

Angin sore yang berhembus melintasi Lembah Tilia biasanya membawa aroma pinus basah dan tanah gembur. Namun, selama tiga hari terakhir, ada sesuatu yang salah dengan angin itu. Tercium bau yang sangat tipis namun mengganggu—seperti logam yang terbakar atau belerang yang terpendam jauh di dalam tanah.
Arun menyeka keringat yang membasahi dahinya dengan punggung tangan yang kasar dan kapalan. Pemuda berusia sembilan belas tahun itu memicingkan mata ke arah matahari yang perlahan tenggelam di ufuk barat. Di bawah cahaya jingga kemerahan, ladang gandum di Desa Lembah Tilia tampak seperti lautan emas yang beriak pelan. Arun mengayunkan sabitnya untuk terakhir kali hari itu, memotong setumpuk gandum dengan gerakan efisien yang hanya bisa didapatkan dari kerja keras bertahun-tahun.
"Sudah cukup untuk hari ini, Arun!" Suara serak Paman Kian, tetangganya yang tertua di desa, terdengar dari pematang sawah. Pria tua itu bersandar pada tongkat kayunya, menatap langit selatan dengan kening berkerut. "Matahari turun lebih cepat akhir-akhir ini. Dan lihatlah awan-awan itu."
Arun menegakkan punggungnya, merasakan otot-ototnya memprotes. Ia mengikuti arah pandang Paman Kian. Di kejauhan selatan, jauh melewati batas Hutan Hitam yang tak pernah dimasuki warga, gumpalan awan gelap berarak lambat. Itu bukan awan badai biasa; warnanya terlalu pekat, ungu kehitaman, seolah langit itu sendiri sedang memar.
"Mungkin hanya badai dari Pegunungan Karst, Paman," jawab Arun, mencoba terdengar menenangkan. Ia mengumpulkan sisa gandumnya ke dalam keranjang anyaman.
"Kau terlalu muda untuk mengingatnya, Nak. Tapi aku pernah melihat warna langit seperti itu saat aku masih sekecil lutut," Paman Kian bergumam, suaranya nyaris bergetar. "Itu bukan badai air. Itu jelaga. Sesuatu sedang terbakar di selatan."
Arun hanya tersenyum tipis, tidak ingin berdebat. Ia dikenal di desa sebagai pemuda yang praktis. Baginya, dunia hanya seluas ladang gandum, penggilingan air di ujung sungai, dan pondok kayunya. Legenda tentang perang malaikat dan iblis, atau kisah tentang kerajaan fana yang saling membantai di ibu kota, hanyalah dongeng yang diceritakan para pedagang keliling di kedai tuak.
Saat ia membungkuk untuk mengangkat keranjangnya, sebuah benda tergelincir dari balik kerah tunik kasarnya. Sebuah kalung berbandul kayu tua berayun di depan dadanya. Ukurannya hanya sebesar telapak tangan bayi, diukir dengan simbol-simbol aneh yang tampak seperti akar pohon yang saling melilit.
Arun menyentuh liontin itu. Anehnya, kayu itu terasa hangat. Bukan hangat karena terpapar sinar matahari, melainkan seolah ada denyut kehidupan yang sangat pelan di dalamnya. Pusaka itu adalah satu-satunya peninggalan ayahnya yang meninggal sepuluh tahun lalu karena demam misterius. "Jangan pernah melepaskannya, Arun. Ini bukan sekadar kayu, ini adalah janji," kalimat terakhir ayahnya kembali terngiang, sebuah pesan absurd yang selalu Arun patuhi tanpa banyak bertanya.
"Pulanglah, Arun. Kunci pintumu rapat-rapat malam ini," pesan Paman Kian sebelum berbalik pergi.
Arun mengangguk. Ia memanggul keranjangnya dan berjalan menyusuri jalan setapak tanah menuju pusat desa. Lembah Tilia adalah desa yang damai, berisi tak lebih dari lima puluh kepala keluarga. Suara anak-anak yang berlarian mengejar angsa, tawa para wanita yang sedang menumbuk jagung, dan suara gemerincing dari pandai besi desa adalah harmoni keseharian yang sangat dicintai Arun. Ia selalu merasa memiliki tanggung jawab untuk menjaga senyum-senyum itu, sering kali membantu memperbaiki atap bocor atau memotong kayu bakar bagi para janda di desa tanpa meminta imbalan. Ia miskin harta, namun kaya akan simpati.
