Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Raja Dewa Petir

Raja Dewa Petir

Karya saya | Bersambung
Jumlah kata
52.2K
Popular
100
Subscribe
23
Novel / Raja Dewa Petir
Raja Dewa Petir

Raja Dewa Petir

Karya saya| Bersambung
Jumlah Kata
52.2K
Popular
100
Subscribe
23
Sinopsis
18+FantasiIsekaiHaremDewa Perang21+
Baron adalah pemilik bisnis kolektor (penagih utang) sekaligus penyedia jasa pengawal yang disegani. Hidupnya keras, penuh risiko, dan dipenuhi musuh dari berbagai pihak yang tidak senang dengan caranya bekerja. Ketika situasi memanas dan nyawanya terancam, Baron terpaksa menghilang dan bersembunyi di sebuah desa terpencil. Di desa itu, ia hidup sederhana bersama seorang nenek bernama Pinata, membantu mengurus ladang demi menyembunyikan identitasnya. Namun, kehidupan tenang itu terusik oleh Pak Moris, pria sombong yang meremehkan Baron. Meski kesal, Baron menahan diri demi menjaga penyamarannya. Semua berubah saat persembunyiannya terbongkar. Dalam pelarian, Baron bersembunyi di sebuah sumur tua yang ternyata menjadi gerbang menuju dunia lain—sebuah wilayah kuno bernama Glantic. Di sana, ia bertemu Belia, putri kerajaan yang terusir setelah kudeta yang dilakukan oleh Ramos. Bersama enam pengawal wanita setianya, Belia hidup dalam pelarian, menunggu kesempatan untuk merebut kembali tahtanya. Dengan pengalaman bertarung dan pistol yang menggelegar seperti petir di dunia kuno, Baron dijuluki “Dewa Petir.” Ia menjadi senjata rahasia Belia dalam melawan kekuasaan tiran Ramos. Di tengah peperangan dan perebutan kekuasaan, hubungan mereka semakin erat. Baron bukan hanya menjadi pelindung, tetapi juga bagian dari takdir baru kerajaan—di mana cinta, kekuasaan, dan ambisi menyatu dalam satu legenda besar.
Eps 01 Bersembunyi Dipinggiran Desa

Malam itu, rumah Baron yang biasanya sunyi mendadak berubah menjadi medan perang. Suara pecahan kaca menggema keras ketika sebuah peluru menembus jendela ruang tamu. Baron yang sedang duduk santai seketika terdiam, nalurinya langsung aktif. Tanpa panik, ia meraih pistol yang selalu ia simpan di dekatnya.

“Sudah datang juga…” gumamnya pelan, matanya tajam menatap ke arah jendela yang kini berlubang.

Belum sempat ia berdiri penuh, rentetan tembakan kembali menghujani rumahnya. Dinding berlubang, lampu gantung pecah, dan serpihan kaca beterbangan ke segala arah. Baron bergerak cepat, menjatuhkan tubuhnya ke balik sofa sambil mengamati situasi. Dari suara langkah dan arah tembakan, ia tahu—ini bukan sekadar satu atau dua orang. Mereka datang dalam jumlah besar.

“Lebih dari sepuluh…” pikirnya cepat.

Baron mengintip sedikit dari balik perlindungannya. Bayangan orang-orang bersenjata terlihat mengendap di halaman, beberapa bahkan sudah mendekati pintu depan. Mereka bukan amatir. Gerakan mereka terlatih, terorganisir.

Tanpa ragu, Baron membalas. DOR! Satu tembakan dilepaskan, menjatuhkan salah satu penyerang yang mencoba mendobrak pintu. Teriakan terdengar, namun itu hanya membuat situasi semakin panas. Serangan balasan datang lebih brutal.

DOR! DOR! DOR!

Peluru menghantam sofa tempat Baron berlindung. Ia segera berguling ke samping, berpindah posisi sebelum tempatnya tadi berubah menjadi sasaran empuk. Napasnya tetap teratur, pikirannya jernih meski situasi semakin kacau.

