

Malam itu kota tempat Kael tinggal sedang diguyur hujan, hawa dingin menyelimuti kota. Cukup untuk membuat kota terasa lebih sepi dari biasanya.
Kael Artherion duduk sendiri di dalam mobilnya yang tengah terparkir disebuah parking area di taman dekat rumahnya, atau mungkin tidak bisa disebut rumah lagi baginya.
Hening, hanya suara hujan yang jatuh memukul kaca depan mobil Kael.
Ditangannya, ada selembar amplop yang sudah terbuka dan dibaca. Namun, terasa seperti tidak nyata.
Diamplop itu tertulis tebal "Undangan Sidang Perceraian"
Kael menatap undangan itu lama, seolah-olah kalau ia tidak berkedip, semuanya akan kembali seperti semula.
Tapi tidak.
Nama itu tetap berada di sana, tertulis rapi penggugat "Keira Varelyn" istrinya, atau mungkin tidak lagi.
Ia tertawa pelan, hampa rasanya.
"Lucu" gumam kael, suaranya hampir tidak terdengar karna kerasnya suara hujan.
Kael meratapi dirinya, ia bisa saja memasuki gedung yang terbakar, menaiki gedung tinggi untuk menyelamatkan siapa saja dari bahaya tanpa ada rasa takut.
Tapi kali ini, kael tidak bisa menyelamatkan rumah tangganya sendiri. Ia termenung, mengingat saat dirinya masih berusia 19 tahun dan Keira berumur 17 tahun, di mana mereka masih terlalu muda untuk menikah. Terlebih lagi, Kael merasa bahwa ia sudah menghancurkan masa muda Keira. Masa muda yang harusnya Keira nikmati tetapi tidak bisa.
Banyak penyesalan yang Kael alami, bukan menyesal karna menikahi Keira. Iya menyesal karena telah membuat Keira merasakan hal ini.
Kael mengepalkan tangannya, meremas kertas itu hingga tidak berbentuk.
Sesaat setelah itu ponselnya bergetar, layar ponselnya menyala dan terlihat notifikasi pesan masuk dari Kaelyn. Anaknya.
"Ayah sedang apa?"
"Ayah akan pulangkan malam ini? Aku rindu ayah"
Napasnya tertahan seketika. Untuk pertama kalinya malam itu, kael tidak tahu harus menjawab apa, mengingat ia sudah sangat sering melanggar janji pada putrinya itu.
Kaelyn yang masih berusia 6 tahun, masih belum mengerti tentang bagaimana dan apa itu "perceraian"
Ia menatap layar ponselnya cukup lama.
Mengetiknya, lalu menghapusnya. Begitu berulang kali hinga akhirnya, kael mengetik sebuah pesan singkat.
"Iya sayang, ayah akan pulang." Dengan sekali tekan, pesan itu terkirim. Kebohongan kecil yang ia ulang kembali.
Tetapi kali ini, terasa lebih berat. Padahal, biasanya ia selalu mengingkari janji Kaelyn.
Kael menyandarkan kepalanya ke kursi, helaan nafas berat keluar dari mulutnya.
Hujan deras masih turun, dunia masih berjalan. Tetapi separuh di dalam dirinya perlahan runtuh.
"Sejak kapan" ucapnya lirih. "Rumah terasa lebih jauh sekarang.."
Kael menatap kosong ke arah depan. Tidak ada arah, tidak ada tujuan. Ia juga bingung harus pulang ke mana.
Jika ia pulang ke rumah malam ini, ia oasti akan dimaki oleh kedua orangtua Keira. Karena kedua orang tua Keira sekarang sedang menginap untuk menghadiri sidang perceraian besok.
Kael memejamkan matanya, karena sepertinya malam ini ia akan tidur di dalam mobil.
Hening untuk waktu yang lama, sampai akhirnya sebuah sirine memecah keheningan.
Kael membuka matanya perlahan, melihat ke arah sekitar. "Sepertinya hujan sudah berhenti" gumam Kael, ia melirik arlojinya yang sudah menunjukan pukul 10 malam. Yang tandanya ia sudah tidur 1 jam.
