Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Santriwati pilihan Abah & Umma

Santriwati pilihan Abah & Umma

Istrinya JENO | Bersambung
Jumlah kata
36.4K
Popular
327
Subscribe
65
Novel / Santriwati pilihan Abah & Umma
Santriwati pilihan Abah & Umma

Santriwati pilihan Abah & Umma

Istrinya JENO| Bersambung
Jumlah Kata
36.4K
Popular
327
Subscribe
65
Sinopsis
18+FanficFanficDokterKonglomeratPewaris
18+ perkenalkan namaku “Ahmad Jeano ileeyas Al-Jazaf”. perjodohanku dengan Perempuan yang aku tahu bernama lengkap “Safeera Mahren Almahyra” sudah dibuat semenjak kita berdua masih sama-sama berusia Balita, aku ingin sekali menolaknya! karena aku tahu betul wahwa setiap Perjodohan ini di bicarakan perempuan itu selalu enggan menjawab. akan tetapi 'Ahd (perjanjian) di buat oleh sepasang Abah yang sudah berkawan sejak kecil pun tidak bisa di putuskan sebelah pihak, mau tidak mau pernikahan yang sudah di rencanakan itu trtap terlaksana. saksikan kisah selengkapnya dengan membaca novel ini😇
PROLOG

Perkenalkan aku adalah Jean, nama lengkapku “Ahmad Jeano ileeyas Al-Jazaf”perjodohanku dengan Perempuan yang aku ketahui bernama lengkap “Safeera Mahren Almahyra” sudah di ucapkan sejak kita berdua masih sama-sama berusia balita, yang mana itu sudah terjadi dua puluh tahun yang lalu.

Sebagai lelaki aku ingin sekali menolak perjodohan yang akan di bawa kejenjang yang lebih Serius ini dengan tegas! karena aku tahu betul bahwa setiap perjodohan ini di bicarakan, perempuan itu selalu enggan untuk menjawab pernyataan dari Abbi dan Umminya.

Aku tidak mau tahu dan bahkan tidak ingin tahu apa pun dari sisi sudut pandangnya, dengan melihat reaksi yang ia tunjukkan sudah mampu membuat diriku faham bahwa ada sesuatu yang mengganjal atau bahkan membuatnya enggan melanjutkan perjodohan yang sudah di rencanakan ini.

Akan tetapi Ahad atau (perjanjian) yang sudah di buat oleh sepasang Abah yang sudah berkawan sejak kecil ini tidak bisa di putuskan satu belah pihak saja, bahakan aku sendiri sebagai calon mempelai Pria mau tidak mau pernikahan yang sudah di rencanakan ini harus tetap terlaksana.

"Abang ikut apa kata Umma," jawab Jeano final.

Terlihat raut wajah kebahagia dari kedua orangtuaku, baik Abah maupun Umma akhirnya merasa legah setelah mendengar jawaban dariku. yang aku tahu acara pernikahan kita atau Ijab akan di laksakan hari Jum'at pada minggu depan, hari Ju'mat 23 Rajab 1446 Hijriah tanggal yang sangat baik dalam agamaku untuk melaksanakan kegiatan baik.

"Maaf Syafeera, saya tidak bisa mengecewakan Abah dan Umma saya. tapi saya mengecewakan kamu dengan menyetujui perjodohan ini, sekali lagi maafkan saya." gumamku di sela-sela Do'a-ku di waktu shalat sepertiga malamku.

Air mataku jatuh dari kedua pelupuk mataku dengan derasnya, membayangkan bagaimana kecewanya Perempuan itu nanti dengan keputusanku. demi tuhan! saya jujur dari dalam hati tidak ada keraguan apapun dalam pilihanku kali ini.

Ntah mengapa hatiku merasa bahwa pilihanku kali ini adalah yang paling terbaik dari semua yang baik, apakah aku sudah mulai menyukainya? aku tidak berani bohong karena memang, Iya! aku mulai mencintai Safeera, walaupun kalau mau di hitung aku bertemu dengan keluarga besar Abbi Mahren dan juga Safeera baru 3 kali.

Namun ntah mengapa di pertemuan yang ke-3 kalinya, aku merasa ada rasa ketertarikan dengan calon istriku itu. "Astaghfirullah Jean! berani-beraninya kamu membayangkan wajah Perempuan yang belum Mahrom kamu, selancang ini!" pekikku pelan.

Aku menyelesaikan shalat sepertiga malamku, dan melipat kembali sajadah yang aku pakai sebelumnya dan menaruhnya kembali di sudut meja nakas tanpa menaruhnya ketempat yang semestinya yaitu laci yang tergabung dengan Dipan atau tempat tidurku.

***

Di lain tempat dan di waktu yang sama, Safeera bersama Ummi-nya selesai shalat sepertiga malam. sepasang Ibu dan Anak itu tenga duduk berdua di dalam kamar dari Perempuan muda tersebut, tengah mengobrol dengan sedikit panasanya mengenai jawaban dari pihak calonya yang menelfon Abinya semalam.

