Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
"Dendam Kurir Sultan: Sistem Rebate Tanpa Batas"

"Dendam Kurir Sultan: Sistem Rebate Tanpa Batas"

FillaniPutri | Bersambung
Jumlah kata
58.2K
Popular
252
Subscribe
53
Novel / "Dendam Kurir Sultan: Sistem Rebate Tanpa Batas"
"Dendam Kurir Sultan: Sistem Rebate Tanpa Batas"

"Dendam Kurir Sultan: Sistem Rebate Tanpa Batas"

FillaniPutri| Bersambung
Jumlah Kata
58.2K
Popular
252
Subscribe
53
Sinopsis
FantasiIsekaiMengubah NasibSistemBalas Dendam
"Uang tidak bisa membeli cinta, tapi uang bisa membuatmu sujud di kakiku!" Arlo Baskara hanyalah seorang kurir motor yang dihina. Demi membiayai pengobatan ibunya, ia rela bekerja 20 jam sehari, hanya untuk dikhianati oleh kekasihnya, Clarissa, yang lebih memilih berselingkuh dengan Raditya—pewaris konglomerat yang sombong. Arlo dihajar, dipermalukan di bawah hujan, dan dibuang seperti sampah. Namun, saat maut menjemput, sebuah suara mekanis bergema: [Sistem Rebate 10.000x Lipat Diaktifkan!] Setiap rupiah yang Arlo belanjakan untuk orang lain akan dikembalikan 10.000 kali lipat ke rekeningnya! Beli nasi bungkus buat pengemis? Dapat 100 Juta! Beli rumah sakit untuk ibunya? Dapat puluhan Triliun! Beli satu pulau untuk pangkalan militer? Arlo menjadi orang terkaya di dunia! Kini, Arlo kembali bukan untuk meminta maaf, tapi untuk membeli setiap jengkal tanah yang dipijak musuhnya. Saat seluruh dunia bertekuk lutut pada uang, Arlo adalah Tuhan yang memegang kendalinya.
Bab 1: Hujan, Darah, dan Notifikasi Misterius

Jakarta malam itu seolah sedang menangisi nasib Arlo Baskara. Hujan turun begitu deras, mengubah jalanan ibu kota menjadi sungai abu-abu yang dingin. Arlo, dengan jaket kurir yang sudah mulai mengelupas plastiknya, memacu motor bebek tua yang mesinnya sudah berbunyi kasar. Di punggungnya, sebuah tas kotak besar berisi kiriman makanan, namun di saku dadanya, ada sesuatu yang jauh lebih berharga.

Sebuah kotak perhiasan kecil berwarna merah.

"Bertahanlah, Arlo. Setelah ini, semuanya akan membaik," bisiknya pada diri sendiri, meski tubuhnya menggigil hebat.

Selama tiga bulan terakhir, Arlo bekerja hampir 20 jam sehari. Pagi menjadi kurir logistik, siang mengantar makanan, dan malamnya menjadi buruh cuci piring. Semua itu ia lakukan demi satu tujuan: merayakan ulang tahun ketiga hubungannya dengan Clarissa, sekaligus memberikan hadiah yang layak bagi wanita yang ia cintai.

Arlo tiba di depan lobi megah Pratama Tower, gedung perkantoran milik keluarga terkaya di kota ini. Saat ia hendak melangkah masuk, seorang petugas keamanan bertubuh besar langsung menghadangnya dengan wajah masam.

"Heh, kurir! Lewat pintu belakang! Jangan bikin kotor lantai lobi dengan sepatu becekmu itu!" bentak satpam tersebut.

"Maaf, Pak. Saya tidak mengantar barang. Saya mau bertemu dengan Clarissa, staf pemasaran di lantai 12," jawab Arlo sesopan mungkin.

"Clarissa? Maksudmu Nona Clarissa Indrawan?" Satpam itu tiba-tiba tertawa meremehkan. "Mimpi apa kamu semalam? Orang seperti dia tidak mungkin punya urusan dengan gelandangan sepertimu. Pergi sana!"

Tepat saat Arlo hendak mendebat, pintu kaca otomatis di belakang satpam itu terbuka. Hawa dingin AC dari dalam gedung menyeruak keluar, membawa aroma parfum mahal yang sangat Arlo kenali.

Clarissa keluar dari sana. Ia tampak sangat cantik dengan gaun merah marun yang membentuk lekuk tubuhnya. Namun, ia tidak sendirian. Tangannya menggelayut mesra di lengan seorang pria muda yang mengenakan setelan jas custom-made berwarna abu-abu gelap.

