Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Tante Bikin Hidupku Enak

Tante Bikin Hidupku Enak

Lelevil Lelesan | Bersambung
Jumlah kata
51.0K
Popular
5.0K
Subscribe
1.1K
Novel / Tante Bikin Hidupku Enak
Tante Bikin Hidupku Enak

Tante Bikin Hidupku Enak

Lelevil Lelesan| Bersambung
Jumlah Kata
51.0K
Popular
5.0K
Subscribe
1.1K
Sinopsis
18+PerkotaanSekolahKonglomeratPria MiskinHarem
Bimo Raharjo terjebak dalam kenikmatan para wanita cantik yang memanjakannya! Namun, para wanita dewasa itu bukan dari kalangan sembarangan. Siapa sangka, ajaran-ajaran para wanita seksi itu mengubah hidup Bimo yang tadinya direndahkan menjadi pria terpandang dan disegani. Simak kisahnya, jangan sampai kelewat satu bab!
Bab 1-Coffee Shop

"Najis! Ngapain lu pegang-pegang laptop gue!" teriak seorang mahasiswa bernama Radit langsung merebut.

"Kan, gue kan--"

"Apa lu, miskin! Gue yang jadi ketua kelompok, bukan lu! Kerjain aja di kertas buluk lu itu. Nanti Amel yang bakal ngetik!" teriak Radit melotot.

Tangan Bimo mengepal. Bukan pertama kalinya ia dihina dan direndahkan.

Miskin! Miskin!

Ucapan itu tak hanya sehari dua hari ia dengar. Tapi setiap hari. Tidak! Hampir setiap menit!

"Baper lu ya? Hahaha! Dasar kampungan! Makanya, beli laptop. Hari gini kuliah modal buku doang. Lu kira kuliah zaman penjajahan? Hahaha!" ledek seorang mahasiswi bernama Amel, kawan Radit.

"Heh, udah. Tar dia ngambek gak mau bikinin kita tugas lagi!" sahut Mitha melotot.

"Heh! Berani dia nolak, bakal gue bikin dia out dari kampus sini! Biar ortunya di kampung makin sengsara karena anak yang dikirim jauh, gagal jadi sarjana!"

Napas Bimo memburu dengan mata terpejam rapat. Suara tawa kawan-kawannya terdengar nyaring di telinga.

Ia tak bisa marah karena ucapan Radit benar. Ia tak bisa pulang tanpa gelar sarjana. Harapan kedua orang tuanya hanyalah, ia lulus dan menjadi kebanggaan mereka.

"Santai aja," jawab Bimo dengan senyuman.

"Najis. Gak usah sok bijak lu! Buruan dikerjain!" Radit kesal.

Bimo ditinggal oleh kawan-kawannya. Ia dibiarkan mengerjakan tugas itu sendirian. Dalam keterpurukan karena sadar jika dimanfaatkan, tiba-tiba, PIP! PIP!

"Sial! Gue bisa terlambat!" pekiknya panik dan bergegas memasukkan perlengkapannya ke dalam tas ransel.

Bimo berlari sampai keringatnya bercucuran. Semua angkot yang ia hadang tak mau memberikan tumpangan, penuh. Ia yang sudah diberi peringatan terakhir agar tak membuat kesalahan. Padahal, untuk sampai di tempat kerjanya membutuhkan waktu 15, nekat berlari.

Hingga akhirnya, TET!

"Jam berapa!"

Suara lengkingan praktis membuat Bimo langsung memejamkan mata. Ia yang baru saja absen dengan sidik jari, menarik napas dalam.

"Terlambat satu menit, Pak," jawabnya dengan keringat bercucuran.

Seorang pria berjambang tipis menatapnya rendah, dari kepala hingga ke kaki. Bertolak pinggang lalu tersenyum miring. Bimo tertunduk.

"Kalau bukan karena kamu mau dibayar murah, saya gak pernah sudi terima orang kaya kamu di kedai ini."

Bimo terdiam. Lagi, ia direndahkan.

