Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Sistem Bertahan Hidup: Bagaimana Aku Menjadi Yang Terkuat

Sistem Bertahan Hidup: Bagaimana Aku Menjadi Yang Terkuat

Dezzweet | Bersambung
Jumlah kata
28.3K
Popular
187
Subscribe
62
Novel / Sistem Bertahan Hidup: Bagaimana Aku Menjadi Yang Terkuat
Sistem Bertahan Hidup: Bagaimana Aku Menjadi Yang Terkuat

Sistem Bertahan Hidup: Bagaimana Aku Menjadi Yang Terkuat

Dezzweet| Bersambung
Jumlah Kata
28.3K
Popular
187
Subscribe
62
Sinopsis
18+FantasiSci-FiSistemHaremMengubah Nasib
Sutrisna tidak pernah memiliki pilihan dalam hidupnya. Sejak menjadi yatim piatu di usia sepuluh tahun, ia hanya mengenal satu cara hidup:, yaitu bekerja keras demi bertahan sampai esok hari. Sebagai kuli bangunan, hari-harinya dipenuhi makian, upah kecil, dan masa depan yang terasa buntu. Namun sebuah kecelakaan di gudang tua mengubah segalanya. Saat lantai runtuh dan ia terjatuh ke ruang bawah tanah tersembunyi, Sutrisna menemukan sebuah artefak misterius yang langsung terhubung dengan dirinya sebuah sistem aneh yang memberinya kekuatan. Dari pria yang tidak memiliki apa-apa, Sutrisna kini memegang kesempatan untuk mengubah takdirnya. Tapi kekuatan selalu datang bersama bahaya.
001 || Kerja Rodi

“Kalau kerja cuma setengah hati, mending angkat kaki dari sini, Sutrisna!”

Suara Mandor—Santoso, 45 tahun memecah udara siang yang panas. Dentingan besi dan bunyi adukan semen seperti ikut terdiam sepersekian detik.

Sutrisna, 23 tahun berdiri kaku di bawah terik matahari. Kaosnya basah oleh keringat dan debu semen menempel di kulitnya yang gelap. Tangannya masih memegang ember adukan, beratnya menekan otot yang sejak pagi tidak diberi istirahat cukup.

“Maaf, Pak.”

Hanya itu yang keluar dari mulutnya.

Santoso mendengus. “Maaf, maaf. Dari kemarin yang kamu bisa cuma maaf. Otak dipakai sedikit. Itu adukan hampir tumpah semua.”

Beberapa pekerja lain pura-pura sibuk. Kepala mereka menunduk, tangan tetap bergerak, tapi telinga jelas mendengar keributan itu. Tidak ada yang berani ikut campur.

Sutrisna menunduk lebih dalam.

Ia tahu bukan adukannya yang salah. Ember itu memang sudah retak dari kemarin. Tapi membantah hanya akan memperpanjang makian.

“Kalau nggak becus, bilang. Masih banyak yang butuh kerja.”

Kalimat itu lebih menyakitkan daripada teriakan.

‘Masih banyak yang butuh kerja.’

Artinya ia bisa diganti kapan saja.

Sutrisna mengangguk pelan. “Siap, Pak.”

Mandor Santoso pergi dengan wajah masih kesal. Suara langkahnya berat, seolah tanah pun harus tahu siapa yang berkuasa di tempat itu.

Sutrisna kembali bekerja. Dari jam lima pagi sampai jam 9 malam ia menjaga bahan bangunan di lokasi. Ia kembali ke rumah hanya untuk tidur. Pekerjaan rodi, tenangnya diporsir habis-habisan.

Upahnya kecil. Waktunya habis. Ia tidak punya ruang untuk mencari pekerjaan tambahan. Kadang ia bertanya dalam hati, untuk apa ia bertahan.

Debu beterbangan saat ia mengangkat semen ke lantai dua ruko yang sedang dibangun. Bangunan itu milik keluarga Parto Wiryawan, juragan beras paling berpengaruh di Desa Kidul. Ruko besar. Katanya akan jadi pusat distribusi baru.

