Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Mata Dewa Bodyguard Perkasa

Mata Dewa Bodyguard Perkasa

NonaRich | Bersambung
Jumlah kata
30.8K
Popular
100
Subscribe
14
Novel / Mata Dewa Bodyguard Perkasa
Mata Dewa Bodyguard Perkasa

Mata Dewa Bodyguard Perkasa

NonaRich| Bersambung
Jumlah Kata
30.8K
Popular
100
Subscribe
14
Sinopsis
18+PerkotaanSupernaturalKekuatan SuperSupernaturalUrban
Nanggala Mahesa, lelaki miskin yang merupakan anak pembantu dari keluarga kaya raya. Selalu ditindas oleh anak majikan dan diputuskan sepihak oleh sang kekasih dengan begitu kejam. Dalam keterpurukannya, sebuah kekuatan super justru datang padanya melalui perantara tetesan air hujan. Sebuah mata tajam yang bisa menyalurkan energi ke otak hingga membangkitkan keterampilan ilmu bela diri yang bahkan sebelumnya tak pernah dia miliki. Suatu kejadian membuatnya bertemu dengan pebisnis kaya raya dan menunjuknya secara langsung untuk menjadi bodyguard sang putri, Najiwa Kusuma. Tugasnya melindungi Najiwa dari banyaknya incaran pesaing bisnis yang selalu ingin menjatuhkan, dengan bantuan kekuatan mata tajamnya. Sumber kekuatan mata tajamnya berasal dari tetesan air hujan. Namun, tanpa diketahui oleh Nanggala, kekuatan itu akan membuat daya tubuhnya melemah ketika hujan tak kunjung turun dalam kurun waktu satu Minggu.
Bab 1

Seorang pemuda baru saja keluar dari pagar rumah mewah tempatnya bekerja bersama dengan kedua orang tuanya. Pakaiannya masih lusuh dan keringat menempel di mana-mana.

Senja di ufuk barat mulai memancarkan cahaya kekuningan. Seharusnya, pemuda yang bernama Nanggala itu memilih untuk beristirahat setelah menyelesaikan pekerjaannya. Namun, ia memilih untuk menemui sang kekasih yang ingin segera bertemu dengan dirinya.

Di sinilah Nanggala menunggu, di pinggir sebuah danau luas dengan beberapa pengunjung lainnya yang menikmati senja di ufuk barat.

Beberapa pengunjung menatap sinis ke arah Nanggala, seolah pemuda itu adalah sampah yang menjijikkan. Bayangkan saja, berada di tempat secantik ini, tapi pakaiannya begitu lusuh. Aroma keringat menyengat di mana-mana.

Hari mulai gelap. Cahaya dari lampu di pinggiran danau satu per satu mulai menerangi tempat. Beberapa pengunjung memilih untuk pulang, tapi tidak dengan Nanggala yang masih dengan setia menunggu.

Hampir satu jam menunggu, pada akhirnya sebuah mobil mewah berhenti tepat di depannya. Nanggala menyerngit keheranan ketika dia tau betul jika mobil mewah itu milik keluarga majikannya.

"Gala!" Suara lembut nan merdu itu adalah milik Arumi, kekasih Nanggala.

"Rumi?" Nanggala terkejut ketika mendapati kekasihnya keluar dari mobil tersebut bersamaan dengan sosok Erlan, anak dari majikannya. "Kenapa bisa kamu datang sama Erlan?" tanya Nanggala mendekat, tapi dadanya langsung didorong oleh Arumi dengan sangat kasar.

"Berhenti di situ! Jangan dekat-dekat. Kamu bau sekali!" Arumi memasang ekspresi jijik. "Aku cuma mau bilang sama kamu. Detik ini juga, kita putus! Aku sudah dapatin apa yang aku mau, yaitu Erlan! Aku nggak pernah serius sama kamu yang bahkan hanya sekedar anak pembantu di rumah Erlan. Aku dekati kamu cuma karena pengen cari perhatian dari Erlan!" Arumi langsung menggandeng mesra tangan Erlan.

Nanggala jelas tak terima. Jadi, secara langsung, Arumi mengakui jika selama ini dia hanya memanfaatkan Nanggala?