"Ngapain masih di sini? Kerja!"

"Baik, Pak!"

Bimo segera mencuci tangan dan membasuh wajah usai meletakkan tasnya di loker. Ia mengalungkan celemek dan siap untuk menuangkan biji kopi ke toples yang sudah kosong.

Ya, Bimo bekerja di sebuah kedai kopi sebagai pekerjaan sambilan. Orang tuanya sudah tak bisa mengiriminya uang lagi.

Ayahnya di PHK dan tak mendapatkan pesangon. Ibunya jatuh sakit karena kelelahan bekerja sebagai pembantu rumah tangga panggilan. Sang ayah belum mendapatkan pekerjaan pengganti 6 bulan ini yang membuat ekonomi mereka terguncang.

Bimo yang memikirkan nasibnya dan berniat untuk tak melanjutkan kuliah, tak sadar ketika ....

PRANG!

"Bimo!"

Pemuda itu terperanjat dan langsung menoleh. Sang manager mendatanginya dengan langkah cepat, mengepalkan kedua tangan. Terlihat jelas kemarahan dari raut wajahnya.

"Ma-maaf, Pak!" jawab Bimo panik. Ia bergegas memunguti biji kopi yang berceceran di lantai akibat kesalahannya.

"Enak aja! Ini adalah peringatan terakhir! Pilih. Ganti rugi, atau kamu pergi dari kedai kopi ini tanpa gaji!"

"Jangan, Pak! Saya akan ganti rugi. Suer!" jawabnya memelas.

"Besok! Besok uang itu harus sudah ada di tangan saya. Gak ada kesempatan lagi. Saya hanya manager dan kecerobohan kamu, membuat saya yang harus tanggung jawab!" bentak pria itu melotot.

"Kerja gak becus kenapa masih dipertahankan sih, Om? Saya juga punya pegawai, persis seperti dia. Kalau saya, sekali bikin salah, langsung buang. Jadi beban," sahut seorang wanita menatap Bimo sinis.

"Saya setuju, Mbak. Kalau bukan karena peraturan dari pusat, dia sudah saya pecat sejak kemarin," tegas manager itu melotot.

Bimo menundukkan wajah. Hatinya tertekan. Ia tak bisa konsentrasi bekerja karena ibunya sedang sakit. Ingin pulang, tapi tak memiliki uang. Kosan sudah menunggak dua bulan. Dan jika ia tak menerima gaji bulan ini, dia akan menjadi gelandangan.

"Please, Pak. Saya benar-benar butuh kerjaan ini," pintanya memohon.

Terpaksa demi menyelamatkan hidupnya selama berkuliah. Ia tak peduli jika hari ini, harga dirinya sebagai lelaki harus terinjak. Namun, hanya hari ini!

"Jika besok uang ganti rugi gak saya terima, out! Keluar! Jangan pernah kembali lagi!" teriak menager itu yang suaranya mengalahkan petir.

"Saya mengerti, Pak. Besok saya bayar," jawabnya mantap, meski kepalanya terasa berat dan oksigen seperti tak masuk ke paru-parunya.

Bayar ganti rugi? Uang dari mana!

"Bawa biji kopi yang sudah kotor itu! Jangan pakai plastik atau paper bag di tempat ini! Semua ada harganya!"

"Baik, Pak."

Bimo memasukkan biji kopi ke dalam saku celananya. Para pelanggan yang melihat Bimo dimaki-maki malah mencibirnya. Pemuda itu hanya bisa menahan rasa kesal dan malu karena dipermalukan di depan umum. Ia membersihkan pecahan kaca dari toples biji kopi dengan hati-hati, tetapi nasib sial masih mengikutinya.

"Argh!"

"Heh, rasain," sindir manager itu puas saat melihat jari Bimo terkena pecahan kaca. Darah langsung menetes deras. Ia terpaksa mengemutnya agar tak mengotori celemek kerja.

Hingga tiba-tiba, "Bimo."