"Clarissa?" Arlo mematung. Kotak perhiasan di sakunya seolah menjadi sangat berat.

Langkah Clarissa terhenti. Wajahnya yang semula penuh tawa seketika berubah menjadi pucat, lalu dengan cepat berganti menjadi ekspresi jijik yang amat dalam.

"Arlo? Apa yang kamu lakukan di sini?" desis Clarissa. Ia melirik pria di sampingnya dengan cemas.

Pria itu adalah Raditya Pratama, pewaris tunggal Pratama Group. Raditya menatap Arlo dari ujung kaki ke ujung kepala dengan tatapan seolah melihat seekor serangga yang tak sengaja terinjak.

"Sayang, siapa kurir bau matahari ini? Apa dia pengemis yang salah masuk?" tanya Raditya dengan nada malas yang menghina.

Clarissa menarik napas panjang, lalu menatap Arlo dengan dingin. "Dia... dia cuma mantan teman sekolahku, Radit. Aku tidak tahu kenapa dia membuntutiku sampai ke sini."

Mantan teman sekolah? Jantung Arlo serasa diremas. "Clarissa, apa maksudmu? Kita sudah pacaran tiga tahun! Aku bekerja banting tulang untuk biaya pengobatan ibu dan untuk membelikanmu hadiah ini..." Arlo mengeluarkan kotak merah itu dengan tangan gemetar.

Raditya tertawa terbahak-bahak. Suaranya menggema di lobi yang sepi. "Tiga tahun? Clarissa, seleramu dulu ternyata sangat buruk. Lihat dia, bahkan motornya saja lebih murah dari sekali makan siangku."

Raditya kemudian berjalan mendekati Arlo. Ia merogoh dompetnya, mengeluarkan selembar uang Rp 50.000, lalu melemparkannya ke genangan air di depan kaki Arlo. "Ini, ambil. Beli sabun yang banyak supaya baumu tidak mengotori udara di depan gedungku. Dan kotak itu?"

Tanpa diduga, Raditya menepis tangan Arlo dengan kasar. Kotak merah itu terjatuh, terbuka, dan menampakkan sebuah cincin perak sederhana. Raditya menginjaknya dengan sepatu pantofel kulit buayanya hingga cincin itu bengkok di dalam lumpur.

"Emas murahan seperti ini hanya pantas berada di selokan," ucap Raditya dingin.

"Kamu keterlaluan!" Arlo merangsek maju, namun dengan cepat dua orang pengawal Raditya yang tadinya berjaga di dalam lobi langsung menyergapnya.

"Hajar dia. Berikan pelajaran bagaimana cara bersikap di depan tuannya," perintah Raditya tanpa menoleh lagi.

Arlo diseret ke area samping gedung yang gelap. Di bawah guyuran hujan, pukulan demi pukulan menghantam perut dan wajahnya. Arlo tersungkur, merasakan asinnya darah di mulutnya. Ia tidak bisa melawan. Tubuhnya terlalu lelah karena kurang tidur selama berbulan-bulan.

"Ingat ini, pecundang," bisik salah satu pengawal sebelum melepaskan tendangan terakhir ke rusuk Arlo. "Clarissa sekarang adalah milik Tuan Muda Raditya. Jika kamu muncul lagi, kami pastikan kamu pulang tinggal nama."

Mereka meninggalkan Arlo yang terkapar di aspal dingin. Hujan semakin lebat, membasuh darah yang mengalir dari pelipisnya. Arlo menatap langit malam yang kelam. Di hatinya, rasa sakit karena pengkhianatan jauh lebih perih daripada tulang rusuknya yang mungkin patah.

Kenapa? Kenapa dunia hanya berpihak pada mereka yang punya uang? Arlo berteriak dalam hati. Jika aku punya uang... jika aku punya kekuasaan... aku akan menghancurkan mereka semua!

Tiba-tiba, sebuah keheningan yang aneh menyelimuti area itu. Suara hujan seolah menghilang, digantikan oleh suara dengung frekuensi tinggi yang memekakkan telinga.

[Ding! Mendeteksi gelombang kebencian dan ambisi yang murni...] [Kriteria Inang Terpenuhi. Mengaktifkan Protokol Dominasi Dunia...] [Sistem Rebate Tanpa Batas berhasil diikat kepada: Arlo Baskara!]

Arlo terbelalak. Di depan matanya, muncul sebuah layar hologram semi-transparan yang berpendar biru keemasan.