"Maksud kamu apa? Bahkan, aku sudah kasih kamu cincin dari jeri payahku selama ini. Sebentar lagi kita akan menikah!" hardik Nanggala, dadanya sesak bukan main.

Susah payah dia berjuang selama ini untuk mengumpulkan pundi-pundi uang. Bahkan, di tengah kesusahannya, dia rela menghabiskan tabungannya untuk membelikan Arumi cincin emas sebagai pengikat hubungan keduanya. Tapi, balasan dari wanita itu justru terlampau kejam.

"Nikah sama kamu? Dalam mimpimu saja, Gala. Cincin murahan ini nggak berarti apa-apa untukku!" Arumi dengan gerakan kasar langsung melepas cincin di jari manisnya. Mengangkat tinggi-tinggi seolah ingin memperlihatkan pada Nanggala. Bahkan, cincin itu langsung dilempar di dalam air danau tanpa perasaan.

Bibir Nanggala bergetar hebat. Tangannya sudah terkepal dengan kuat.

"Anak pembantu harus sadar diri. Posisimu itu sangat rendahan. Wanita cantik sepertiku pantasnya dengan Erlan. Satu-satunya pewaris keluarganya kaya. Bukan begitu, Sayang?" Arumi mengusap sensual rahang tegas Erlan dan sang empu langsung tersenyum miring.

"Benar. Lelaki miskin tak pernah pantas mendapatkan wanita cantik. Aku sangat muak sekali melihat wajahnya!" hardik Erlan dengan suara baritonnya.

Erlan memang tak pernah menyukai Nanggala. Sejak kecil mereka tumbuh bersama dan terkadang Ibunya selalu membela bocah ingusan itu ketimbang dirinya. Sampai sekarang pun, Erlan tetap membenci sosok Nanggala. Padahal Nanggala sama sekali tak pernah membuat masalah padanya. Entahlah, melihat Nanggala bernapas saja rasanya ingin memukul lelaki itu.

"Kamu tau, cincin yang kamu buang itu adalah hasil jeri payahku selama beberapa bulan. Jika ingin berhubungan dengan Erlan, kenapa harus melibatkan diriku?" teriak Nanggala tepat di depan Arumi.

Bugh!

Satu bogeman mendarat di pipi kanan Nanggala hingga membuat lelaki itu meludah untuk mengeluarkan rasa tembaga dan anyir lantaran bibirnya yang terluka akibat bogeman tersebut.

"Jangan berteriak di depan Arumi!" sentak Erlan tajam. Arumi yang tadinya sempat terkejut, kini justru tertawa sumbang.

"Erlan, aku mau kamu hancurkan lelaki sialan ini. Kalau bisa, jauhkan dia dari pandanganku setiap kali aku pergi ke rumahmu. Rasanya terlalu muak dan bahkan aku ingin muntah setelah ingat jika selama ini aku pernah berhubungan dengan dia, walau itu cuma pura-pura!" Arumi seolah mengeluarkan sifat aslinya.

Selama berhubungan dengan Nanggala, Arumi bahkan bersikap lembut, begitu juga dengan tutur katanya. Sayangnya, itu hanyalah sebuah topeng untuk menarik mangsa supaya berhasil terjerat ke dalam jebakannya.

"Kamu tenang saja. Aku pastikan malam ini dia akan didepak dari mansion!" balas Erlan dengan seringaian tajam.

Dua orang itu memilih untuk pergi. Nanggala yang tak terima bahkan sampai mengetuk pintu mobil dengan kasar. Sayangnya, mobil itu langsung bergerak dengan kecepatan di atas rata-rama.

"Rumi! Lihat saja, suatu saat nanti, kamu pasti akan menyesal!" teriak Nanggala menggema di keheningan malam.

Pemuda itu mengusap rambutnya dengan frustasi. Air matanya jatuh tanpa diminta. Sialan sekali, dia tidak ingin menangis, tapi entah mengapa, air matanya terus menerus merembes.

Nanggala menatap ke arah air danau yang begitu tenang. Langkah kakinya membawanya menuju tepian. Lelaki itu gegas masuk ke dalam air yang pinggirannya masih lumayan dangkal.

Berusaha keras untuk menemukan cincin yang tadi dibuang oleh Arumi, dengan sisa tangisannya. Berharap masih bisa menemukan cincin yang menurutnya sudah sangat mahal.