Tiba-tiba saja Radio di dasboard mobilnya berbunyi dengan keras.
"Kebakaran di distrik 7, gedung perpustakaan tua. Kemungkinan masih ada korban di dalam, unit 27 copy"
Kael diam untuk beberapa detik. "Unit 27, copy that"
- - -
Distrik 7, Gedung perpustakaan.
Api menjulang tinggi, gedung tua itu tampak seperti hampir runtuh.
"Ada wanita tua penjaga perpustakaan terperangkap di lantai 2" teriak rekan Kael.
Seperti pemadam kebakaran pada umumnya, kael sudah di lengkapi peralatan yang lengkap sejak tiba.
Dengan sikap ia mengambil satu masker lagi, lalu masuk ke dalam gedung itu tanpa takut.
Pandangannya terbatas, asap menghalangi penglihatannya. Dengan berani ia menaiki tangga menuju ke lantai 2 dan akhirnya menemukan wanita tua yang tidak sadarkan diri.
Tanpa ragu, kael memasangkan masker pada wanita tua itu, menggendongnya lalu berlari keluar untuk segera mendapat penanganan.
Beberapa detik kemudian, Kael kembali mendengar suara teriakan. "Hey, masih ada orang di lantai 2" mendengar suara itu, Kael kembali memasangkan maskernya lalu berlari masuk ke dalam.
Di saat itulah, seluruh rekan kerja Kael berteriak memanggilnya.
"Hey Kael! Apa yang kau lakukan!?"
Tanpa menghiraukan rekannya, Kael kembali masuk dan menaiki tangga ke lantai 2.
"Haloo? Apa ada orang? Jika ada tolong segera keluar, gedung ini akan runtuh" ucap Kael dengan suara keras.
"Tolong aku, aku di sini.." terdengar suara wanita yang sangat lirih dari belakang rak buku.
Kael yang mendengar hal itu segera menghampiri tetapi tidak menemukan siapa-siapa di sana. Kael mulai merasa bahwa dirinya seperti berhalusinasi.
Gambaran Keira dan perkataan Keira muncul di dalam pikirannya.
"Kau tidak bisa menyelamatkan keluarga ini Kael, kau gagal"
"Aku menyesal mengenalmu"
Nafas Kael mulai tersenggal-senggal, asap semakin tebal dan akhirnya Kael memutuskan untuk segera turun.
Namun, di saat itu juga tepat di hadapan kael, plafon runtuh begitu saja, membuat jalan keluar Kael tertutup.
"Oh Tuhan, inikah resiko yang harus aku terima?" Batin Kael.
Dan tepat disaat kael sudah merasa pasrah, sebuah cahaya terang muncul dari belakang rak buku tadi. Karena rasa ingin tahu yang besar, Kael berjalan mendekatinya.
Dan untuk pertama kalknya ia melihat hal ini, sebuah buku berjudul "The Forbidden Chronicle of Aethera" buku itu terbuka lalu mengeluarkan cahaya yang sangat terang.
Seperti layaknya dihipnotis, Jael berjalan mendekat, terus mendekat hingga akhirnya Kael seperti tersedot masuk ke dalam buku itu bersamaan dengan runtuhnya gedung tua itu.
Melihat hal itu dari luar, membuat semuanya panik. "KAELLLLL" terkak sahabatnya panik.
“Bruakkkkk” debu dan asap memenuhi jalan Redcross Way, Southwark. Untungnya pekerja kantoran dan jalan sekitar kejadian sudah dinetralkan.
Semua mobil pemadam kebakaran semua dikerahkan, hingga akhirnya gedung perpustakaan tua 5 lantai itu benar-benar padam dalam kurang lebih 1 jam.
Pihak kepolisian, serta medis sudah memenuhi tempat itu. Bahkan siaran langsung melalui helikopter juga sedang meliput.
“Cari cari cari!” perintah seorang pria tua, yang tampaknya seperti komandan mereka, tertulis pada bajunya “Rylan Vorrick” seorang commander di tempat kael bekerja. “cari sampai dapat, walau hanya bajunya, kita harus menemukannya” ucap Rylan tegas. “kau harus bertahan hidup Kael..” ucap Rylan pelan, hampir tidak terdengar.