“Kalau terus begini, aku bakal terkepung,” gumamnya.

Baron tahu betul—ini bukan serangan biasa. Para pesaingnya akhirnya memutuskan untuk menghabisinya. Tidak ada ruang untuk negosiasi lagi.

Suara pintu belakang yang didobrak membuatnya menoleh. Mereka sudah masuk.

Baron berdiri cepat, bergerak menuju lorong sempit di sisi rumah. Ia menembak sekali lagi untuk menghambat laju musuh, lalu berlari menuju pintu belakang. Ledakan suara tembakan terus mengejarnya, peluru-peluru menghantam dinding di sekitarnya, nyaris mengenai tubuhnya.

Saat mencapai dapur, ia sempat menoleh ke belakang. Tiga orang sudah masuk ke dalam rumah, senjata mereka terarah padanya.

DOR!

Baron menembak lagi, membuat mereka berlindung sesaat. Kesempatan itu tidak ia sia-siakan. Ia membuka pintu belakang dan langsung melompat keluar ke halaman.

Udara malam yang dingin menyambutnya, namun situasi belum aman. Dari arah samping rumah, dua orang lainnya muncul, mencoba memotong jalannya. Baron bergerak cepat, berlari zig-zag sambil sesekali menembak untuk menjaga jarak.

Ia tahu wilayah ini dengan baik. Tanpa ragu, Baron menuju pagar belakang, melompat dengan gesit meski peluru kembali menghujani dari belakang.

Begitu mendarat di sisi lain, ia tidak berhenti. Kakinya terus bergerak menyusuri gang-gang gelap, menjauh dari rumah yang kini penuh dengan musuh.

Napasnya mulai berat, namun tekadnya semakin kuat.

“Mereka serius ingin menghabisiku…” gumamnya sambil terus berlari.

Baron akhirnya berhenti sejenak di sudut gelap, memastikan tidak ada yang mengikutinya. Matanya menatap ke arah jauh, penuh perhitungan.

“Kalau aku tetap di kota… ini belum akan berakhir.”

Ia mengepalkan tangannya.

“Sudah saatnya menghilang.”

Dengan keputusan itu, Baron pun melangkah pergi, meninggalkan kehidupan lamanya—menuju takdir baru yang belum ia ketahui.

---

Perjalanan Baron meninggalkan kota bukanlah hal yang mudah. Selama dua hari penuh, ia terus berpindah tempat, menghindari jalan utama, dan hanya beristirahat di tempat-tempat yang jarang dilalui orang. Ia tahu, musuhnya bukan tipe yang mudah menyerah. Mereka pasti menyebar orang untuk mencarinya.

Dengan pakaian seadanya dan wajah yang mulai terlihat lelah, Baron akhirnya tiba di sebuah desa terpencil yang jauh dari hiruk-pikuk kota. Desa itu tampak sederhana—jalan tanah yang berdebu, rumah-rumah kayu yang berdiri berjajar, serta ladang luas yang mengelilinginya. Tidak ada tanda-tanda modernisasi berlebihan. Tempat seperti ini, pikir Baron, adalah lokasi terbaik untuk menghilang.

Ia berjalan perlahan memasuki desa, memperhatikan setiap sudut dengan waspada. Beberapa warga yang melihatnya hanya melirik sekilas, lalu kembali pada aktivitas mereka. Tidak ada yang terlalu peduli dengan orang asing—sesuatu yang membuat Baron sedikit lega.

Langkahnya terhenti ketika melihat seorang nenek tua yang sedang kesulitan mengangkat karung di pinggir ladang. Tubuhnya renta, rambutnya memutih, namun ia tetap berusaha mengangkat beban itu seorang diri.

Baron menghela napas pelan. Tanpa banyak berpikir, ia mendekat.

“Biar saya bantu, Nek,” ucapnya singkat.