[Level Inang: 1] [Multiplier Rebate: 10.000x Lipat] [Aturan Utama: Setiap rupiah yang Anda belanjakan untuk orang lain (pembelian hadiah, donasi, bantuan, atau transaksi pihak ketiga) akan dikembalikan ke saldo Anda dikalikan dengan multiplier!]

"Apa... apa ini? Halusinasi?" gumam Arlo dengan suara serak.

[Ini bukan halusinasi, Inang. Uang adalah energi, dan Inang adalah muaranya. Silakan lakukan transaksi pertama Anda untuk menguji sistem.]

Arlo mencoba bangkit dengan sisa tenaganya. Ia merangkak menuju motornya yang terguling. Di bawah jok motor, ada dompet kulitnya yang sudah jebol. Di dalamnya hanya tersisa satu lembar uang sepuluh ribu rupiah. Uang terakhir untuk makannya malam ini.

Tiba-tiba, seorang gadis kecil dengan pakaian compang-camping berlari mendekat. Ia berteduh di bawah emperan toko tak jauh dari Arlo. Gadis itu tampak menggigil hebat sambil memeluk beberapa bungkusan tisu yang sudah basah.

"Kak... tolong beli tisu..." bisik gadis kecil itu dengan bibir membiru.

Arlo menatap uang sepuluh ribunya, lalu menatap gadis itu. Di titik terendah hidupnya, ia melihat cerminan dirinya sendiri pada gadis itu. Tanpa ragu, Arlo mengulurkan tangannya.

"Ini, Dek. Ambillah. Kamu pulang ya, jangan jualan lagi malam ini," ucap Arlo tulus.

Gadis itu menerima uang itu dengan mata berbinar. "Terima kasih, Kak! Kakak orang baik! Semoga Kakak jadi orang kaya!"

Gadis itu berlari menjauh. Saat itulah, sebuah suara ledakan kembang api seolah meledak di dalam kepala Arlo.

[Ding! Inang telah membelanjakan Rp 10.000 untuk tujuan amal!] [Memicu Rebate 10.000x Lipat!] [Menghitung... Rp 10.000 x 10.000 = Rp 100.000.000!] [Status: Berhasil! Uang telah ditransfer ke rekening pribadi Inang secara anonim melalui saluran pencucian aset legal internasional.]

Bzzzt!

Ponsel butut Arlo yang layarnya sudah retak seribu tiba-tiba menyala. Sebuah pesan singkat (SMS) masuk dari bank pemerintah tempat ia biasanya menerima gaji kurir.

"Dana Masuk: Rp 100.000.000,00 dari 'GLOBAL CLEARING LTD'. Saldo Anda saat ini: Rp 100.000.450,00."

Arlo terpaku. Jantungnya berdegup kencang hingga rasanya ingin melompat keluar. Ia mencoba mengusap layar ponselnya, memastikan angka nol di sana tidak salah hitung. Satu, dua, tiga... delapan angka nol!

"Seratus juta..." Arlo berbisik, lalu tertawa kecil yang lama-kelamaan menjadi tawa keras di tengah hujan.

Ia menatap tangannya yang penuh luka dan kotoran. Luka di tubuhnya memang masih sakit, tapi sebuah kekuatan baru yang dingin dan tajam mulai mengalir di nadinya.

Jika sepuluh ribu bisa menjadi seratus juta, maka satu juta bisa menjadi sepuluh miliar. Dan jika ia menghabiskan seratus juta itu sekarang... ia akan memiliki satu triliun!

Arlo berdiri tegak. Ia tidak lagi membungkuk. Tatapannya menatap ke arah puncak Pratama Tower yang menembus awan hitam.

"Raditya, Clarissa... kalian bilang aku kecoa yang tidak punya tempat untuk berdiri?"

Arlo menyeka darah di bibirnya dengan punggung tangan. "Besok, aku akan membeli gedung ini. Dan lusa, aku akan membeli seluruh harga diri kalian."

[Ding! Misi Pertama Terdeteksi: 'Tamparan Sultan'. Belanjakan minimal 50 juta rupiah dalam 1 jam ke depan untuk membungkam orang-orang sombong. Hadiah: Peningkatan fisik 'Tubuh Dewa Perang' Level 1.]

Arlo tersenyum menyeringai. Ia menaiki motor bebeknya, menendang pedal gas, dan melesat pergi meninggalkan area itu. Malam ini, Jakarta tidak lagi menjadi tempat yang kejam bagi Arlo Baskara. Malam ini, Jakarta menjadi taman bermain barunya.

Lanjut membaca
Lanjut membaca