Orang kaya selalu membangun sesuatu yang lebih besar. Orang miskin hanya membangun milik orang kaya. Keringat menetes ke mata Sutrisna. Perih. Ia mengedip pelan.

Di sela suara mesin molen, pikirannya melayang.

Sepuluh tahun. Usianya baru sepuluh saat orang tuanya meninggal dalam selang waktu yang tidak jauh. Tidak ada warisan. Tidak ada saudara dekat yang mau menanggungnya. Ia berhenti sekolah tanpa protes. Seragamnya dilipat rapi lalu disimpan, seolah suatu hari bisa dipakai lagi.

Hari itu tidak pernah datang.

Ia belajar bahwa lapar lebih nyata daripada mimpi.

Ia belajar bahwa dunia tidak peduli pada anak kecil yang menangis.

Dan ketika dewasa ia mencoba merantau dengan sisa tabungan bertahun-tahun, uang itu lenyap ditipu orang yang mengaku bisa memberinya pekerjaan tetap.

Sejak saat itu, ia berhenti berharap terlalu tinggi. Kini tujuannya hanya bertahan hidup.

“Tris.”

Suara itu menariknya kembali ke siang yang panas.

Bagas Pratama berdiri di sampingnya, membawa dua piring makan siang dari dapur darurat di belakang lokasi.

“Istirahat dulu. Nanti tumbang baru repot.”

Sutrisna mengangguk pelan. “Iya.”

Mereka duduk di bawah bayangan dinding yang belum diplester. Nasi, sayur, dan lauk sederhana. Setiap hari makanan itu dimasak oleh Marni Lestari, putri juragan beras yang memiliki bangunan ini.

Sutrisna tidak pernah banyak bicara saat makan. Ia makan cepat, agar bisa kembali melanjutkan pekerjaannya.

Dari kejauhan, Marni, 27 tahun seorang janda beranak satu itu berdiri di dekat meja kayu tempat panci-panci besar disusun. Tatapannya sesekali mengarah ke para pekerja. Wajahnya tenang, cenderung dingin.

Tatapan itu sempat singgah pada Sutrisna yang duduk diam. Hanya sesaat.

Bagas melirik ke arah yang sama, lalu kembali menatap temannya. “Kamu itu kebanyakan ngalah.”

Sutrisna tidak menjawab.

Bagas menyuap nasi ke dalam mulutnya. “Kalau terus kayak gitu, Santoso makin jadi. Dia seneng ada yang bisa diinjek.”

Sutrisna menelan makanannya pelan. “Aku butuh kerjaan. Dia aja udah ngancam buat pecat aku, gimana kalo ngelawan.”

Bagas mendesah.

Istirahat tidak pernah terasa lama. Belum juga nasi habis sepenuhnya, suara berat itu terdengar lagi.

“Sutrisna!”

Nada itu jelas bukan panggilan biasa.

Bagas menyeringai tipis. “Kamu ngelakuin kesalahan apalagi, Tris. Nggak capek apa bikin mandor marah-marah terus.”

Sutrisna berdiri tanpa ekspresi. “Nggak tau.”

Ia meletakkan piringnya, menghapus tangannya dengan kain lusuh, lalu melangkah.

Setiap langkahnya terasa berat, bukan karena lelah, tetapi karena ia sudah tahu apa yang akan ia hadapi lagi. Tatapan para pekerja kembali terasa di punggungnya. Tidak ada yang bersuara, tapi semua mendengar.

Mandor Santoso berdiri di dekat tumpukan besi hollow, wajahnya tidak pernah benar-benar ramah.

Sutrisna berhenti dua langkah di depannya.

“Bapak panggil saya.”

Santoso menatapnya dari atas ke bawah. “Kamu pikir kerjaan ini tempat santai. Padahal kamu bukan kerja sehari, dua hari, tapi masih aja lambat!”