Nenek itu terkejut, menoleh dengan tatapan penuh tanya. Namun sebelum ia sempat menolak, Baron sudah mengangkat karung itu dengan mudah, seolah tidak ada beban sama sekali.

“Eh… terima kasih, Nak,” ucap sang nenek dengan suara lembut.

Baron hanya mengangguk. “Mau dibawa ke mana?”

“Ke rumah… di sana,” jawabnya sambil menunjuk sebuah rumah kayu sederhana yang tidak jauh dari ladang.

Tanpa banyak bicara, Baron mengikutinya. Sesampainya di rumah itu, ia meletakkan karung dengan hati-hati. Ia memperhatikan sekeliling—rumah itu kecil, sederhana, bahkan terlihat sepi. Sepertinya nenek ini hidup seorang diri.

“Namamu siapa, Nak?” tanya sang nenek.

“Baron,” jawabnya singkat.

“Nenek Pinata,” balasnya sambil tersenyum hangat.

Ada sesuatu dari senyuman itu yang membuat Baron merasa sedikit tenang—perasaan yang sudah lama tidak ia rasakan.

Melihat kondisi rumah dan ladang yang cukup luas, Baron mulai berpikir. Tempat ini jauh dari perhatian, jauh dari keramaian, dan yang terpenting—tidak ada yang mengenalnya.

“Apa nenek tinggal sendiri?” tanya Baron.

Pinata mengangguk pelan. “Sudah lama… anak dan cucu nenek di kota. Jarang pulang.”

Baron terdiam sejenak, lalu menghela napas. Keputusan mulai terbentuk di kepalanya.

“Nek,” katanya pelan, “kalau nenek tidak keberatan… saya mau tinggal di sini sementara.”

Pinata terlihat sedikit terkejut. “Tinggal? Maksudnya… di rumah ini?”

Baron mengangguk. “Saya bisa bantu kerja di ladang. Anggap saja balas budi.”

Nenek itu menatap Baron cukup lama, seolah mencoba membaca niatnya. Namun yang ia lihat hanyalah kelelahan dan ketulusan yang tidak dibuat-buat.

Akhirnya, ia tersenyum.

“Kalau begitu… nenek tidak keberatan. Rumah ini juga terlalu sepi.”

Baron mengangguk kecil. “Terima kasih.”

Sejak saat itu, Baron resmi tinggal di desa tersebut bersama Nenek Pinata. Hari-harinya berubah drastis. Dari kehidupan penuh bahaya dan senjata, kini ia harus berhadapan dengan cangkul, tanah, dan tanaman.

Namun di balik kesederhanaan itu, Baron tidak pernah lengah. Setiap malam, ia tetap waspada. Pistolnya selalu berada dalam jangkauan. Ia tahu, ini bukan akhir dari masalahnya—hanya jeda sementara.

Meski begitu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Baron merasakan sesuatu yang berbeda.

Ketenangan.

Dan mungkin… awal dari takdir yang jauh lebih besar.

---

Hari-hari Baron di desa itu mulai berjalan dengan ritme yang sama sekali berbeda dari kehidupannya dahulu. Tidak ada lagi suara tembakan, tidak ada lagi ancaman yang datang tiba-tiba—yang ada hanyalah suara angin, gesekan daun, dan cangkul yang menghantam tanah.

Pagi itu, matahari baru saja naik ketika Baron sudah berada di ladang milik Nenek Pinata. Dengan pakaian sederhana dan topi caping yang sedikit miring, ia mencangkul tanah dengan gerakan yang mulai terbiasa. Meski awalnya terasa asing, kini tubuhnya mulai menyesuaikan diri dengan pekerjaan kasar itu.

“Pelan-pelan saja, Nak Baron,” suara Nenek Pinata terdengar dari kejauhan. Ia duduk di bangku kayu sambil mengupas singkong. “Tanahnya keras, jangan dipaksa.”

Baron menghentikan cangkulnya sejenak, lalu mengusap keringat di dahinya. “Tidak apa-apa, Nek. Lebih cepat selesai, lebih baik.”