Malam turun dengan cepat dan tak wajar. Udara yang biasanya dingin menggigit kini terasa sumpek dan berat. Tidak ada suara jangkrik. Bahkan anjing-anjing penjaga desa bersembunyi di bawah kolong rumah dengan ekor terselip di antara dua kaki mereka, menolak untuk menggonggong.
Arun baru saja selesai memakan semangkuk bubur gandumnya ketika ia mendengarnya.
Sebuah suara retakan ranting dari arah hutan. Terlalu keras untuk ukuran babi hutan.
Arun meletakkan mangkuk kayu di atas meja. Instingnya—yang biasanya hanya digunakan untuk membaca cuaca panen—tiba-tiba menjeritkan bahaya. Ia berdiri, berjalan perlahan menuju jendela pondoknya yang menghadap langsung ke arah perbatasan desa.
Kegelapan di luar terasa pekat. Namun, di antara sela-sela pepohonan ek yang mengelilingi desa, ada sesuatu yang bergerak. Sesuatu yang melata.
Lalu, sebuah jeritan melengking merobek kesunyian malam. Itu bukan jeritan hewan. Itu jeritan Paman Kian.
Darah Arun berdesir dingin. Tanpa berpikir panjang, ia menyambar sabit panennya yang tergeletak di dekat pintu dan berlari keluar.
Begitu pintu terbuka, bau busuk langsung menghantam penciumannya. Bau daging membusuk, darah kering, dan sulfur. Pemandangan di depannya membuat napasnya tercekat. Pusat desa telah berubah menjadi neraka. Tiga pondok jerami sudah dilalap api yang anehnya berwarna kehijauan.
Di tengah cahaya api yang menari-nari, Arun melihat mereka.
Mereka bukanlah manusia, dan jelas bukan hewan buas biasa. Makhluk-makhluk itu bertubuh bungkuk, dengan kulit pucat keabu-abuan yang dipenuhi bisul bernanah. Tingginya setara dengan dada pria dewasa, namun lengan mereka sangat panjang hingga buku-buku jarinya menyapu tanah. Mata mereka berwarna kuning menyala tanpa pupil, menatap dengan lapar. Penduduk Eraloria zaman dulu menyebut mereka Krall—anjing pelacak kegelapan, hasil persilangan sihir hitam dengan mayat-mayat goblin kuno.
Seorang wanita berlari dari arah penggilingan sambil menggendong bayinya, menangis histeris. Seekor Krall melompat dari atas atap jerami dengan kecepatan yang tidak masuk akal, mendarat tepat di depannya. Makhluk itu mengangkat bilah pedang berkarat yang bergerigi, bersiap menebas wanita itu.
"Menjauh darinya!" teriak Arun. Rasa takutnya tertutup oleh amarah yang tiba-tiba meledak. Ia berlari menerjang, mengayunkan sabitnya sekuat tenaga.
Sabit itu menancap di bahu makhluk tersebut. Darah hitam pekat dan kental menyemprot keluar, mendesis saat mengenai tanah rumput. Makhluk itu memekik dengan suara seperti logam bergesekan, berbalik menatap Arun dengan rahang bawah yang terbelah dua.
Wanita itu berhasil melarikan diri, namun kini Arun menjadi sasaran. Dua Krall lain muncul dari balik bayang-bayang, menyadari ada mangsa yang berani melawan. Mereka mengendus udara, kepala mereka bergerak patah-patah. Tiba-tiba, mata kuning mereka melebar. Mereka tidak lagi menatap wajah Arun, melainkan menatap tepat ke arah dadanya.
Liontin itu.
Liontin kayu di balik baju Arun mulai bergetar hebat. Panas yang memancar dari kayu purba itu kini terasa membakar kulitnya. Tanpa Arun sadari, dari celah-celah serat kayu tersebut, memancar cahaya keemasan yang menembus serat kain bajunya.
Para Krall itu mengeluarkan suara mendesis serempak. Itu bukan lagi tatapan lapar akan daging; itu adalah tatapan memuja dan penuh obsesi. Mereka telah menemukan apa yang mereka cari.
Arun mundur perlahan. Sabitnya masih tertancap di bahu makhluk pertama, meninggalkannya tanpa senjata. Ia menabrak dinding kayu sebuah lumbung. Jalan buntunya telah tiba. Lima ekor Krall kini mengelilinginya, air liur asam menetes dari taring-taring mereka yang tidak rata.
