bagi para bangsawan yang hidup nyaman di Menara Spire di atas sana, kartu itu mungkin hanya sampah. Tapi di lubang tambang sedalam ini? Kartu itu adalah hukum mutlak.

"Target harianmu kurang tiga keranjang kristal Aether," geram Grom. Taring bawahnya yang kuning berkilau di bawah cahaya lentera yang redup. "Kau tahu aturannya, Nak. Tidak ada kuota, tidak ada makan malam."

"Urat nadi Aether di dinding ini sudah kering, Bos," jawab Kai pelan, mencengkeram gagang beliungnya lebih erat agar tangannya tidak gemetar. "Kami butuh izin untuk menggali lebih dalam ke Zona Merah."

Grom tertawa. Suaranya kasar, mirip gesekan dua batu gerinda. "Zona Merah? Kau mau memberi makan Tikus Tanah Raksasa dengan tubuh kurusmu itu? Terserah kau. Tapi dengar ini... kalau keranjang itu tidak penuh saat bel berbunyi..."

Si Orc mengangkat kartunya tinggi-tinggi. Cahaya merah di kartu itu memadat, membentuk wujud fisik berupa cambuk energi yang mendesis panas.

"...aku akan menggunakan kulitmu untuk menggosok sepatuku."

Kai hendak membuka mulut untuk memohon, tapi kata-katanya tertelan kembali.

Tanah di bawah kaki mereka bergetar hebat.

Itu bukan getaran gempa biasa. Itu adalah sentakan vertikal yang kasar, seolah raksasa di dalam perut bumi sedang meninju langit-langit. Gigi Kai beradu keras.

BOOM!

Langit-langit gua di kejauhan runtuh. Ledakan debu memenuhi lorong, disusul suara gemuruh yang paling ditakuti setiap penambang—suara batu dasar yang bergeser. Ribuan ton batu sedang jatuh.

"Runtuhan!" teriak seseorang di kegelapan.

Wajah hijau Grom memucat seketika. Dia langsung membatalkan kartu cambuknya dan menarik kartu lain dari sabuknya dengan panik—kartu yang bersinar dengan warna biru kehijauan.

[Swift Step].

Tanpa mempedulikan para pekerja yang mulai berteriak histeris, Grom mengaktifkan kartunya. Angin puyuh energi menyelimuti tubuh besarnya. Dia berbalik dan melesat lari menuju pintu keluar dengan kecepatan yang tidak manusiawi, meninggalkan jejak angin di belakangnya.

"Tunggu! Jangan tinggalkan kami!" teriak Kai, mengulurkan tangan.

Tapi terlambat. Pilar penyangga utama tepat di sebelah Kai retak.

Suaranya nyaring seperti tembakan meriam.

Kai mencoba lari, tapi lantai batu di bawah kakinya amblas. Dunia berputar. Kegelapan menelannya bulat-bulat. Sensasi jatuh bebas itu hanya berlangsung dua detik, tapi rasanya seperti selamanya, sebelum akhirnya tubuhnya menghantam tanah keras dengan suara gedebuk yang memuakkan.

***

Sakit.

Hanya itu yang ada. Rasa sakit yang murni, putih, dan menyengat.

Kai terbatuk kasar, memuntahkan debu dari paru-parunya. Dia mencoba menggerakkan kakinya, tapi rasa nyeri yang tajam menjalar dari rusuk kirinya, membuatnya mengerang.

--------------------------------------------------

[Peringatan Sistem!]

[Fall Damage Terdeteksi.]

[HP: 12/50]

[Status: Cedera Kritis (Kecepatan Gerak -50%)]

--------------------------------------------------

"Hebat," desis Kai di sela gigi yang terkatup, mencoba mengatur napasnya yang pendek. "Belum mati, tapi hampir."

Dia meraba-raba dalam kegelapan pekat. Udara di sini lembap, berat, dan berbau jamur tua. Dia pasti jatuh ke celah alami jauh di bawah lapisan tambang Sektor 4.

