Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
crazy girl and good boy

crazy girl and good boy

larasuciap | Bersambung
Jumlah kata
150.1K
Popular
751
Subscribe
120
Novel / crazy girl and good boy
crazy girl and good boy

crazy girl and good boy

larasuciap| Bersambung
Jumlah Kata
150.1K
Popular
751
Subscribe
120
Sinopsis
PerkotaanSekolahCinta SekolahTeka-tekiMisteri
Raka Aditya tidak pernah suka keramaian.Baginya, sekolah hanyalah rutinitas yang harus dijalani — tanpa perlu bicara banyak, tanpa perlu bersosialisasi. Dunia sudah cukup tenang tanpa orang lain ikut campur.Hingga suatu pagi yang biasa, seorang gadis jatuh tepat di depannya — dengan rambut acak-acakan, wajah panik, dan senyum bodoh yang entah kenapa… susah diabaikan.Namanya Aruna Prameswari.Gadis yang terlalu berisik untuk dunia Raka, terlalu cerah untuk suasana hatinya yang kelabu.Raka mencoba menjauh. Tapi semakin ia menolak, semakin sering gadis itu muncul — di kelas, di lapangan, bahkan di pikirannya.Aruna membuat segalanya berantakan.Tapi mungkin, untuk pertama kalinya, “berantakan” itu tidak seburuk yang ia bayangkan.Sebab di balik kehebohan Aruna, Raka menemukan sesuatu yang tak pernah ia rasakan sebelumnya:ketenangan yang justru datang dari kebisingan.
crazy girl and good boy 1:hari pertama kelas sebelas

Udara pagi terasa segar, tapi bagi Raka Aditya, segar hanyalah kata yang tidak berarti apa-apa.

Bunyi derap sepatu, suara siswa yang berceloteh, bahkan tiupan peluit OSIS di lapangan, semuanya hanya menambah satu hal: kebisingan.

Hari pertama sekolah — awal kelas sebelas — dan sekolah terlihat seperti sarang lebah yang baru diguncang.

Raka berdiri di barisan depan, postur tegak, dasi simetris, sepatu mengilap. Dia tidak bicara, tidak tertawa, dan tidak tersenyum.

Wajahnya datar, pandangannya kosong menatap tiang bendera di tengah lapangan.

“Rame banget cuma buat upacara,” gumamnya pelan.

Cowok-cowok di sampingnya sibuk ngobrol tentang game dan kelas baru, tapi Raka tidak ikut nimbrung.

Dia lebih suka diam — bukan karena sombong, tapi karena sudah terbiasa sendiri.

Baginya, diam itu tenang. Aman..

Sampai suara satu orang mengusik ketenangan itu.

“Aruna Prameswari!” teriak Bu Nisa dari arah gerbang sekolah. “Baru hari pertama sudah telat?”

Raka menoleh cepat, hanya sedikit — cukup untuk melihat sumber kekacauan baru pagi itu.

Seorang gadis berlari dengan tas setengah terbuka, dasi miring, rambut berantakan. Nafasnya ngos-ngosan, pipinya merah karena kepanasan.

Satu tangannya memegangi tali tas, satu lagi menahan buku yang hampir jatuh.

“Maaf, Bu! Alarm rusak! Eh, bukan, macet! Eh—ya pokoknya maaf!” katanya cepat.

Raka menatap pemandangan itu lima detik.

“Hebat juga… belum mulai aja udah heboh,” pikirnya datar.

Lalu —

BRUK!

Gadis itu tersungkur. Buku-bukunya terlempar ke depan, dan lapangan seketika jadi sunyi sesaat.

Semua siswa terdiam, sebelum tawa-tawa kecil mulai pecah dari belakang.

Raka menghela napas pelan. Ia maju satu langkah, dua langkah, lalu berjongkok..

Tangan panjangnya memungut buku-buku yang bertebaran, sementara gadis itu masih bengong menatap tanah.

“Berdiri.” suaranya tenang tapi tegas, nyaris tanpa intonasi.

Aruna mendongak, matanya membulat. “Eh… makasih ya!” katanya cepat, menerima uluran tangannya.

