Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Arundra

Arundra

Serenade | Bersambung
Jumlah kata
26.5K
Popular
100
Subscribe
21
Novel / Arundra
Arundra

Arundra

Serenade| Bersambung
Jumlah Kata
26.5K
Popular
100
Subscribe
21
Sinopsis
FantasiSci-FiDunia Gaib
Di antara keramaian dunia, dia—Arundra, Pria yang sejak kecil hidup seorang diri. Menghabiskan malam-malam panjang di sebuah gubuk sempit dan lembab. Arundra telah lama belajar memeluk sepi, memaksanya mengubur banyak kata "seandainya" yang tidak mampu lagi dia ucap. Kini baginya, bertahan hidup bukan lagi sebuah pilihan, melainkan sebuah keharusan yang wajib dia jalani. Hingga, sebuah cahaya di langit memberinya pilihan. Apakah dia akan tetap tinggal menjalani hari-hari menyakitkan itu, atau berlayar mengarungi samudera dan mengakhiri segala yang menyakitkan?.
Bab 1 : Rotan Berduri

Suasana pedesaan tampak begitu ramai, banyak warga berlalu lalang, para nelayan sedang sibuk membongkar muat ikan hasil tangkapan mereka, ibu-ibu pedagang pasar juga bersiap dengan bakul ikan milik mereka.

Diantara keramaian itu tampak Aru, anak laki-laki bertubuh mungil, sibuk memungut ikan-ikan kecil yang jatuh, tubuhnya kurus, berambut sedikit ikal, kulitnya menggelap karena terlalu sering terpapar sinar matahari. Anak kecil berusia sepuluh tahun itu menatap ikan yang mengisi setengah kantong kresek miliknya.

"Duh kak, cuma segini lagi, aku sudah cari disana tapi banyak yang ambil juga". Ucap seorang gadis kecil-Priwina, gadis yang berusia lebih muda dua tahun dari Aru, rambut lurus hitam legam sebahunya mulai lepek, gadis itulah yang sering membantu Aru memungut ikan-ikan kecil dipesisir.

"Habislah aku" gumamnya pelan. Dia sudah tahu apa yang akan dia dapat saat hasil mulungnya hanya setengah kantong kresek.

Aru dan Priwina berpisah jalan, Gadis kecil itu menghampiri neneknya yang berada tidak jauh dari mereka. Sedang, Aru hanya berjalan lesu sambil menatap kantong kresek ditangannya.

Selangkah demi selangkah. Langkahnya terasa berat karena benar saja, sesaat setelah Aru kecil tiba dirumah, seorang pria berkumis tebal, bertubuh tinggi, dan berbadan besar, berdiri dengan sebuah rotan berduri di tangannya menyambut kedatangan Aru. Aru menatap rotan itu, tidak lagi dengan ketakutan melainkan menatap dingin dan datar. Seolah sudah menjadi makanan pokoknya sehari-hari.

crassst...

crassst...

crassst...

Bunyi gesekan rotan mengudara, merobek punggung mungil milik Aru. Luka lamanya belum pulih kini sudah terukir luka yang baru.

Air matanya tidak lagi menetes, tapi darah yang menetes sudah cukup membuktikan betapa menyakitkan cambukan itu. Tubuhnya sudah kebal karena terlalu sering dipukuli dengan rotan berduri andalan pamannya-Karta.

Aru tidak memberontak, dia hanya diam meringkuk memeluk kakinya, menerima hantaman demi hantaman di punggung mungil miliknya.

kreettt...

Sesaat kemudian suara melengking yang berasal dari piring aluminium berisi nasi, berhenti tepat di depan Aru. Aru sudah tahu itu adalah jatah makan malam miliknya. Tentu saja nasi sisa kemarin, yang rasanya mungkin sudah sedikit masam.

"Ambil !!!" Teriak Karta dengan nada penuh amarah. Aru dengan pelan mengambil piring itu dan mendekapnya. Karta, Pria itu fisiknya saja yang terlihat gagah, tapi tidak bisa melakukan apapun, dia hanya mengambil keuntungan dari bisnis milik Ayah Aru, untuk dirinya sendiri tanpa peduli dengan anak itu sedikitpun.

Istrinya, Lena. Wanita sombong, bertubuh kurus, dan terlihat tidak terawat. Dialah yang bekerja.

Setiap hari Lena membeli sayur-mayur dari petani dan menjual kembali dipesisir. Aru setiap pagi juga harus membantu memikul keranjang sayur agar sang bibi bisa berjualan. Kemudian harus bertaruh mengambil ikan-ikan berjatuhan yang tidak dipakai lagi oleh nelayan. Sesekali ada nelayan yang mengenalnya akan memberikan seekor ikan besar untuk Aru secara cuma-cuma. Ikan besar itulah yang bisa membantu Aru agar lolos dari pukulan rotan serta bisa ikut makan malam bersama meskipun tidak duduk semeja dengan mereka, setidaknya dia tidak memakan nasi sisa kemarin. Tapi malam ini, tidak ada ikan besar, yang ada hanya rotan berduri kecil dan nasi sisa kemarin yang menjadi santapannya.

Lena dan Karta punya dua orang anak, Raka dan Rani usia mereka juga tidak jauh berbeda dengan Aru. Hanya saja dua orang anaknya harus fokus sekolah, tidak boleh bekerja. Mereka seperti Karta yang hanya tahu memerintah dan makan sesuka hati.

