Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Widura Penakluk Dunia

Widura Penakluk Dunia

Hyuga Hinata | Bersambung
Jumlah kata
34.2K
Popular
720
Subscribe
243
Novel / Widura Penakluk Dunia
Widura Penakluk Dunia

Widura Penakluk Dunia

Hyuga Hinata| Bersambung
Jumlah Kata
34.2K
Popular
720
Subscribe
243
Sinopsis
18+PerkotaanSupernaturalKekuatan Super21+Harem
Warning khusus bacaan Dewasa. Di mata dunia dia hanyalah anak bungsu Keluarga Sanjaya yang tidak memiliki kemampuan apapun. Namun, setelah berguru dengan 7 Orang sakti di Desa Sengara, Widura berubah menjadi sosok Pria Muda yang sakti. Selain sakti, Widura juga di gilai banyak wanita-wanita Dewasa, sebab setiap sentuhan dinginnya membuat banyak wanita takluk dan tidak berdaya.
Bab 1

Lantai kayu rumah tua di sudut Jayakarta itu berbunyi saat Widura melangkah masuk. Tujuh tahun sudah berlalu.

Selama itu ia menghilang, menjalani latihan keras di bawah didikan tujuh orang sakti di puncak gunung tersembunyi hanya untuk menuntut balas kejadian 7 tahun lalu, di mana keluarganya di bantai habis oleh penguasa kota hanya karena di anggap pesaing dan membahayakan kekuasaannya.

"Aku sudah kembali dan aku akan menuntut balas atas kejadian yang menewaskan seluruh keluarga Sanjaya," gumam Widura.

Sekarang ia berdiri di ruang tamu yang penuh debu. Suasananya sepi. Tidak ada sambutan atau bau masakan ibu, hanya ada bau apek dari bangunan yang lama ditinggalkan.

Udara Jayakarta terasa panas dan lengket di kulitnya. Widura menaruh tas kainnya, lalu merasakan otot tubuhnya menegang. Ia perlu air dingin untuk menenangkan kepalanya yang masih terbayang kejadian pembantaian tujuh tahun lalu.

"Sebaiknya aku mandi dulu..."

Ia berjalan menuju kamar mandi di bagian belakang. Suara air keran mulai terdengar. Namun, saat ia baru saja membasuh wajah, pintu kayu yang sudah rapuh itu dibuka paksa dengan kasar.

Seorang wanita berambut panjang masuk begitu saja sambil melepas kemejanya hingga hanya memakai bra. Langkah wanita itu terhenti seketika. Matanya melotot saat melihat seorang pria asing berdiri di depannya tanpa pakaian sama sekali.

"Ah!" wanita itu memekik, tapi suaranya tertahan.

Pandangannya sulit beralih dari tubuh Widura. Ia melihat bahu lebar, lengan kekar dengan urat menonjol, dan perut berotot yang terbentuk sempurna. Namun, matanya terus turun ke bawah, ke arah pusaka Widura yang menggantung indah.

"Kau... siapa?" tanya wanita itu dengan suara bergetar.

"Seharusnya aku yang bertanya, siapa kau?" Widura menjawab datar, walau ia sebenarnya terkejut.

Wanita itu tersadar, wajahnya merah padam sampai ke telinga. Namun sedetik kemudian kemarahan terlihat di wajahnya.

"A-ahh tidak, kau pasti malingkan, tolong ada maling!!!" Wanita itu berteriak berusaha mencari bantuan.

Ia berbalik panik dan hendak lari keluar untuk mencari bantuan. Namun, lantai kamar mandi yang licin karena sabun membuatnya tergelincir hebat.

"Awas!" Widura bergerak cepat.

Dengan gerakan presisi, Widura menangkap wanita itu sebelum jatuh ke lantai. Tangan kanan Widura memeluk pinggangnya, sementara tangan kirinya tak sengaja mendarat di bokong wanita itu. Karena terkejut dan belum menguasai gerak motoriknya, Widura tanpa sadar meremas bagian yang kenyal tersebut.

"Ugh..." wanita itu mendesah pelan. Tubuhnya menempel erat pada dada Widura yang basah.

Dua bagian dada wanita itu yang kencang menekan dada Widura dengan sangat dekat. Sensasi itu memicu reaksi biologis yang spontan. Alat vital Widura di bawah sana bangkit, menegang keras, dan menekan paha wanita itu.

Tangan Widura semakin aktif meremas bokong wanita tersebut.

Plakk!!

"Pria mesum!!!"

Wanita itu hendak kembali berteriak agar memancing para warga di sekitaran rumah untuk datang, sehingga membuat Widura dengan cepat bergerak menutup mulutnya.

Wanita itu memberontak, berusaha untuk membebaskan diri dari Widura, tetapi tenaganya tidak cukup kuat untuk mengimbangi kekuatan Widura.

Wanita itu tidak kehabisan akal, dia menggigit tangan Widura dan membuatnya terbebas. Tidak hanya itu, wanita itu juga dengan cepat menendang bagian selangkangan Widura hingga membuat Widura meringis kesakitan.

"Dasar pria mesum!!!" Wanita itu mengambil guci kaca hendak melemparkannya kepada Widura.

"Tunggu berhenti!! Aku Widura. Anak bungsu keluarga Sanjaya. Aku baru kembali."

Mendengar nama itu, wanita itu tersentak dan menghentikan aksinya. "Widura? Kau benar-benar Widura? Kami kira kau sudah meninggal dalam kejadian tujuh tahun lalu."

"Aku selamat," jawab Widura singkat.

"Ah tidak kau pasti bukan Widura!! Kau ingin menipuku!!" Wanita itu kembali beraksi, namun kali ini Widura sudah jauh lebih sigap, sehingga mampu menangkisnya.

