Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Pertapa Sakti : Godaan Wanita Nakal

Pertapa Sakti : Godaan Wanita Nakal

Masatha | Bersambung
Jumlah kata
28.0K
Popular
249
Subscribe
72
Novel / Pertapa Sakti : Godaan Wanita Nakal
Pertapa Sakti : Godaan Wanita Nakal

Pertapa Sakti : Godaan Wanita Nakal

Masatha| Bersambung
Jumlah Kata
28.0K
Popular
249
Subscribe
72
Sinopsis
18+PerkotaanSupernaturalBalas DendamKekuatan SuperHarem
Saat Aji berusia 15 tahun, ayahnya meninggal dunia. Karena dia anak lelaki makanya ia mendapat warisan yang paling banyak. Hal itu menimbulkan rasa iri saudara perempuan dan kakak iparnya. Mereka merencanakan tragedi kecelakaan dimana Aji jatuh ke sebuah jurang di lereng gunung. Akan tetapi Aji berhasil diselamatkan oleh seorang Pertapa, ia juga diajarkan ilmu kesaktian. Setelah 10 tahun mengasingkan diri, Aji dilepas oleh sang guru untuk kembali agar bisa balas dendam pada saudaranya. Hanya saja Sang Guru memberi pesan, jika kesaktian Aji bisa hilang bila tergoda oleh wanita. Mampukah Aji menghindari godaan-godaan sementara wajah dan auranya berhasil memikat para wanita? Follow Instagram Masatha 2022
Bab 1

"Aji, kamu sudah tinggal bersamaku mengasingkan diri dari dunia selama 10 tahun. Semua ilmu-ilmu yang aku miliki juga sudah aku ajarkan padamu. Sekarang saatnya kamu kembali, kamu bisa balas dendam pada saudara-saudaramu yang dulu telah mencelakaimu!"

Aji menatap gurunya dengan pandangan nanar, baginya orang yang saat ini dihadapannya tak hanya sekedar guru, tapi penyelamat nyawanya, juga pengganti orang tuanya yang sudah tiada.

"Bopo Guru, apakah tidak apa-apa aku meninggalkan Bopo Guru sendiri di sini?" tanya Aji merasa berat untuk berpisah.

"Sejak lahir aku terbiasa di sini, sementara kamu berbeda. Kamu masih muda dan memiliki masa depan cerah. Satu hal pesan dariku, jangan sampai kamu tergoda oleh wanita. Karena jika sampai itu terjadi, maka semua ilmu-ilmu yang aku ajarkan padamu akan lenyap!"

"Apa maksud dari Bopo Guru dengan tergoda oleh wanita?" tanya Aji yang memang belum paham.

"Jangan sampai melakukan hubungan terlarang. Kalau cuma tanpa sengaja bersentuhan tidak apa-apa, karena itu bukan nafsu. Dan gunakan kelebihanmu itu untuk membantu sesama yang mengalami kesulitan."

"Aku mengerti, Bopo Guru. Terima kasih banyak atas semua bantuanmu. Tanpamu mungkin aku sudah meninggal."

"Ini namanya takdir, sekarang pergilah sebelum langit berubah gelap!"

Setelah perpisahan yang mengharukan, Aji pun berpamitan pergi. Tak banyak barang yang ia miliki, kecuali tiga helai baju ganti.

Untuk kembali ke desanya, dia harus menaiki tebing dan juga turun ke lereng gunung. Tapi ia bukan manusia biasa, dengan kekuatan tenaga dalam dia bisa naik dengan mudah dengan cara meloncati batu satu ke batu lainnya.

Sesampainya di atas, jika mendongak ke bawah hanya terlihat seperti jurang yang gelap dan menyeramkan. Tak ada satupun orang yang tahu, jika di sana ada gua yang memiliki pemandangan yang begitu indah. Bahkan terdapat banyak tumbuhan ajaib untuk pengobatan.

Aji sendiri bisa masuk ke sana karena sebuah tragedi, 10 tahun lalu saat ia baru berusia 15 tahun ayahnya meninggal dunia. Karena dia merupakan anak lelaki makanya Aji mendapat warisan yang paling banyak.

Akan tetapi hal itu menimbulkan rasa iri pada saudara perempuan serta kakak iparnya, merekapun merencanakan pembunuhan dengan dalih kecelakaan. Aji didorong ke jurang, untungnya dia ditemukan oleh Bopo Guru. Dengan tumbuhan ajaib, dia berhasil selamat dan luka parahnya bisa kembali pulih seperti sediakala.

Setiap mengingat hal itu Aji merasa sedih, sebab selama ini dia begitu mencintai kakak perempuannya. Ibu mereka telah tiada lebih dulu saat Aji masih kecil, saat ayah mereka sibuk bekerja makanya yang merawat dia adalah kakak perempuannya.

Aji kadang sampai tidak mengira, jika seorang kakak yang pernah melindunginya justru menusuknya dari belakang. Andaikan dulu kakaknya meminta, sebenarnya Aji juga rela memberikan semua warisannya.

Aji melewati jalan setapak sambil melamun, kenangan-kenangan masa silam berputar-putar dikepalanya.

Sampai ia mendengar sebuah jeritan seorang perempuan.

"Tolong! Tolong!"