Tangannya menyentuh sesuatu yang dingin. Bukan batu.

Tulang.

Kai tersentak mundur, menahan napas. Matanya perlahan mulai terbiasa dengan kegelapan abadi itu. Di depannya, bersandar pada dinding gua yang basah, duduk sebuah kerangka manusia.

Sisa-sisa armor kulitnya yang compang-camping menunjukkan bahwa dia—atau dulunya dia—adalah seorang petualang yang tersesat. Kain jubah yang sudah membusuk, sabuk kulit yang putus, dan botol kosong.

Tapi bukan itu yang menarik perhatian Kai.

Tangan kerangka itu masih mencengkeram sesuatu di dadanya. Sebuah kartu.

Di dunia Aethelgard, kartu biasanya kehilangan kekuatan dan hancur menjadi debu jika pemiliknya mati dan kehabisan Mana untuk menjaganya tetap utuh.

Tapi kartu ini berbeda.

Kartu ini... rusak.

Bukan robek secara fisik, tapi rusak secara visual.

Permukaannya tidak menampilkan gambar naga yang agung atau pedang yang tajam. Sebaliknya, gambar di kartu itu berkedip-kedip seperti layar televisi tua yang kehilangan sinyal. Warna emas, lalu ungu, lalu abu-abu kusam berganti-ganti dalam hitungan milidetik. Teks di atasnya berubah-ubah dengan cepat, menampilkan huruf-huruf asing dan kode yang tidak masuk akal, seolah-olah realitas sedang mencoba memperbaiki 'bug' komputer yang fatal.

Jantung Kai berpacu kencang. Instingnya berteriak untuk lari. Benda itu terasa salah. Benda itu terasa berbahaya, tidak stabil, dan liar.

Tapi kemudian, dia mendengar suara lain.

Skreee...

Suara cakar menggaruk batu. Datang dari arah atas, dari tempat dia jatuh tadi.

Kai menengadah. Di kegelapan di atas sana, dua titik merah menyala.

Mata. Mata yang lapar.

Itu bukan tikus biasa. Itu Scavenger Rat. Monster pengerat seukuran anjing besar, dengan gigi depan yang berevolusi untuk mengunyah bijih besi.

Kai melihat HP-nya: 12/50.

Dia tidak punya senjata. Beliungnya hilang saat dia jatuh. Kakinya patah.

"Mati dimakan tikus... atau jadi gila karena kartu rusak," bisik Kai, suaranya gemetar.

Dia tidak punya pilihan.

Dengan tangan yang gemetar hebat, Kai meraih jari-jari tulang kerangka itu dan mematahkan cengkeramannya yang kaku. Dia mengambil kartu yang berkedip-kedip itu.

Begitu kulitnya menyentuh permukaan kartu, sensasi dingin menusuk tulang belakangnya. Bukan dingin es, tapi dingin kehampaan yang absolut.

Sebuah kotak biru muncul di depan matanya. Tapi kotak ini bergetar hebat, dan warnanya berubah dari biru tenang menjadi merah marun yang mengkhawatirkan.

--------------------------------------------------

[ERROR: Kartu Tanpa Tuan Terdeteksi.]

[Memulai Protokol Sinkronisasi Paksa...]

.

.

[Sinkronisasi Berhasil.]

[Selamat! Anda telah mendapatkan Origin Card: The Wildcard (Glitch)]

--------------------------------------------------

Monster tikus di atas sana mendesis, lalu melompat turun dari tebing, taringnya terarah lurus ke leher Kai.

Kai mengangkat kartu itu ke depan wajahnya, satu-satunya perisai yang dia miliki di dunia ini.

"Ayo maju!" teriak Kai parau, menutup matanya. "Tunjukkan apa yang kau bisa!"

Dia meremas kartu itu hingga hancur menjadi serpihan cahaya.

Dunia seakan berhenti berputar.

Lanjut membaca
Lanjut membaca