Tapi sebelum dia sempat berdiri sepenuhnya, Raka sudah lebih dulu menarik tangannya kembali dan berdiri tegak lagi.

Seolah-olah membantu orang jatuh adalah hal sepele yang tidak perlu dibicarakan.

Bisik-bisik langsung menyebar di barisan.

“Itu Raka, kan?”

“Iya, seriusan nolong cewek?”

“Fix, hari ini ajaib!”

Raka tidak menggubris. Ia kembali ke barisannya, matanya lurus ke depan.

Tapi jantungnya berdetak sedikit lebih cepat — entah karena malu dilihat banyak orang, atau karena gadis tadi sempat menatap matanya lebih lama dari yang seharusnya.

Ia menepis pikirannya. “Nggak penting,” batinnya.

Matahari semakin naik. Udara mulai panas, suara pembina upacara menggema lewat mikrofon.

Raka berdiri di posisi sama, hanya sesekali menggeser pandangan.

Lalu ia melihat gadis yang tadi jatuh — Aruna, katanya — berdiri lagi di barisan tengah, masih berusaha menyisir rambutnya dengan jari, sambil nyengir malu-malu.

“Berisik banget,” gumam Raka.

Tapi di ujung bibirnya, ada senyum kecil yang bahkan dia sendiri nggak sadar.

Naya, teman Aruna di sebelahnya, menatap dengan ekspresi “nggak kaget lagi”.

“Baru hari pertama, kamu udah bikin seisi sekolah ngelihat,” katanya pelan.

“Yah, salah siapa alarmku rusak,” bisik Aruna.

“Yang rusak itu kamu, bukan alarmnya,” balas Naya cepat.

Raka tidak bisa mendengar jelas percakapan itu, tapi ekspresi Aruna yang mengeluh sambil mencebik cukup jelas terlihat.

Dan tanpa sadar, Raka mengamati cukup lama.

“Kenapa aku malah lihat terus?” pikirnya. “Padahal ribut banget.”

Beberapa menit kemudian, Aruna mengelap keringat di keningnya.

“Duh, panas banget ya, Nay…” katanya pelan.

Dan sebelum Naya bisa menanggapi, tubuhnya goyah..

BRUK!

Sontak seluruh barisan kembali riuh.

Guru pembina berhenti bicara, OSIS berlarian. Tapi Raka tidak berpikir lama. Langkahnya langsung maju..

“Nadi lemah, pingsan karena panas,” katanya cepat.

Guru piket mengangguk lega. “Raka, tolong bawa ke UKS, ya.”

Tanpa menjawab, Raka membungkuk, mengangkat Aruna dengan kedua tangannya.

Suara tawa dan bisik-bisik berganti menjadi decak kagum dan tatapan kaget.

“Raka gendong cewek?”

“Hari ini bakal dicatat di sejarah sekolah, sih.”

Raka tak peduli.

Yang dia pikirkan hanya satu: gadis ini berat juga.

Tapi entah kenapa, langkahnya terasa ringan.

Ruangan UKS terasa sejuk. Kipas berputar pelan.

Raka menurunkan Aruna di kasur putih, membetulkan posisi selimut agar menutupi bahunya.

Lalu dia duduk di kursi, diam, menatap jendela yang memantulkan bayangan matahari.

Beberapa menit kemudian, ia mendengar suara lirih.

“Ah, sekalian pura-pura tidur aja, siapa tahu disuapin jus nanti,” gumam Aruna pelan.

Raka menoleh. “Berhenti pura-pura.”

Aruna langsung buka mata. “Heh?! Kamu tahu?”

“Dari tadi kelihatan. Kamu bahkan senyum-senyum sendiri.”

Aruna menutup muka dengan selimut. “Aduh, ketahuan! Parah banget!”

Raka menyilangkan tangan. “Kamu buang-buang waktu.”

Aruna membuka selimut pelan, menatap Raka. “Bukan buang-buang waktu, aku cumaa....”

"Cuma apa?! " Tanya raka memastikan

"Emmm gak jadi"

Raka diam. “Dasar cewek stres.”