"Ummi, tapi tidak ada cinta di antara kita berdua." jawab Safeera sedikit menegaskan perasaannya di sini.

"Cinta itu akan tumbuh dengan sendirinya, Nak. calon Suami kamu itu tampan, pintar, menjadi dokter muda sekaligus ikut menguru pondok pesantren Abah-nya itu tidak mudah." jelas sang Umma.

"Tapi Um-

"Tidak ada tapi, jalani dahulu. percaya kata Abi dan Ummi, iya Nak?" sanggah sang Ummi.

Perempuan mudah itu hanya bisa mengangguk pelan, rasanya mau dirinya menolak dengan gaya bicara apapun tidak akan di dengar. yang akan di dengar serang hanyalah jawaban dariku yang berbunyi “Baiklah, Kakak setuju dengan Perjodohan ini”.

Bagaimana caraku menjelaskannya kepada Mas Zain? aku sudah berjanji akan menunggunya sampai beliau Sukses! dan bisa menunjuukan kepada Abah bahwa beliau layak meminangku.

Aku malu! aku malu kepada Mas Zain. Lelaki yang beberapa tahun ini selalu bisa membuatku bahagia dengan semua kebaikannya, "Mas Zain, Feera minta maaf. Feera tidak bisa membantah perintah Abi dan Ummi lagi, sekali lagi maafkan Feera." ucap Perempuan itu dengan isak tangisnya.

Safera menguatkan hatinya, dengan jemari tangan yang bergetar Perempuan itu memberanikan diri menulis pesan pada layar ponselnya untuk di kirimkan keseseorang yang membuat dirinya merasa sesal saat ini.

To, Mas Zain

Assalamu'alaikum, Mas Zain.

• Apakah besok ada waktu?

• Feera mau ada sesuatu yang ingin di bicarakan dengan, Mas Azam.

• Kalau ada waktu, besok bisa bertemu di taman perpustakaan pesantren.

• Tenang Mas, Feera bawa satu teman. supaya tidak menimbulkan Fitnah, di pesantren.

Di lain tempat, Zain Al-Malik merasa aneh dengan typing Safeera yang terkesan panjang dan menggantung. sangat jauh berbeda dengan pesan Perempuan itu biasanya yang hanya terdapat sepata dua kata saat dirinya mengirim pesan, ada apa ini? Aneh, sepertinya ada sesuatu yang memang benar-benar perlu di bicarakan denganku.

Di lain tempat baik Jeano mau pun Feera tidak bisa tidur, keduanya tidur di atas ranjang masing-masing dengan perasaan yang campur aduk. Apakah keputusan ini tepat? Apakah langkah yang di ambil kali ini benar? akankah kebahagiaan itu hadir dalam rumah tangga mereka kelak? Cinta, apakah benar itu ada dalah hubungan yang di atur ini?

"Feera maafkan saya, bagaimana saya menjawab pertanyaan kamu besok?" gumam Jeano, Gus serta Fokter muda yang terkenal akan ketampanan visual serta kepintaran akalnya itu sungguh sangat gelisah malam ini.

Setelah menjawab Abahnya mngenai perjodohannya, malam ini Ahmad Jeano ileeyas Al-Jazaf memejamkan matanya saja seperti ada pengganjal yang besar di bawah kelopak matanya. isi di dalam perutnya trasa di aduk-aduk, lelaki seolah ingin muntah tapi tidak ada yang ingin di muntahkan.

Cemas, khawatir, bingung bercampur menjadi satu. kalau di tanya apakah Jeano menyukai Safeera? makajawabanny adalah, IYA! sejak pertama kali dirinya bertemu dengan Saffera saat mereka sudha dewasa, Jeano sudah mencintai Gadis itu dari pandangan pertama mereka bertemu setelah menginjak usia dewasa.

Perjodohan mereka berdua memang sudah di rencanakan sejak mereka masih balita, lebih tepatnya Jeano masih berusia 4 tahun dan Feera berusia 2 tahun kala itu. dulu mereka berdua sahabat sepermainan, namun setelah Al-Jazaf membuka Pesantren baru di Bandung keluarga besar Al-Jazaf tidak pernah pupang lagi ke Lamongan.

Sehingga Jeano dan juga Safeera tidak pernah bertemu kembali sejak kala itu, pada akhirnya baik Saffera mau pun Jeano tidak mengenal satu sama lain kembali karena tumbuh di lingkungan serta tempat yang berbeda.

Andaikan dulu keluarga besar Al-Jazaf tidak berpindah semua, mungkin mereka berdua bisa mngenal. namun apa boleh buat, kadang kalah “Takdir” memang sebercanda itu. jadi akhir dari segala cerita ini dan juga awal dari sebuah kisah yang baru di mulai, mari serahkan semua kepada sang Pencipta.

tbc

Lanjut membaca
Lanjut membaca