"Apa yang kalian inginkan?!" gertak Arun, menutupi rasa gemetar di suaranya. Ia menutupi dadanya dengan tangan, mencoba meredam cahaya liontinnya yang kini bersinar semakin terang, nyaris menyilaukan matanya sendiri.
Makhluk terbesar dari kelompok itu melangkah maju. Ia mengangkat pedang bergeriginya, bersiap membelah dada Arun untuk mengambil pusaka tersebut. Arun memejamkan mata, menaikkan lengannya untuk melindungi wajahnya dalam sebuah gerakan sia-sia. Ia bersiap menerima kematiannya.
Satu detik berlalu. Dua detik.
Kematian tidak datang. Sebaliknya, terdengar suara siulan angin yang sangat tajam, diikuti oleh suara KRAK yang menjijikkan—seperti tulang belakang yang dipatahkan dengan paksa.
Arun membuka matanya perlahan.
Makhluk raksasa yang hendak membunuhnya kini tergeletak di tanah, kepalanya terpisah dari lehernya. Darah hitam menggenang. Di belakang mayat makhluk itu, berdiri sesosok bayangan tinggi besar yang seolah melangkah keluar dari kegelapan malam itu sendiri.
Sosok itu mengenakan zirah pelat besi yang usang dan penuh goresan, dibalut jubah abu-abu yang compang-camping di bagian ujungnya. Di tangan kanannya, ia menggenggam sebuah pedang dua tangan (greatsword) yang ukurannya nyaris setinggi manusia. Bilah pedang itu tidak berlumuran darah hitam makhluk tadi, melainkan memancarkan uap tipis, seolah pedang itu sendiri membakar darah kotor yang menyentuhnya.
Sisa Krall yang ada melolong marah dan menerjang serentak ke arah sosok misterius tersebut.
Pria berzirah itu tidak panik. Gerakannya bukan gerakan prajurit yang mengandalkan tenaga brutal, melainkan tarian mematikan dari seorang veteran yang telah membunuh ribuan kali. Ia memutar pedang besarnya dengan satu tangan, menciptakan pusaran baja. Dua Krall terbelah di bagian pinggang sebelum kaki mereka menyentuh tanah. Satu Krall mencoba melompat dari arah belakang, namun pria itu dengan santai menghantamkan pangkal pedangnya ke wajah makhluk itu, menghancurkan tengkoraknya seketika.
Hanya dalam waktu kurang dari sepuluh tarikan napas, lima monster mengerikan itu menjadi onggokan daging mati.
Keheningan kembali menyelimuti area lumbung itu, hanya disela oleh suara api yang melahap atap jerami di kejauhan. Pria berzirah itu mengibaskan pedangnya, membersihkan sisa darah hitam, lalu menyarungkannya ke punggung dengan bunyi dentang yang berat.
Ia berbalik menatap Arun. Dari balik pelindung kepalanya yang terbuka separuh, Arun melihat wajah pria yang tegas, dipenuhi bekas luka codet di pipi kiri, dan mata abu-abu setajam elang. Usianya mungkin akhir empat puluhan.
Pria itu menatap dada Arun yang masih memancarkan cahaya keemasan. Ia berjalan mendekat. Setiap langkah kakinya yang berlapis baja terdengar berat dan sarat akan otoritas.
"Sudah tiga ribu tahun," suara pria itu berat dan serak, menggema di malam yang kacau itu. Ia tidak menatap wajah Arun, melainkan menatap langsung ke liontin di balik bajunya. "Aku mencari pusaka ini di reruntuhan raja-raja, di makam para dewa yang terlupakan... dan ternyata, kunci keselamatan dunia selama ini digantungkan di leher seorang petani gandum."
Arun masih terpaku, napasnya memburu. "S-siapa kau?"
Pria itu menatap mata Arun, tatapannya menembus hingga ke ulu hati. "Namaku Kaelen. Dan jika kau masih ingin bernapas saat matahari terbit besok pagi, Nak, kau harus ikut denganku sekarang juga. Mereka yang asli baru saja datang."
Tepat saat Kaelen menyelesaikan kalimatnya, dari arah Hutan Hitam terdengar suara terompet perang yang sangat panjang dan mengerikan—suara melengking yang membuat tanah yang dipijak Arun bergetar hebat, meruntuhkan sisa-sisa tembok lumbung di belakangnya.