Bimo yang masih berjongkok melihat sepasang heels berwarna merah menyala di samping tangannya. Kepala pemuda itu mendongak lalu sigap berdiri. Ia gugup.

"Bu Nadia?"

Wanita muda itu melihat sekitar lalu menyelipkan uang ke saku celana Bimo. Pemuda itu terkejut.

"Bayar ke si bawel itu lalu temui saya di luar."

"Ha?"

Namun, Nadia hanya tersenyum miring. Ia berjalan menuju pintu dengan anggun yang membuat Bimo terpesona. Bimo yang penasaran karena sakunya terasa tebal terkejut saat melihat uang yang digulung itu senilai satu juta rupiah.

"Hei! Uang siapa itu? Kau mencurinya?!" bentak manager menunjuk.

"I-ini ...."

PLAK!

"Agh!"

Bimo tertegun karena ditampar. Jantungnya langsung berdebar kencang. Pipinya terasa panas dan perih. Namun, rasa sakit itu tak sepadan ketika manager berteriak di dalam kedai untuk bertanya siapa yang merasa kehilangan uang. Namun, tak ada yang mengaku.

"Kau dapat dari mana uang itu, pencuri?" tanyanya melotot.

Bimo yang sudah tak bisa menahan emosinya lagi, karena selalu dihina, direndahkan, dan dicaci maki, meremas uang itu.

Saat tangannya terangkat siap membalas, tiba-tiba, "DIAM!"

Sang manager terbelalak. Ia benar-benar tak menduga jika seorang wanita cantik berani melemparkan uang padanya. Lembaran kertas itu berhamburan di lantai.

Bimo tertegun karena dibela. Dan ini pertama kalinya! Nadia kembali, hanya untuk dirinya.

"Bimo tak akan pernah bekerja di tempat ini lagi. Dan ...."

Nadia tiba-tiba melangkah maju. Menatap manager itu tajam, mengintimidasi.

"Bersiaplah untuk mencari pekerjaan baru, Pak Abas," bisiknya yang membuat mata manager itu terbelalak karena dikenali.

Bimo dibuat bingung saat Nadia melenggang pergi meninggalkan kedai. Pemuda itu sigap melepaskan celemek dan meletakkannya begitu saja di atas meja kasir.

Ia mengambil tasnya lalu keluar dengan tergesa mengejar Nadia. Namun, setibanya di luar, ia tak mendapati wanita cantik itu. Bimo sampai memutar tubuhnya.

Saat Bimo putus asa, tiba-tiba, BIM!

"Oh! Bu-bu Nadia ...."

Mata Bimo terkunci pada sosok wanita yang duduk di kursi kemudi sebuah mobil sedan mewah. Nadia menggunakan satu telunjuknya, memberi isyarat agar Bimo mendekat.

Begitu lugunya, Bimo mendekati mobil dan duduk di bangku depan karena Nadia memintanya. Di hadapannya, Nadia tersenyum samar, tatapannya menusuk seolah menyimpan rahasia.

"Bimo," ucapnya pelan, nyaris seperti bisikan.

Ia mendekat, jarak di antara mereka hanya sehelai rambut. Bimo menelan ludah dengan jantung berdebar. Ia bisa mencium aroma parfum lembut dari gerakan tubuh Nadia.

"Aku bisa memberimu jalan keluar," lanjutnya. Jemari Nadia menyentuh saku celana Bimo seakan menegaskan uang yang tadi ia selipkan. "Tak perlu lagi kau bertahan di tempat yang merendahkanmu."

Bimo menelan ludah. "Maksud Bu Nadia ... ibu menawarkan saya pekerjaan?"

Nadia tersenyum miring, menggigit bibir bawahnya sebentar. Gemas!

"Ya. Pekerjaan ... khusus. Untukku saja."

Tatapannya berkilat, ambigu antara tawaran serius atau godaan. Bimo mematung, tak tahu harus menafsirkan kata-kata itu sebagai kesempatan atau jebakan?

Lanjut membaca
Lanjut membaca