Sutrisna terdiam. Kini ia mengepalkan kedua tangannya dengan kuat. Sampai kuku panjangnya menancap pada pergelangan tangannya. Dadanya terbakar oleh amarah. Kini sesuatu yang ia tahan selama ini ingin sekali meledak rasanya.

Sutrisna ingin sekali melempar ember semen itu dan berjalan pergi. Ia ingin hidup yang tidak membuatnya menunduk setiap hari.

Tapi ia juga tahu satu hal.

Tanpa pekerjaan ini, ia bukan siapa-siapa. Angin siang berembus pelan membawa bau semen dan keringat.

Santoso meludah ke samping, lalu menunjuk ke arah barat lokasi proyek.

“Kamu liat gudang tua itu?”

Sutrisna mengikuti arah telunjuknya. Di balik pagar seng proyek, berdiri bangunan lama yang hampir tertutup semak. Dindingnya kusam, atapnya sebagian ambruk. Itu peninggalan lama yang belum pernah disentuh sejak ia pertama kali bekerja di sana.

“Iya, Pak.”

“Itu mau dibongkar. Perintah langsung dari Pak Parto. Katanya mau dibersihin sekalian sebelum ruko selesai.”

Santoso menyilangkan tangan di dada. “Itu kerjaaan tambahan buat kamu kerjain gudang itu.”

Sutrisna mengangkat kepala sedikit. “Sendiri, Pak?”

Ia menatap sekitar di mana pekerja lain sudah menyiapkan barang-barangnya untuk pulang.

Santoso tersenyum tipis, senyum yang lebih mirip sindiran. “Kenapa? Takut?”

Bukan takut. Gudang itu jelas rapuh. Kayunya lapuk. Tiangnya miring. Bahkan dari jauh saja terlihat tidak aman.

“Tapi itu bangunan lama, Pak. Kayunya udah keropos semua.”

“Makanya dibongkar.” Santoso memotong. “Kamu kan kuat. Atau selama ini cuma kelihatan doang?”

Beberapa pekerja yang berdiri tidak jauh dari situ menahan napas. Mereka tahu artinya. Kerja tambahan. Risiko lebih besar. Upah tetap sama.

Sutrisna menelan ludah.

“Siap, Pak.”

Santoso mendekat satu langkah. Suaranya merendah, tapi tajam. “Kerjain sekarang. Besok pagi harus udah separuh bersih. Jangan sampe saya liat kamu lelet.”

Ia menepuk bahu Sutrisna keras, lebih mirip dorongan.

Sutrisna berbalik tanpa banyak kata. Langkahnya menuju gudang tua terasa seperti menuju sesuatu yang tidak jelas bentuknya.

Bagas mendekat cepat. “Serius kamu disuruh sendirian?”

“Iya.”

“Itu bangunan bisa roboh kapan aja, Tris.”

Sutrisna hanya mengangkat bahu. “Daripada dipecat.”

Bagas mengumpat pelan, tapi tidak bisa berbuat apa-apa.

Sutrisna mulai beranjak mendekati gudang tua itu. Langkahnya sedikit ragu. Ekspresi wajahnya menunjukkan jelas kalau ia menerima pekerjaan ini secara terpaksa.

Gudang itu berdiri sunyi di pinggir lahan. Pintu kayunya setengah terbuka, engselnya berkarat. Bau lembap dan kayu busuk menyambut begitu Sutrisna mendorongnya.

“Sial, baunya busuk sekali!”

Sutrisna langsung menutup mulut dan hidungnya menggunakan tangan.

Bau lembap menusuk hidungnya. Sutrisna menutup mulut dan hidungnya dengan tangan.

Ia baru melangkah dua langkah ke dalam ketika lantai kayu di bawah kakinya mengeluarkan bunyi panjang.

Krek.

Sutrisna berhenti.

Alisnya mengerut. Bunyi itu tidak seperti kayu rapuh biasa. Lebih seperti ada ruang kosong di bawah lantai gudang.

Ia menunduk menatap papan tempat ia berdiri.

“Kenapa bunyinya kayak ada rongga di bawah sini?”

Lanjut membaca
Lanjut membaca