“Eh, tapi makasih ya. Hari pertama sekolah, aku udah dua kali kamu tolong. Ini rekor!”

Raka berdiri, menatapnya sebentar. “Jangan sering jatuh. Repot.”

Aruna nyengir. “Heh, kalo jatuhnya di depan kamu sih… nggak apa-apa.”

Raka tidak menjawab. Ia berjalan keluar ruangan dengan langkah pelan, menutup pintu di belakangnya.

Senyum kecil terlintas di wajahnya, cepat sekali, tapi nyata.

Raka menutup pintu UKS perlahan,

Dan kebetulan Guru UKS lewat, menatap Raka yang baru keluar. “Raka, aman Aruna?”

“Nggak apa-apa, cuma kepanasan,” jawabnya singkat.

Guru itu tertawa. “Anak itu memang aktif, tapi lucu, ya. Energinya kayak nggak habis.”

Raka menatap jauh. “Kelihatan.”

Guru UKS tersenyum. “Kamu juga kelas sebelas, kan? Hati-hati kebawa arus Aruna. Bisa-bisa kamu nanti ikutan rame.”

Raka menatap balik datar. “Saya kebal.”

Guru itu tertawa lagi. “Kita lihat nanti, Raka.”

Setelah selesai berbicara dengan guru UKS raka berjalan kembali ke lapangan.

Suara pidato pembina upacara masih terdengar di kejauhan, mengisi udara yang mulai panas.

Langkahnya tenang, tapi setiap kali ia lewat, beberapa siswa otomatis menoleh.

Ada yang berbisik. Ada juga yang cuma menatap penuh penasaran.

Raka tahu. Ia sudah terbiasa dengan tatapan-tatapan itu.

Ia kembali berdiri di barisan depan OSIS, posisi awalnya, lalu menarik napas panjang.

Dari jauh, pembina upacara masih berbicara, memberikan arahan, menekankan tentang kedisiplinan dan semangat baru di tahun ajaran yang baru.

“Menjadi siswa yang baik bukan berarti tanpa kesalahan,” suara guru itu bergema. “Tapi bagaimana kalian belajar dari kesalahan dan memperbaikinya.”

Raka menatap lurus ke tiang bendera, tapi pikirannya tidak benar-benar di sana.

Dia bisa merasakan banyak mata yang menatapnya. Beberapa anak berbisik pelan, menunjuk ke arahnya, mungkin masih membicarakan kejadian tadi.

“Kayak lihat seleb aja,” pikirnya datar.

“Padahal cuma nolong orang pingsan. Aneh banget harus sampai dilihatin begini.”

Ia memejamkan mata sebentar, mencoba memblokir semua suara di sekitarnya.

Udara panas, keringat di pelipis, seragam yang terasa kaku — semua bercampur dengan rasa jengah yang sulit dijelaskan.

“Aku cuma nolong, bukan cari perhatian,” batinnya lagi.

“Tapi orang-orang memang suka ribut soal hal yang nggak penting.”

Beberapa detik kemudian, suara bendera dikerek memecah lamunannya. Semua berdiri tegak.

Raka mengikuti, gerakannya presisi, tanpa ekspresi.

Ia menatap merah putih yang berkibar di langit biru, matanya kosong tapi tenang.

Sementara pikirannya perlahan melayang ke ruangan UKS di belakang gedung.

“Mudah-mudahan nggak bikin ribut lagi nanti.”

Tapi bagian kecil di dadanya — yang bahkan tidak ia pahami — terasa hangat.

Bukan karena matahari, tapi karena ingatan singkat akan suara tawa dan wajah Aruna yang senyum malu-malu tadi.

Bendera sudah sampai di puncak tiang. Semua siswa hormat.

Raka tetap diam, tapi bibirnya sedikit bergerak.

“Hari pertama yang berisik,” pikirnya sekali lagi.

“Tapi mungkin… nggak seburuk itu.”

Dan untuk sesaat, cowok dingin itu — yang biasanya paling cuek di antara semua siswa — terlihat seperti seseorang yang baru saja memulai sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang bahkan dia sendiri belum tahu akan membawanya sejauh apa.

.....

Lanjut membaca
Lanjut membaca