Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Algoritma Dominasi

Algoritma Dominasi

miiitt | Bersambung
Jumlah kata
40.1K
Popular
100
Subscribe
0
Novel / Algoritma Dominasi
Algoritma Dominasi

Algoritma Dominasi

miiitt| Bersambung
Jumlah Kata
40.1K
Popular
100
Subscribe
0
Sinopsis
FantasiSci-FiTeknologiSi GeniusKutukan
Di Neo-Veridian, kemiskinan adalah algoritma yang sengaja dipelihara oleh HorizonTech. Leon, teknisi yang terjerat utang, berada di ambang kematian saat sebuah kecelakaan kerja menyatukan kesadarannya dengan 'Sistem Omni-Hack'. Kekuatan ini memungkinkannya memanipulasi segala hal yang terhubung ke jaringan dari rekening bank hingga saraf bionik manusia. Bersama Masha, mantan putri konglomerat yang dikhianati, Leon membentuk 'Sindikat'. Mereka memulai kampanye sistematis untuk menghancurkan para elit, memeras CEO arogan, dan menghadapi entitas misterius yang dikenal sebagai Supreme Boss untuk merebut kendali atas semesta digital.
Penjara Kaca Neo-Veridian

Percikan listrik biru melompat dari ujung obeng bionik Leon, menyambar ujung jarinya yang gemetar. Bau ozon dan kulit terbakar memenuhi rongga hidungnya yang sesak oleh debu logam.

"Tahan napasmu, Leon. Satu milimeter lagi dan kau akan terpanggang hidup-hidup di dalam panel ini," bisiknya pada diri sendiri, suaranya parau karena dehidrasi.

"Leon! Apa kau tuli? Status perbaikan Grid-7 masih merah!" Suara melengking Direktur Varkas menggelegar melalui interkom yang tertanam di dinding beton yang lembap. "Sepuluh menit lagi, atau aku akan memotong jatah oksigen di blok pemukimanmu selama seminggu!"

Leon memejamkan mata sejenak, merasakan keringat dingin mengalir di punggungnya yang pegal. "Sedang diusahakan, Pak. Kapasitor utamanya meledak karena beban berlebih dari menara pusat. Saya butuh waktu untuk sinkronisasi manual."

"Waktu adalah kredit, bajingan! Dan kau tidak punya keduanya!" Varkas meludah secara verbal melalui frekuensi radio. "Kau tahu berapa hutang mendiang ayahmu pada HorizonTech? Jika kau gagal memenuhi kuota hari ini, aku akan memastikan namamu masuk ke daftar organ cadangan malam ini juga."

Leon menelan ludah yang terasa pahit. Jantungnya berdegup kencang, menghantam rusuknya yang menonjol karena kurang gizi. "Saya mengerti, Pak. Lima menit lagi."

Tangannya kembali bekerja, meraba-raba di antara kabel-kabel yang tampak seperti usus logam yang berdenyut. Di Neo-Veridian, setiap detik adalah transaksi, dan saat ini, Leon sedang bangkrut.

Layar hologram kecil di pergelangan tangannya berkedip merah. Peringatan: Kuota Harian 78%. Target Tidak Tercapai.

"Ayo, ayo, sedikit lagi..." gumamnya. Tangannya menarik tuas utama.

Suara dengungan rendah yang menenangkan mulai terdengar. Lampu-lampu di lorong bawah tanah itu berkedip, lalu menyala terang. Grid-7 kembali daring. Leon menyandarkan kepalanya di panel dingin itu, terengah-engah.

"Selesai," bisiknya. "Target tercapai."

Namun, ketenangan itu hanya bertahan beberapa detik. Pintu baja di belakangnya terbuka dengan dentuman keras. Dua pengawal korporat dengan baju zirah bionik hitam mengkilap melangkah masuk, diikuti oleh seorang pria bertubuh tambun dengan setelan sutra sintetis yang tampak terlalu mahal untuk tempat sekotor ini.

Direktur Varkas.

"Cek statusnya," perintah Varkas tanpa melihat ke arah Leon.

Salah satu pengawal memindai terminal dengan mata sibernetiknya yang bersinar merah. "Efisiensi hanya sembilan puluh dua persen, Tuan. Ada keterlambatan empat menit dari jadwal yang ditentukan."

Varkas mendesah dramatis, mengeluarkan saputangan sutra untuk menutupi hidungnya. "Empat menit. Kau tahu apa arti empat menit bagi bursa saham di Menara Pusat, Leon?"

"Sirkuitnya sudah berumur dua puluh tahun, Pak! Saya melakukan yang terbaik dengan peralatan rongsokan ini!" protes Leon, mencoba berdiri tegak meski kakinya gemetar.

"Terbaikmu tidak cukup untuk membayar bunga hutangmu," Varkas mendekat, aroma parfum mahalnya menusuk penciuman Leon yang terbiasa dengan bau oli. "Kau gagal memenuhi kuota gila yang kutetapkan secara sengaja. Kau tahu kenapa aku melakukannya?"

