

"Sudah keras banget punyamu, Mas. Langsung masuk saja kalau begitu,"
Wanita itu menarik tanganku agar aku segera masuk ke dalam kontrakannya. Aku laki-laki normal. Meski belum menikah, jika disuguhi buah besar nan kenyal seperti silicon, tentu aku tergoda. Apalagi, wanita itu cantik.
Aku tinggal di kontrakan 500 pintu yang terkenal akan kebebasannya. Tak perlu aku jelaskan seperti apa bebasnya, kalian bisa mengerti sendiri. Hari ini rupanya ada tetangga baru dan aku belum mengenalnya.
Aku baru pulang lembur dan suasana begitu sepi. Aku sengaja membuka seragam kerjaku di teras. Hal yang memang sering aku lakukan. Respons gadis penghuni di kontrakan ini berbeda-beda jika melihatku. Ada yang menikmatinya, ada yang malu, ada yang mencuri foto, bahkan ada yang sampai sange. Nah si wanita ini menjadi pengikut yang terakhir.
Tentu saja mereka tertarik denganku karena aku ini memiliki perut yang sixpack. Lekukan perutku meskipun tampak samar namun cukup tegas menunjukkan jika aku ini rajin berolahraga guna menjaga bentuk tubuh yang ringan, proporsional, ramping dengan bahu yang tidak terlalu lebar, dada bidang tapi tidak menonjol.
Otot lenganku juga terbentuk natural. Tidak terlalu besar dan berurat. Postur tubuhku tinggi dan lurus memberi kesan elegan dan ketenangan. Siapa yang tidak tertarik denganku? Huh. Cukup sombong, tapi itu kenyataannya. Kendati demikian, aku ini tidak mudah jatuh cinta, jatuh ke dalam kasur mungkin sering. Hahaha.
Aku punya akun Inigram yang followersnya sudah mencapai sepuluh ribu. Masih sedikit tetapi aku bersyukur karena ada saja brand yang menawarkan kerja sama untuk memasarkan produk. Misalnya kon dom, sempak, dan obat-obat pembesar alat kerja pembuat cairan. Tapi perlu digaris bawahi di sini, meskipun aku mengiklankan produk tersebut, pusaka keramatku ini sudah besar dan panjang dari sananya, bukan karena efek obat.
Di dalam kontrakan wanita ini yang belum aku ketahui siapa namanya, penataannya begitu lega. Barang-barang yang ada juga terlihat mahal. Tak mau buang-buang waktu, wanita ini langsung menurunkan celanaku tanpa ku suruh. Dia langsung mengasah pedang yang sudah tegak tersebut agar lebih mantap ketika bertarung nanti.
"Waw, pengalaman banget ini cewek. Jangan-jangan pekerjaannya sebagai laba-laba malam," pikirku sambil memperhatikan gayanya yang nakal dan juga begitu menikmati setiap gerigi yang menyentuh pusakaku.
Disela-sela kenikmatan ini, tiba-tiba aku melihat sosok pria tampan yang berdiri di lorong pintu dapur, menatapku dengan tajam. Kaget, aku refleks mendorong wanita itu sampai ia terjengkang ke belakang. Aku menarik celanaku ke atas lagi dengan gugup. Keringat sudah membasahi seluruh tubuhku. Sumpah wanita ini sungguh berani membawaku ke dalam kontrakannya, padahal ada pacarnya.
"Mas kenapa!" Tanya wanita itu kecewa.
"Kamu menyimpan pria lain tapi kenapa malah mengajakku untuk bermain!" Ucapku kesal, mataku terus menatap ke arah pria itu.
"Pria? Pria mana yang kamu maksud? Di sini hanya ada aku dan kamu, Mas," wanita itu berdiri, berjalan menghampiriku.
"Lantas, dia siapa!" Aku menunjuk ke arah pria itu. Mata si wanita mengekor arah telunjukku.
"Mana, tidak ada orang. Ngaco kamu! Jangan cari alasan ah, udah diambang kenikmatan nih," wanita itu berani membelai wajahku, tapi aku langsung menepisnya. "Jangan sentuh aku! Pacarmu marah!" Aku berkata lagi sambil menelan ludah.
"Pacarku? Aku tidak punya pacar loh!"
Aneh, aku merasa aneh dengan jawaban wanita itu. Jelas-jelas ada pria yang berdiri di lorong menuju dapur. Tapi dia tidak melihatnya. Apakah dia sedang berbohong, atau memang hanya aku saja yang bisa melihatnya?