Aji bergegas mendekati ke sumber suara, dia kaget karena melihat seorang gadis yang hanya tersisa pakaian dalam tengah dikerubungi tiga pria dewasa sebayanya.

"Tolong, tolong aku!" rintih gadis itu menatap Aji.

Meski sudah lama tidak bertemu, tapi Aji masih mengenali gadis itu. Mayang Sari. Teman masa kecilnya.

"Mayang!" pekik Aji tanpa basa-basi langsung melancarkan tendangan ke arah ketiga lelaki itu.

"Kamu siapa?" ucap salah satu dari mereka yang baru saja tersungkur.

"Kamu tak perlu tahu siapa aku, tidak menyangka jika kalian begitu brengsek menindas seorang gadis!" umpat Aji berusaha menahan amarahnya.

Setelah itu, Aji memukuli mereka sampai babak belur. Ketiga pria brengsek itu lari sampai kocar-kacir.

"Jangan sampai aku lihat kalian melakukan tindakan bejat lagi! Jika belum jera, aku kebiri kalian!" ancam Aji dengan suara menggelegar.

Setelah itu Aji bergegas mengambil salah satu pakaian di tas usangnya karena pakaian Mayang tak mungkin bisa dipakai lagi, lalu ia memberikannya ke Mayang Sari sambil memejamkan mata.

"Terima kasih," ucap gadis itu sembari nangis sesenggukan.

Setelah beberapa saat, tiba-tiba gadis itu membuka suara.

"Aku sudah memakai pakaianmu, sekarang kamu bisa membuka mata."

Aji pun baru berani membuka matanya. Gadis kecil yang dulunya sering bermain dengannya siapa sangka kini sudah menjadi wanita dewasa yang sangat cantik dan ahh Aji langsung menggeleng-gelengkan kepalanya sendiri saat teringat bagaimana Mayang Sari yang hanya mengenakan pakaian dalam. Benar kata gurunya jika wanita adalah sebuah godaan.

"Aji, kamu Aji Pamungkas, kan?" lirih Mayang mencoba memastikan.

"Kau masih mengingatku, Mayang?" tanya Aji balik.

GREP

Aji langsung kaku saat Mayang memeluknya erat.

"Aji, aku tidak menyangka jika kamu masih hidup. Aku kira kalau kamu sudah tiada. Jika masih hidup selama ini kamu kemana saja? Kenapa setelah bertahun-tahun kamu baru pulang?" tangis Mayang sembari mendusel-dusel padanya.

Aji merasa geli sekaligus ada perasaan aneh, namanya juga Mayang sudah dewasa sehingga dadanya tidak rata seperti saat kecil.

Untungnya nasihat gurunya selalu terngiang, membuat Aji segera mendorong Mayang tapi juga memegang kedua bahunya agar Mayang tidak jatuh.

"Mayang, tolong tenangkan dirimu! Ingat kita ini bukan anak kecil seperti dulu!" tegas Aji. "Ada batasan antara pria dan wanita," timpalnya menurunkan suaranya lebih rendah agar Mayang tidak tersinggung.

Wajah Mayang langsung merona merah, " Maaf. Aku terlalu senang karena kamu masih hidup," cicitnya malu-malu.

"Tidak apa-apa," jawab Aji melepaskan tangannya. Menarik napas sebanyak mungkin lalu menghembuskan secara perlahan.

Mayang sejak kecil memang cantik, tapi ketika dewasa kecantikannya ini bertambah berkali-kali lipat. Aji tak berani menatap matanya langsung.

"Sebelum aku cerita tentang diriku, kamu cerita dulu kenapa kamu bisa ada di sini?" sela Aji yang penasaran.

Mayang kembali meneteskan air matanya, membuat Aji bingung harus bagaimana.

"Kenapa nangis?"

"Hiks hiks... Tak lama setelah kabar kamu jatuh ke jurang, kedua orang tuaku juga mengalami kecelakaan saat perjalanan pulang bekerja. Setelah itu aku hidup seorang diri, aku putus sekolah dan kerja sebagai pembantu di rumah kepala desa. Salah satu dari mereka tadi adalah anak kepala desa, karena aku menolak cintanya ia jadi membenciku lalu mengajak kedua temannya untuk menjebakku ke sini berniat menodaiku. Untung saja kamu datang, jika tidak, aku pasti tak ingin hidup lagi."

Tangis Mayang kembali pecah, Aji yang tidak tahu bagaimana cara membujuk hanya berdiam diri saja menemaninya.

Aji merasa kasihan juga pada Mayang yang sama malangnya seperti dirinya tak memiliki orang tua.

Setelah tenang, Mayang pun menatap Aji.

"Oh iya, apakah kamu sudah bertemu dengan kakak kamu?" tanya Mayang.

"Tidak, bagaimana kabarnya sekarang?" tanya Aji tiba-tiba merasa dadanya sesak.

"Tidak tahu, sejak kamu dinyatakan meninggal. Mbak Sinta dan Mas Jaka sangat sedih, mereka menjual semua aset peninggalan ayah kamu termasuk rumah setelah itu mereka pindah ke kota dan tak pernah kembali lagi."

"Apa?" pekik Aji syok bukan main.

Lanjut membaca
Lanjut membaca