- -
Rumah Kael.
“Berikut berita eksklusif terkini..” seketika yang tadinya tayangan film keluarga berubah menjadi berita ekslusif. Kaelyn yang tengah memeluk boneka teddy bear miliknya sontakn terkerjut lalu memanggil sang ibu, Keira.
“Ibu, lihat..” panggil Kaelyn. Keira datang mendekat kearah televisi sembari mengeringkan tangannya setelah selesai mencuci piring sisa makan malam.
“Berikut berita terkini, saya James Smith dari lokasi kejadian Redcross Way, Southwark melaporkan” ucap pria di seberang sana yang sedang meliput.
Keira menaikan volume televisi hingga ibu dan ayahnya ikut mengampiri ke ruang tengah untuk menonton berita.
“Api kembali melahap salah satu gedung perpustakaan tua di distrik 7 Seluruh karyawan berhasil diselamatkan. Namun kabarnya, salah satu petugas kebakaran terperangkap saat melakukan penyelamatan. Diketahui gedung runtuh sebelum petugas kebakaran yang dikenal sebagai “Kael Artherion” keluar” ucap James si pembawa berita menyampaikan berita.
Seketikan Keira merasakan lututnya terasa sangat lemas, ia jatuh tersungkur ke lantai. “K-Kael..” ucapnya dengan suara bergetar saat foto Kael ditampilkan tepat di sisi kanan layar televisi.
“Saat ini rekan kerja dan pihak berwajib sedang berusaha melakukan evakuasi dan pencarian Kael Artherion, mari kita berdoa agar korban berhasil ditemukan” ucapnya lagi.
Keira menggelengkan kepalanya. “tidak, tidak mungkin..” ia segera berdiri lalu meraih ponsel yang berada di atas meja. Menekan sebuah kontak.
Kael dengan emoji hati berwarna merah di ujungnya.
“kumohon angkatlah..” ucap Keira panik.
“nomor yang anda tidak aktif harap tinggalkan pesan setelah bunyi ‘bip’ “
Tidak menyerah, Keira tetap berkali-kali menghubungi nomor Kael walaupun ia tahu nomor itu tidak aktif untuk sekarang.
“ibu..” Kaelyn berdiri di samping ibunya, menarik-narik pelan kaos Keira. “Mengapa ayah ada di televisi ibu?” tanya Kaelyn dengan lugu.
“sayang ayo ikut kakek” ucap ayah Keira yang mencoba membawa Kaelyn.
“ayah berjanji akan pulang malam ini…” ucap Kaelyn lagi.
Tangis Keira pecah mendengar perkataan putrinya itu. Melihat hal itu, ibu Keira segera membawa Kaelyn ke kamar tidurnya. Sedangnya ayah keira mencoba menenangkan Keira.
Untuk terakhir kalinya, ia menekan kontak Rylan. Berharap ia dapat mendapatkan kabar darinya.
“halo..” terdengar suara dari seberang sana menjawab telfon Keira.
“Bagaimana dengan Kael?” tanya Keira to the point. “Katakan apa yang terjadi dengannya”
“Keira, kami akan berusaha semaksimal mungkin untuk menemukan Kael” jawab Rylan. “Aku turut prihatin atas apa yang menimpa keluargamu dan Kael” lanjut Rylan. “akan segera aku kabari saat Kael ditemukan”
Tepat sebelum telfon terputus, Keira dapat mendengar samar-samar suara mengatakan.
“di sini, masker yang digunakan Kael ditemukan, kalung pengenalnya juga”
“Bip”
Keira benar-benar hancur sekarang. Mengingat seberapa kasarnya ucapannya pada Kael. Ia tahu rumah tangga yang ia dan kael bangun tidaklah harmonis, pasalnya mereka terlalu muda untuk menikah. Tapi sekarang, semuanya benar-benar hancur.
“kau benar-benar meninggalkan aku dan Kaelyn” ucap Keira lirih.