---

Aru menatap hujan yang mulai turun dari atap di gubuk kecil yang berada di belakang rumah utama. Gubuk kecil yang menjadi rumah untuknya. Gubuk yang hanya berukuran dua kali tiga meter. Cukup untuk tubuh mungilnya, di pojok ruangan sempit ini ada sebuah lemari kayu kecil, dan sebuah pelita menerangi kegelapan dalam gubuk itu. Dengan cepat tangan pria kecil itu meletakkan tempayang untuk menadah air hujan, karena jika dia tidak melakukannya bisa dipastikan dia besok tidak mendapat minum.

Aru yang kini sudah setengah basah menghentikan aktivitasnya ketika melihat siluet, yang semakin dekat, semakin jelas dilihatnya.

Itu Diana, Wanita paruh baya, berusia kurang lebih enam puluhan awal itu datang bersama cucunya, Priwina. Dengan berpayung dahan pohon pisang, dua orang itu membawakan sepiring makanan untuk Aru.

"Nenek, Wina sini cepat masuk" Ujar Aru sembari memberi ruang bagi Nenek serta Priwina agar tidak terkena hujan. Ketiganya kini duduk beralas karpet anyaman bambu yang juga menjadi kasur untuk Aru.

Diana membuka suara, "Ru... ini nenek bawakan kamu makanan, tadi kamu dipukul lagi kan?"

Aru terdiam, dia tidak bisa berbohong, karna baju kaos putih basah yang dikenakannya kini menampakan segaris darah dipunggungnya.

"Wina bilang, kamu tidak dapat ikan besar hari ini."ucap Diana, "Karta memang pemalas, dia hanya tahu memerintah dan marah tanpa pernah tahu sulitnya mencari ikan diluar sana. Aku juga tidak mengerti. Karta, apakan semua uang dari bisnis Ayahmu sampai untuk makan saja kamu harus bekerja seperti ini" Sambung Diana penuh amarah, Membuat suasana hening.

Diana dan Priwina bukan bagian dari keluarga Aru, tapi si Nenek dan Cucu ini begitu peduli padanya. Bahkan ini bukan kali pertama mereka memberinya makan.

"Kak Aru, Nenek bilang kalau kak Aru mau, kakak boleh tinggal kok sama kita" Suara mungil milik Priwina memecah keheningan saat itu. Aru tersenyum mengelus puncak kepala gadis itu.

"Aku tidak bisa. Itu rumah ayahku"ucap Aru singkat.

Ya semua orang didesa pun tahu, bahwa rumah besar yang kini ditinggali Karta dan Lena adalah milik Tirtoadhi yang tidak lain adalah ayah Aru.

"Aru, kamu anak yang pemberani itulah sebabnya ayahmu memberimu nama Arundra." Diana berucap sembari membuka bungkusan daun yang menutupi makanan itu. Kemudian, memberikannya pada Aru dengan senyum. "Makanlah nak, aku tau nasi sisa kemarin itu tidak enak rasanya" Lanjut Diana.

Tanpa ragu Aru menyantap sepiring nasi berlauk ikan lengkap dengan sayuran hijau dengan penuh semangat.

"Memangnya nenek tahu arti namaku?" Tanya Aru sesaat setelah menelan makanan dimulutnya.

"Tahu" Diana tersenyum singkat.

"Apa nek?" Kali ini Wina bersuara, gadis kecil itu juga penasaran dengan arti nama Aru.

"Itu rahasia. Dan nenek yakin suatu saat Aru akan tahu arti namanya" Ucap Diana dengan penuh keyakinan.

"Beri tahu sekarang saja nek, apa bedanya dengan nanti? Kan sama-sama akan ketahuan juga" Celetuk Wina dengan wajah cemberut.

"Kalau nenek beri tahu sekarang, tidak seru nanti" Diana tertawa menggoda cucunya.

Aru menatap keduanya sambil terus memasukan sedikit demi sedikit makanan kemulutnya.

Arundra Tirtoadhi-Anak tunggal Tirtoadhi dan Kinanti, sejak kecil usia lima tahun, hidup bersama ibunya, dan diusia yang ke tujuh tahun, ibunya meninggal dunia. Membuat Aru harus melawan dunia seorang diri. Paman dan Bibinya terpaksa membesarkannya karena rumah besar dan tanah yang mereka tempati.

Sampai kini Aru tidak pernah tahu dimana Ayahnya, kata orang ayahnya sudah menjadi buih di lautan, ada juga yang bilang ayahnya sudah punya keluarga baru, sehingga tidak pernah ingin pulang untuk sekedar tahu kabar Aru dan Ibunya. Namun, Aru yakin ayahnya adalah orang baik, mungkin ada hal-hal yang menghambat ayahnya untuk kembali menemuinya. Yang pasti Aru tahu bahwa dia masih punya Ayah. Ayah yang akan melindunginya atau yang akan dia lindungi nantinya.

Selain berharap pada ayahnya, dua orang yang kini bersamanya meyakinkan Aru, bahwa hidupnya tidak semenyedihkan itu. Paman dan Bibinya boleh membencinya, tapi Aru masih punya orang-orang yang menyayanginya dengan Tulus.

Lanjut membaca
Lanjut membaca