Nenek itu hanya tersenyum melihat semangatnya. Sejak Baron tinggal bersamanya, ladang yang dulu terbengkalai perlahan mulai kembali hidup. Tanaman ditata rapi, gulma dibersihkan, dan hasil panen mulai terlihat menjanjikan.

Namun, ketenangan itu tidak sepenuhnya damai.

Ketika Baron sedang mengangkat karung hasil panen, suara langkah kaki terdengar mendekat. Berat, percaya diri, dan sedikit sengaja dibuat mencolok.

Baron menoleh.

Seorang pria paruh baya dengan perut buncit dan pakaian rapi berdiri di pinggir ladang. Wajahnya penuh kesombongan, matanya menatap merendahkan. Di belakangnya, dua orang pemuda berdiri seperti pengikut.

“Wah, wah… siapa ini?” ucap pria itu dengan nada mengejek. “Nenek tua seperti kamu sekarang punya buruh baru?”

Baron tidak langsung menjawab. Ia hanya meletakkan karung di tanah dengan tenang, lalu menatap pria itu tanpa ekspresi.

“Nak Baron ini membantu nenek,” jawab Pinata lembut, mencoba menjaga suasana. “Dia tinggal di sini sekarang.”

“Hmm,” pria itu mendengus. “Pendatang ya? Pantas saja.”

Ia melangkah masuk ke ladang tanpa permisi, sepatu bersihnya menginjak tanah yang baru diolah.

“Aku Moris,” katanya dengan nada tinggi, seolah nama itu harus dihormati. “Pemilik sebagian besar tanah di desa ini.”

Baron tetap diam. Tatapannya tajam, namun ia menahan diri.

Moris melirik hasil panen di sekitar. “Lumayan juga hasilnya. Tapi jangan lupa, lahan ini masih punya urusan dengan saya, Nek Pinata.”

Pinata terlihat sedikit gelisah. “Nenek masih berusaha melunasi, Pak Moris…”

“Berusaha?” potong Moris sambil tertawa kecil. “Sudah berapa tahun kamu bilang begitu?”

Suasana mendadak tegang. Baron bisa merasakan tekanan dalam kata-kata pria itu. Jelas, Moris bukan sekadar sombong—ia juga memanfaatkan keadaan.

Baron melangkah maju sedikit, berdiri di antara Moris dan Pinata.

“Kami akan urus itu,” ucapnya singkat.

Moris menatap Baron dari atas ke bawah, lalu tersenyum sinis. “Kamu? Pendatang seperti kamu mau ikut campur?”

Baron tidak menjawab. Namun tatapannya tidak goyah sedikit pun.

Beberapa detik hening berlalu. Angin berhembus pelan, membawa suasana yang semakin berat.

Moris akhirnya tertawa kecil. “Hah, berani juga. Tapi ingat, ini desa, bukan tempatmu bermain jagoan.”

Ia berbalik, memberi isyarat pada dua orang di belakangnya untuk pergi. Sebelum benar-benar meninggalkan ladang, ia menoleh sekali lagi.

“Jangan terlalu nyaman di sini. Semua yang ada di desa ini… ada harganya.”

Langkahnya menjauh, meninggalkan keheningan yang terasa lebih dingin dari sebelumnya.

Baron mengepalkan tangannya. Dalam hatinya, amarah mulai muncul. Jika ini di kota, Moris sudah lama ia beri pelajaran. Namun sekarang, ia bukan siapa-siapa di tempat ini.

Ia menghela napas panjang, berusaha menenangkan diri.

“Maaf ya, Nak…” suara Pinata terdengar pelan. “Pak Moris memang begitu orangnya.”

Baron menggeleng. “Tidak apa-apa, Nek.”

Ia kembali mengambil cangkulnya, namun kali ini pikirannya tidak setenang sebelumnya.

Desa ini mungkin terlihat damai di luar.

Tapi bagi Baron, masalah… sepertinya baru saja dimulai.

Lanjut membaca
Lanjut membaca