Widura tidak melakukan kekerasan fisik, dia terus meyakinkan wanita itu jika dia sungguh Widura, putra bungsu Keluarga Sanjaya.

Widura mengeluarkan foto masa kecilnya, agar meyakinkan wanita itu jika dia bukan maling ataupun pria mesum seperti yang di tuduhkan wanita itu kepadanya.

"Kau... Kau sungguh Widura, adik bungsu Tania,"

Widura menganggukkan kepalanya, "Lalu, siapa kau? Mengapa kau ada di rumah ini?"

"Namaku Rissa. Aku sahabat baik kakakmu, Tania," jawabnya pelan.

"Rissa, tapi kau sangat berbeda, lebih berisi dari terakhir kali," ujar Widura.

Wajah Rissa memerah mendengarnya, dan memukul dada Widura dengan keras.

"Kau benar-benar mesum, Widura!!" Rissa menatap Widura dengan tajam.

Widura meneguk ludahnya dengan pelan, dia merasakan tatapan tajam yang tidak bersahabat dari Rissa.

"Eh iya, kenapa kau ada di rumah ini?" Tanya Widura berusaha mengalihkan pembicaraan.

"Selama kau pergi, aku yang mencoba menjaga rumah ini dan juga menjaga Tania." Jawab Rissa.

"Tania? Kakakku masih hidup?" Suara Widura bergetar untuk pertama kalinya.

Rissa mengangguk sedih. "Dia hidup, Widura. Tapi kondisi mentalnya tidak baik. Dia kehilangan segalanya dalam semalam. Orang tua, harta, dan harga diri. Mereka menekannya habis-habisan sampai dia jadi seperti sekarang. Dia tidak punya semangat hidup lagi. Tubuhnya ada di sini, tapi jiwanya seperti sudah mati."

Widura mengepalkan tinjunya hingga buku jarinya memutih. "Siapa yang melakukannya?"

"Baron Andrian," jawab Rissa dengan nada takut.

"Penguasa kota ini sekarang. Dialah yang merampas semua aset keluarga Sanjaya."

Rissa berdiri. "Mari, dia ada di kamarnya. Dia tinggal di sini, tapi jarang bicara."

Rissa menuntun Widura ke sebuah kamar di ujung lorong. Saat pintu dibuka, Widura merasa jantungnya berhenti berdetak.

Di sana, seorang wanita kurus duduk di kursi dekat jendela sambil menatap keluar dengan pandangan kosong. Ada bekas luka goresan panjang di pipinya yang dulu mulus.

"Kak Tania..." bisik Widura.

Wanita itu tidak menoleh. Widura mendekat, berlutut di sampingnya, lalu memeluk tubuh kakaknya yang rapuh itu dengan erat sambil menangis.

"Ini aku, Kak. Widura. Aku pulang untuk menjagamu," isaknya.

Tania tetap diam, tapi jemarinya sedikit gemetar saat merasakan pelukan adiknya. Suasana haru itu pecah saat suara sepatu bot berat menghantam lantai ruang tamu, diikuti tawa kasar beberapa pria.

"Rissa! Di mana kau? Kami datang menagih uang!" teriak sebuah suara lantang dari depan.

Rissa memucat. "Itu anak buah Baron. Mereka selalu datang setiap minggu."

"Jangan keluar, Widura. Biar aku yang hadapi," pinta Rissa memohon.

Namun, belum sempat Rissa bergerak, tiga pria sangar sudah berdiri di ambang pintu kamar. Pemimpinnya, pria gempal dengan tato di leher, menatap Widura dengan curiga.

"Siapa ini? Kau menyembunyikan laki-laki di sini, Rissa?" tanya pria gempal itu sambil menyeringai.

Rissa hanya diam membisu karena ketakutan akibat tekanan yang di berikan oleh tiga orang anak Buah Baron Andrian ini.

Widura tetap juga diam sambil terus memegang tangan Tania yang dingin.

"Bos, lihat si Rissa. Hari ini dia kelihatan lebih segar," sahut salah satu anak buah di belakang sambil tertawa mesum.

Pria gempal itu beralih kembali ke Rissa. "Dengar, Rissa. Kau harus bayar sewa rumah ini yang sudah menumpuk. Baron sudah tidak sabar. Kami beri kau dua pilihan hari ini."

Rissa gemetar, akhirnya berkata, "Aku belum punya uangnya. Beri aku waktu seminggu lagi."

"Tidak ada waktu lagi," bentak pria gempal itu.

"Pilihannya cuma dua, bayar semua uang sewa sekarang yang aku tahu kau tidak punya uangnya atau kau ikut kami ke markas. Aku butuh teman tidur baru malam ini. Jika kau melayaniku dengan baik, mungkin utangmu kuanggap lunas."

"Jangan gila! Aku tidak mau!" teriak Rissa marah.

"Oh, kau berani melawan?" Pria gempal itu mengangkat tangan hendak menampar Rissa.

Namun, sebelum tangan itu mendarat, sebuah tangan yang jauh lebih kuat mencengkeram pergelangan tangan pria itu. Widura sudah berdiri. Tingginya melampaui pria gempal tersebut dan auranya terasa sangat dingin.

"Lepaskan tangannya," ucap Widura dengan nada rendah. "Dan pergi dari sini sebelum aku kehilangan kesabaran."

Anak buah Baron itu tertegun, lalu tertawa keras. "Apa? Kau mengancamku? Kau tidak tahu siapa Baron Andrian?"

Widura memperkuat cengkeramannya hingga terdengar suara tulang yang retak halus. "Aku tidak peduli siapa dia. Yang aku tahu, kalian sudah mengganggu ketenangan kakakku."

Lanjut membaca
Lanjut membaca