Sekitar satu jam lamanya, Nanggala terus mencari hingga rasa letih membuatnya berhenti. Pemuda itu menyerah, kembali ke permukaan dan langsung berbaring di pinggir danau dengan keadaan basah kuyup.

Beberapa pengunjung menatap penuh iba. Ada pula yang terus menerus berkomentar miring dan mengatainya pantas untuk ditinggalkan lantaran tak punya apa-apa.

Semilir angin kencang membuat para pengunjung mulai pergi meninggalkan area danau yang memang dijadikan sport wisata oleh sebagian besar orang. Mereka pergi begitu saja tanpa mau mendekat ke arah Nanggala yang tergeletak mengenaskan di sana.

Air mata Nanggala masih terus mengalir. Dia terlalu benci dengan keadaan yang mengharuskan dirinya lahir dari keluarga miskin. Sejak dulu dia selalu ditindas dan dihina oleh Erlan beserta kawanannya. Jika dipikir-pikir, Erlan sama sekali tak kekurangan, tapi kenapa begitu tega menindas dirinya?

Rintikan hujan mulai turun bersamaan dengan sebuah cahaya keemasan yang seolah jatuh dari langit. Nanggala menyerngit keheranan, dia ingin bangkit untuk menghindari cahaya itu, tapi tubuhnya seolah terkunci di sana.

Cahaya itu dengan perlahan mulai terlihat bentukannya. Sepasang mata emas mulai menyorot tajam ke arah Nanggala. Sang empu menelan ludah dengan susah payah bersamaan dengan mata emas itu yang mulai luruh tercampur dengan air hujan.

"Argh!"

Teriak Nanggala nyaring ketika mata emas itu masuk ke dalam bola mata dan seolah bersarang di sana. Matanya terasa seperti tertusuk benda tajam hingga rasa sakitnya menjalar di kepala.

Tulisan-tulisan aneh mulai bermunculan seolah bersarang di otak. Rumus yin dan yang juga muncul dan berputar di salah satu bola matanya.

Beberapa saat kemudian, keadaan kembali seperti semula. Napas Nanggala memburu dengan begitu hebat. Dia mulai bangkit dan merasa jika ada yang salah dengan tempat tersebut.

Lelaki itu mulai berjalan gontai dan sesekali memegangi kepalanya yang terasa berat. Beruntungnya, dia sampai di kediaman keluarga Erlan dengan selamat.

Niat hati ingin segera membersihkan diri, tapi langkahnya justru dihadang oleh beberapa bodyguard yang sudah menyorot tajam ke arahnya.

"Ikut masuk ke dalam. Semua orang sudah menunggumu!"

Dua orang bodyguard langsung menyeret Nanggala dengan sangat kasar hingga membuat sang empu kebingungan.

"Kenapa membawaku masuk ke dalam mansion utama? Aku ingin pergi ke tempatku untuk membersihkan diri!" berontak Nanggala berusaha untuk melepaskan diri.

"Diam! Anak pembantu yang sangat menyusahkan dan banyak tingkah!" hardik salah satu dari mereka hingga membuat napas Nanggala menderu dengan begitu hebat.

Bruk!

Nanggala langsung dilempar begitu saja tepat di hadapan Erlan dan kedua orang tuanya.

"Pak, Bu, sebenarnya ada apa?"

Plak!

Bukannya mendapat jawaban, pipinya justru ditampar sangat keras oleh Ibu Erlan, wanita yang bahkan sejak dulu sangat menyayangi dirinya, tapi kini justru melayangkan tamparan tanpa ia tau apa penyebabnya.

"Bu, kenapa menampar saya? Saya salah apa? Bahkan, semua pekerjaan sudah saya kerjakan!" Suara Nanggala bergetar. Terlebih lagi ketika melihat di sudut ruang tamu itu sudah ada sosok kedua orang tuanya yang sedang menunduk ketakutan.

"Ternyata saya sudah membesarkan pencuri, ya? Anak pembantu yang sudah saya anggap seperti anak sendiri, nyatanya tak lebih dari seorang pencuri!"

Bersambung ...

Lanjut membaca
Lanjut membaca