Pria itu maju beberapa langkah, auranya sangat dingin membuatku merinding hebat. Karena merasa bahaya, aku pun memutuskan untuk keluar dari kontrakan wanita itu. Tak ku hiraukan wanita itu memanggilku.
"Mas... Mas ... Tunggu dong! Jangan cari alasan untuk kabur, Mas. Kamu harus tanggung jawab. Mas...!" Wanita itu menyembulkan kepala dari pintu.
"Tanggung jawab apaan! Main aja belum!" Pikirku, masuk ke dalam kontrakan lalu menguncinya rapat-rapat.
Dadaku masih kembang kempis karena terciduk mau ahem-ahem dengan wanita itu. Tapi yang jadi masalahnya, kenapa hanya aku yang bisa melihatnya?!
"Jangan-jangan aku berhalusinasi,"
Aku meraih handuk yang menempel di paku dinding. Ketika membuka pintu toilet, aku terkejut bukan main sampai aku melompat dan terjatuh ke belakang. "Astajim!" Ucapku tak terlalu fasih karena memang aku bukan orang yang ahli ibadah. Tapi aku bisa mengaji.
Napasku kembali memburu melihat penampakan pria yang tadi ada di kontrakan wanita itu, tiba-tiba pindah ke tempatku. Apa dia mau balas dendam hingga mengejarku ke sini? Tapi dia lewat mana? Manusia normal tidak mungkin bisa menembus pintu atau dinding, kan?
"S-siapa kamu!" Aku menunjuk pria itu dengan tangan bergetar.
Pria itu berjalan maju. Penampilannya tidak seram, dia seperti orang biasa, tapi cukup membuatku terkejut karena tiba-tiba saja sudah ada di hadapanku. "Kamu mau maling ya!"
"Maling-maling! Kamu itu yang maling. Beraninya kamu mau ambil kehormatan calon pengantinku!" Pria itu melotot sampai bola matanya keluar dan membesar.
Aku melongo, suaraku tercekat tak bisa keluar. Pria ini pastilah bukan manusia. Jika manusia, mana ada yang matanya keluar dan membesar seperti baseball. Merah, lonjong, berurat, dan panjang.
"A-aku tidak tahu siapa wanita yang kamu maksud!" Aku tergagap dengan tubuh semakin bergetar seperti sedang disetrum. Keringatku bahkan sampai banjir membasahi lantai.
"Wanita tadi yang menjilat es gabus milikmu, dia adalah calon pengantinku!" Ucapnya. Matanya mulai mengecil normal.
"Aku tidak tahu. Dia yang memaksaku. Memangnya kamu ini siapa? Manusia apa siluman?" Tanyaku mulai berani, ya seperti yang aku bilang tadi, wajahnya tidak seram. Dia normal seperti manusia pada umumnya. Pakaiannya... Dia memakai seragam sepak bola. Apakah dia seorang pemain?
Setelah kutanya, pria itu justru menangis tersedu-sedu membuatku semakin bingung. Pria itu memukul-mukul tembok sampai bergetar.
"Waduh, jangan nangis dong! Bisa roboh ini kontrakan! Kontrakan ini bukan milikku," ucapku bingung.
Pria itu tak mau mendengar, malah tangisannya semakin keras. Aku yang kesal akhirnya membuka celana kerja yang masih melekat, lalu membuka celana dalam ku dan ku sumpal langsung ke mulutnya. Tak tahu pria itu akan marah atau tidak, tetapi, jurusku manjur. Pria itu berhenti menangis.
Pria itu melotot ke arahku, lalu melempar CD tahun 1990 itu ke arahku. Karena aku termasuk orang yang gesit, aku pun berhasil menangkapnya sebelum mengenai wajahku yang suci ini.
"Hap, gak kena!" Jawabku, lalu memakainya kembali. Takut kalau masuk angin.
Lelah berdiri, aku dan pria itu duduk di lantai sambil menyandar di tembok. Pria itu akhirnya mulai curhat dari A sampai Z. Dia mengenalkan namanya sebagai, Windu, dan wanita yang tadi bersamaku adalah calon istrinya yang bernama, Junie.
Windu adalah seorang pemain sepak bola. Ketika sedang bertanding, lawan mainnya menendang bola dan mengenai burungnya yang sedang tidur nyenyak di dalam sangkar.
"Aku merasakan sakit luar biasa sampai ke ubun-ubun. Mungkin dua telor burungku yang sudah ku pelihara seperti anak sendiri itu, pecah. Aku di bawa ke rumah sakit dan sampai sekarang koma."
Aku meringis mendengar kisah burungnya dihantam. Ikut ngilu sampai ke ubun-ubun.