Leon mengepalkan tangannya. "Karena Anda ingin menyingkirkan saya."

Varkas tertawa kecil, suara yang terdengar seperti gesekan kertas amplas. "Bukan hanya menyingkirkanmu. Aku butuh contoh. Sesuatu untuk mengingatkan teknisi rendahan lainnya bahwa di sini, kalian hanyalah baris kode yang bisa dihapus jika terjadi galat."

"Saya sudah bekerja delapan belas jam sehari!" teriak Leon, amarah yang selama ini ia pendam mulai meluap. "Keluarga saya memberikan segalanya untuk HorizonTech! Ayah saya mati di mesin-mesin ini!"

"Dan dia mati sebagai debitur yang gagal, persis seperti anaknya," Varkas memberi isyarat dengan jarinya. "Hajar dia. Pastikan dia tidak bisa bicara terlalu banyak sebelum kita membuangnya."

Sebelum Leon sempat bereaksi, sebuah kepalan tangan logam menghantam ulu hatinya. Leon tersungkur, paru-parunya serasa meledak. Ia mencoba merangkak, tapi tendangan sepatu bot berat mendarat di tulang rusuknya.

Krak.

Rasa sakit yang luar biasa menjalar ke seluruh tubuhnya. Darah hangat mulai mengalir dari sudut bibirnya, menetes ke lantai logam yang berdebu.

"Kenapa..." rintih Leon di sela-sela batuk darahnya. "Kenapa sistem ini begitu kejam?"

Varkas berjongkok di sampingnya, menjambak rambut Leon agar mereka bisa bertatapan. "Karena begitulah algoritma bekerja, Nak. Yang lemah akan selalu menjadi variabel yang dikorbankan agar persamaan kekuasaan tetap stabil. Kau hanyalah sampah digital."

Varkas meludahi wajah Leon sebelum berdiri kembali. "Bawa dia ke Zona Limbah. Aku tidak mau melihat wajahnya di distrik ini lagi."

"Tapi Tuan," salah satu pengawal ragu sejenak. "Zona Limbah Siber? Radiasi data di sana bisa menghancurkan saraf pusat manusia dalam hitungan menit."

"Itu poin utamanya," jawab Varkas dingin. "Lakukan."

Leon diseret seperti karung beras melewati lorong-lorong gelap pabrik. Kesadarannya mulai memudar, hanya menyisakan kilasan lampu neon yang berkedip dan suara langkah kaki yang berat. Setiap hantaman tubuhnya dengan lantai semen terasa seperti palu yang menghancurkan harapannya.

Mereka sampai di sebuah pintu besar bertanda peringatan kuning yang memudar: Zona Bahaya - Pembuangan Data Mentah.

"Selamat jalan, Teknisi," ejek salah satu pengawal.

Pintu itu terbuka, menyingkapkan sebuah jurang gelap yang dipenuhi oleh kabut biru elektrik limbah sirkuit dan radiasi sinyal yang tidak terpakai yang dibuang oleh kota di atas sana. Bau kematian dan statik memenuhi udara.

Dengan satu dorongan kasar, tubuh Leon terlempar ke dalam kegelapan.

"Tidaaak!" teriak Leon, tapi suaranya tertelan oleh suara gemuruh arus data yang liar di bawah sana.

Ia jatuh melewati tumpukan chip rusak, kabel-kabel mati, dan bangkai mesin bionik. Tubuhnya menghantam tumpukan limbah keras dengan dentuman yang memekakkan telinga. Leon terbaring diam, menatap langit-langit beton yang jauh di atas sana, saat kilatan petir digital mulai menyambar-nyambar di sekelilingnya.

Rasa sakitnya perlahan menghilang, digantikan oleh sensasi dingin yang aneh yang mulai merayap masuk ke dalam saraf-sarafnya. Di ambang kematiannya, di titik paling rendah dalam hidupnya sebagai budak korporat, Leon merasakan sesuatu yang lain.

Bukan rasa takut. Bukan kesedihan.

Itu adalah amarah murni yang membakar jiwanya, sebuah keinginan untuk merobek setiap algoritma yang telah menyiksa hidupnya.

Tiba-tiba, pandangannya kabur. Barisan kode berwarna hijau mulai mengalir di depan matanya yang berdarah. Sebuah suara mekanis yang dingin namun agung bergema langsung di dalam otaknya, menenggelamkan suara badai siber di sekitarnya.

Anomali terdeteksi. Inang manusia dalam kondisi kritis.

Menyelaraskan kesadaran dengan Protokol Omni-Hack...

Sinkronisasi: 1%... 5%... 12%...

Mata Leon terbelalak. Ia ingin berteriak, tapi lidahnya terasa seperti logam cair. Sesuatu sedang masuk ke dalam dirinya, sesuatu yang lebih tua dan lebih kuat dari HorizonTech, sesuatu yang akan mengubah setiap bit di dunia ini.

Lanjut membaca
Lanjut membaca